Misteri Serangan Kedutaan Besar Korea Utara di Madrid

Donald Trump and Kim Jong-un talking in Capella Hotel, during the Singapore summit © Dan Scavino Jr. via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Sebuah serangan terhadap Kedutaan Besar Korea Utara di Madrid tanggal pada 22 Februari bertepatan dengan KTT Trump-Kim di Hanoi saat ini sedang diselidiki, banyak kecurigaan mengarah bahwa yang melakukan aksi bersenjata tersebut adalah dinas rahasia Amerika Serikat, menurut laman Military Watch.

Orang-orang tak dikenal membobol misi diplomatik Pyongyang, mengikat para diplomat dan menyandera mereka, menyita komputer yang dilaporkan menyimpan data/informasi rahasia pemerintah yang sangat sensitif. Kepolisian Spanyol dan unit intelijen asing dari Pusat Intelijen Nasional (CNI) sedang memeriksa sejumlah kemungkinan yang ada, dan sejumlah sumber melaporkan bahwa agen-agen intelijen AS tidak hanya dicurigai, tetapi bahwa teori ini mendapatkan momentum yang cukup besar.

Dilaporkan bahwa CNI telah menyimpulkan tentang cara yang dipakai untuk menyerang kedutaan Korea utara menyerupai “metode kerja” dari badan intelijen Amerika Serikat, selama melaksanakan operasi rahasia mereka di luar negeri.

AS pada bagiannya mendapatkan manfaat dari mengakses data intelijen kedutaan, yang mungkin tidak dapat dilakukan melalui operasi spionase ataupun serangan siber karena tindakan keamanan tertentu.

Atau, operasi itu bisa dimaksudkan untuk mengirimkan sinyal ke Pyongyang selama KTT bahwa sementara negara itu aman dari serangan langsung AS karena kekuatan militernya dan pencegah nuklir yang kuat, kepentingannya di luar negeri rentan terhadap serangan oleh aparat Amerika yang memiliki proyeksi aset yang luas.

Sementara pelaku serangan tetap tidak bisa pasti dan tetap tidak mungkin dikonfirmasi di masa depan, jika Pyongyang percaya AS menjadi pelakunya, kemungkinan akan memiliki beberapa implikasi bagi hubungan mereka dan melemahkan mencairnya ketegangan yang ada saat ini.

Sharing

Tinggalkan komentar