Analis: Supergun 1.000 Mil AS secara De Facto termasuk IRBM

JakartaGreater.com – Pengembangan “supergun” berdaya jangkau 1.000 mil oleh AS, yang diklaimnya dapat menjangkau militer China di Laut China Selatan bisa menjadi kedok bagi Rudal Balistik Jarak Menengah (IRBM) anti-kapal, karena senjata semacam itu melanggar Perjanjian Nuklir Jangka Menengah (INF) yang coba ditarik oleh AS, menurut para pakar China, seperti dilansir dari laman Global Times.

Pernyataan para pakar itu muncul setelah Angkatan Darat AS pekan lalu mengklaim sedang mengembangkan “supergun” yang mampu melibatkan kapal-kapal Angkatan Laut Tiongkok di Laut China Selatan dari jarak 1.000 mil atau sekitar 1.610 kilometer jauhnya.

Senjata tersebut dapat “membuka pintu” bagi Angkatan Laut dan Marinir AS di Laut China Selatan jika kapal-kapal Angkatan Laut China menghalangi, menurut Sekretaris Militer AS Mark Esper, yang dilaporkan oleh National Interest pada hari Jumat.

“Kamu ingin berada di luar jangkauan yang bisa mereka balas”, kata Esper, yang mengklaim tentang jangkauan luar biasa yang bisa jangkau oleh “supergun”.

Seorang pakar militer asal Tiongkok yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan kepada Global Times bahwa meriam memiliki jangkauan tidak lebih dari 100 kilometer.

Ilustrasi prajurit menembakkan meriam © Task and Purpose via Twitter

Bahkan railgun elektro-magnetik yang dikembangkan AS memiliki jangkauan tak lebih dari 300 kilometer. Jadi, artileri meriam jarak jauh hingga 1.000 mil, kata Esper, kemungkinan besar adalah rudal jarak jauh, menurut pakar anonim itu.

Seiring kemajuan teknologi, rudal jarak jauh memiliki sedikit perbedaan dengan rudal biasa, dan rudal yang mampu mencapai 1.000 mil dianggap sebagai rudal jarak menengah, dimana itu tekah melanggar Perjanjian INF, kata pakar tersebut.

Inilah sebabnya mengapa AS menyebut senjata itu sebagai meriam, agar dapat terhindar dari perjanjian INF, kata pakar itu kepada Global Times. AS sedang mempertimbangkan menarik diri dari Perjanjian INF pada bulan Februari, menurut laporan The Guardian pada tanggal 16 Januari. Perjanjian antara AS dan Uni Soviet yang melarang rudal dengan jangkauan antara 500 – 5.000 kilometer dari kedua negara.

Sekalipun senjata super itu berhasil dikembangkan, China tidak kalah sama sekali, karena China memiliki senjata seperti rudal DF-26 yang dilaporkan memiliki jangkauan 4.500 km dan dapat mencapai pangkalan Angkatan Laut AS di Guam, Pasifik Barat dan kemampuan rudal serangan udara dengan pesawat tempur juga ada di atas meja, kata para analis.

Para pakar China percaya bahwa seluruh tag “supergun” bisa menjadi kedok bagi AS untuk mengembangkan rudal balistik jarak menengah seperti DF-26 yang mampu menargetkan kapal yang bergerak sambil mengecoh Perjanjian INF.

Wei Dongxu, seorang analis militer yang berbasis di Beijing, mengatakan pada hari Senin bahwa senjata semacam itu dapat menimbulkan ancaman serius bagi kapal perang. Dia juga memperkirakan rudal AS dipasang pada platform mobile di darat, yang membuatnya sulit ditemukan.

Dan berdasarkan aspek lain, masalah Laut China Selatan saat ini sedang dipergunakan oleh Angkatan Darat AS untuk menunjukkan nilai strategis mereka, kata para analis.