Jenderal AS : Rusia Melangkah Cepat dalam Pengembangan Kapal Selam Nuklir dan Rudal Jelajah Presisi

Kapal Selam Borei class Rusia. (Mil.ru)

Rusia melangkah cepat dalam pengembangan kapal selam nuklir dan rudal jelajahnya, kata Pimpinan US European Command (USEUCOM) Jenderal Curtis Scaparrotti kepada Senat Armed Services Committee dalam kesaksian pada hari Selasa.

Menurut Jendral Curtis, Rusia terus memodernisasi kapal selam nuklir dan mengembangkan rudal jalajah presisi. Dari segi Angkatan Laut, Rusia membuat kemajuan pesat dengan kapal selam nuklir Severodvinsk yang baru, kapal selam Kilo yang canggih dan rudal jelajah Kalibr.

Scaparrotti juga mencatat bahwa Rusia memperluas kemampuan anti-access /area-denial (A2 / AD) di wilayah Baltik dan Laut Hitam, yang bisa menimbulkan ancaman terhadap kebebasan pergerakan Angkatan Darat, armada kapal dan pesawat AS.

Sebelumnya Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan pada hari Selasa bahwa Angkatan Laut Rusia akan menerima dua kapal selam nuklir dan satu kapal selam diesel elektrik pada tahun 2019.

Knyaz Vladimir, kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir pertama dari Project 955A (Borei-II class) yang sudah ditingkatkan, akan mulai beroperasi bersama Angkatan Laut Rusia pada tahun 2019.

Selain itu, Rusia juga akan mengembangkan sistem rudal jelajah Kaliber yang berbasis darat pada 2019-2020 sebagai tanggapan atas keputusan AS yang menangguhkan Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) dan rudal hipersonik jarak jauh.

Pada 2 Februari Amerika Serikat mengumumkan penangguhan Perjanjian INF dan membuka waktu selama enam bulan untuk kembali ke perjanjian INF jika Rusia juga kembali mematuhi perjanjian tersebut.

Namun Rusia membantah melanggar perjanjian itu dan menuduh AS melanggar ketentuan perjanjian, dan sebagap balasannya Moskow mengumumkan pada 3 Februari bahwa mereka juga akan menangguhkan kewajibannya sebagai tanggapan terhadap keputusan AS.

Para pejabat Rusia mengatakan keputusan Washington tersebut diambil kemungkinan karena fakta negara-negara lain seperti China telah mengembangkan kemampuan nuklir jarak menengahnya karena tidak terikat oleh Perjanjian INF.

Urdupoint

Sharing

Tinggalkan komentar