Afrika Selatan Berhasil Uji Coba Sistem Penyelamat Awak kapal Selam

Afrika Selatan berhasil menguji sistem penyelamat awak kapal selam yang tenggelam. Sistem penyelamat yang disebut tower escape safety system (TESS) memungkinkan bagi dua awak kapal selam untuk keluar bersamaan dari kapal selam yang tenggelam melalui menara anjungan.

Dengan menggunakan pakaian khusus berisi udara yang memungkinkan naiknya secara cepat para awak kapal selam ke permukaan.

Sebelumnya dua awak harus memanjat tangga di menara bagian dalam dan menunggu menara dibanjiri air laut. Setelah itu para awak akan melesat naik ke permukaan dan menara diisi ulang dengan udara yang siap untuk di isi pasangan awak berikutnya.

Pada uji coba tahap pertama sistem penyelamat tersebut mengalami kegagalan. “Kekurangan dalam prosedur penyelamatan dua orang ditemukan selama uji coba menggunakan kapal selam Type 209 Heroine,” kata juru bicara Angkatan Laut Afrika Selatan, Komandan Greyling van den Berg.

“Saat menara banjir, pelaut dibawah dipaksa naik melalui udara dengan pakaiannya yang menyebabkan kedua pelaut terjebak di lubang palka.”

Baru-baru ini Afrika Selatan mengembangkan dan memproduksi sistem penyelamat yang meningkatkan sistem prototipe pertama, dan diuji menggunakan kapal selam Manthatisi.

“Tes berhasil dilakukan dari kedalaman 20 meter. Proyek TESS atau tower escape safety system (TESS) kapal selam, diprakarsai oleh Angkatan Laut Afrika Selatan pada tahun 2009 bekerja sama dengan Armscor, Institute of Maritime Technology (IMT) dan the Council for Scientific and Industrial Research (CSIR).

Sistem baru memiliki sistem rel mekanis khusus di dalam menara, yang menghubungkan bagian atas dan di bawah. Ketika menara mulai banjir, sistem rel kapal selam tetap di posisi tanpa terganggu pakaian yang dipenuhi udara.

Kapal selam nantinya akan melepaskan pelatuk penahan dan pelepas , dan secara otomatis membuka lubang palka diatas menara. Sistem ini berfungsi bahkan jika kapal selam mengalami gangguan sistem kelistrikan.

“Keseluruhan prosedur memakan waktu antara tiga dan sepuluh detik untuk dua awak kapal selam dari kedalaman 10 meter. Siklus penyelamatan diri diulangi sampai seluruh kru melarikan diri, ”katanya.

Lembaga Kesehatan Militer Arfika selatan (SAMHS) Institute for Maritime Medicine terlibat secara luas dalam tahap perencanaan dan memberikan dukungan medis selama pengujian. Ini karena risiko yang diakibatkan dengan kenaikan cepat ke permukaan air, termasuk barotrauma (penyakit dekompresi), hipotermia, dan keracunan karbon monoksida. Para penyelam Angkatan laut Afrika Selatan juga diterjunkan dan membantu rekan-rekan mereka di bawah permukaan saat mereka muncul.

“Diperkirakan sistem TESS pada akhirnya akan dimasukkan pada semua kapal selam Angkatan Laut Afrika Selatan. Keberhasilan penyelesaian sistem oleh calon awak kapal selam akan menjadi persyaratan tambahan untuk kualifikasi.

Uji coba sistem TESS yang sukses memperlihatkan Angkatan Laut Afrika Selatan sangat memperhatikan keselamatan semua anggotanya dengan serius dan berusaha keras untuk memastikan peralatan dapat dioperasikan dengan aman.

Defenceweb

Sharing

Tinggalkan komentar