Gunung Padang untuk Indonesia kepada Dunia

“Pada tahun 2011, situs Gunung Padang tiba-tiba meraih perhatian masyarakat luas. Media massa nasional mulai memberitakan hasil penelitian tim Katastropik Purba. Namun, entah mengapa, perbincangan justru diramaikan dengan kabar tentang adanya “piramida”, “harta”, dan “rongga”.

Gunung Padang mirip Piramida (Blogspot.com)

Asal Mula Nama Gunung Padang

Situs Gunung Padang terletak di Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Keberadaan situs ini sudah dilaporkan peneliti sejak tahun 1914. Sejak 1980-an beberapa penelitian sudah dilakukan dan akhirnya masyarakat dapat berkunjung sebagai wisatawan sejak tahun 1990-an.

Menurut Ahmad Samantho, penulis buku “Peradaban Atlantis Nusantara” bahwa asal usul nama Gunung Padang berasal dari :

– Pa = Tempat
– Da = Besar / Gede / Agung / Raya
– Hyang = Eyang / Moyang / Biyang / Leluhur Agung
Jadi arti kata “Padang” itu adalah Tempat Agung para Leluhur atau boleh jadi maknanya Tempat para Leluhur Agung.

Ada juga berdasarkan bahasa Sunda yaitu kata Padang yang berarti ‘caang’ atau ‘terang benderang. Sedangkan di kutip dari tulisan Haris Sukendar (1985), berdasarkan laporan N. J. Krom tahun 1914 disebutkan : “Di Puncak gunung dekat Goenoeng Melati….”. Jika kalimat pada laporan tercantum seperti itu, ada kemungkinan sampai tahun 1914, gunung yang kini disebut Gunung Padang tidak disebut sebagai Gunung Padang, bahkan mungkin nama tersebut belum dikenal oleh masyarakat setempat. Umumnya peneliti akan memberi nama tempat purbakala atau situs sesuai dengan nama lokasi atau penyebutan yang disampaikan oleh masyarakat.

Pemandangan dari teras kedua situs megalitikum Gunung Padang di Kampung Cimanggu, Cianjur, Jawa Barat, (20/9/2014). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Saat tim dari Pusat Arkeologi Nasional yang terdiri dari Dra. Endang Sukatno, Dra. D. D. Bintarti dan Wasisto melakukan survei tanggal 21-30 Maret 1979, gunung atau lebih tepat disebut bukit ini telah disebut Padang (Bintarti, 1981 : 28). Bintarti yang mengumpulkan cerita masyarakat kemudian menulis asal usul nama Gunung Padang sebagai berikut :

“Konon di tempat ini dahulu akan didirikan istana raja Siliwangi , istana ini harus selesai dibangun dalam satu hari satu malam, tetapi sampai matahari terbit dan ayam berkokok istana belum juga selesai, maka tempat ini selalu diberi nama padang atau siang, maksudnya kesiangan,” (Bintari, 1981 : 28)

Saat menghimpun informasi asal usul nama Gunung Padang, tak dinyana nama-nama lain Gunung Padang disebutkan narasumber. Salah satu nama yang mencuat di perbincangan adalah Gunung Manik Lampegan. Apakah Gunung Manik Lampegan dan Gunung Padang menunjuk pada tempat yang sama?? Nama lain Gunung Padang yang santer terdengar adalah Kraton Singgasana Payung Agung Pembuka Alam, Gunung Pandrang dan Negara Siang Padang. Tidak jelas sejak kapan nama-nama tersebut mulai disebut dan dari mana sumbernya. Arti dari nama-nama tersebut tidak pula dijelaskan dengan panjang lebar, tetapi semuanya mengacu pada kesimpulan bahwa Gunung Padang adalah Ibu PeradabanMungkin penelusuran lebih lanjut akan menghasilkan informasi mengenai arti dan asal-usul nama-nama tersebut.

Tapak Harimau di Bebatuan Gunung Padang (Jalo)

Selain itu sejumlah mitos juga dikatkan dengan situs Gunung Padang seperti :

  1. Jabal Nur yang berada di Mekkah, Arab Saudi,
  2. Eyang Perbuka, tempat untuk bersemedi atau berdoa memohon kepada leluhur. Ini berada di Teras 5 yang merupakan puncak tertinggi di Gunung Padang pada bagian Tenggara terdapat struktur batu.
  3. Eyang Prajisakti, ini berupa batu yg berada di Teras 5 sudut barat daya, bentuknya saat ini sudah tidak terlihat secara jelas. Masyarakat menyatakan tempat ini terkait dengan upaya untuk melahirkan atau menghasilkan sesuatu yang baik.
  4. Dikaitkan dengan peristiwa manusia pertama yakni “Adam dan Hawa”
  5. Singgasana Prabu Siliwangi
  6. Kisah gempa 9 hari 9 malam
  7. Atlantis yang hilang
  8. Dll

 Tim Terpadu Riset Mandiri

Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) atau biasa disebut Tim Terpadu Penelitian Mandiri dibentuk pada awal tahun 2012 untuk menjawab permasalah seputar Gunung Padang. Inisiator tim ini adalah Andi Arief, Staff khusus Presiden RI bidang Sosial dan Bencana untuk menindaklanjuti hasil riset Tim Katastropik Purba. Untuk penelitinya ada beberapa peneliti, yang masing-masing membentuk tim kecil  seperti :

  • Dr. Ali Akbar seorang peneliti prasejarah dari Universitas Indonesia, yang memimpin penelitian bidang arkeologi.
  • Hokky Situngkir, Fisikawan dan ahl kompleksitas yang tertarik kaitan antara musik dan batu di Gunung Padang. Bersama tim ia juga mencoba melihat konstelasi perbintangan yang terekam dalam tata letak batu di teras-teras Gunung Padang.
  • Dr. Andri Subandrio, petograf ITB ini mencoba mencari penjelasan mengenai bentuk-bentuk lubang atau lekukan pada permukaan batu seperti halnya motif kujang dan tapak harimau. Salah satu analisis yang sedang dilakukan adalah analisis batuan di laboratorium. Perlu diketahui, cabang ilmu geologi yang memperlajari proses pembentukan, ciri-ciri kimia dan fisika batuan disebut Petrologi (Zaim, 1997 : 21).
  • Dr. Fajar Lubis, ahli Geohidrologi ini lulusan ITB dan beliau meneliti seluruh mata air yang terdapat di Gunung Padang seperti temperatur air, daya hantar air, salinitas atau sifat kimia fisik, dll.
  • Dr. Y. Paonganan, tokoh dunia maritim Indonesia.
  • Dr. Undang Darsa, Filolog dari Universitas Padjajaran yang meneliti naskah-naskah kuno terkait Gunung Padang.
  • Dr. Lily Tjahyandari, yang meneliti sosial budaya masyarakat setempat.
  • Para ahli bioekologi IPB seperti Dr. Syaiful Anwar, Dr. Iwan, dll.
  • Pon Purajatnika, M.Sc, memimpin penelitian bidang arsitektur dan kewilayahan.
  • Dr. Budianto Ontowirjo memimpin penelitian sipil struktur.
  • Dr. Andang Bachtiar seorang pakar paleosedimentologi, memimpin penelitian pada lapisan-lapisan sedimen di Gunung Padang.
  • dan masih banyak peneliti lainnya.

Kendala-kendala yg dihadapi adalah tidak adanya dana, keterbatasan sarana dan prasarana, dan lokasi penelitian yang cukup jauh dari tempat tinggal peneliti.  Menariknya seluruh pembiayaan penelitian dilakukan secara swadaya para anggota peneliti.

blank
Ilustrasi situs Gunung Padang

Indonesia : Pusat Peradaban Dunia ?

Tim Katastropik Purba dibentuk untuk meneliti berbagai bencana alam berkategori katastropik yang terjadi di masa lalu, sejauh yang bisa dikenali dari peninggalan-peninggalan alam dan catatan sejarah. Tim ini juga dibentuk oleh  Andi Arief, Staff khusus Presiden RI bidang Sosial dan Bencana. Pada akhir tahun 2011, Tim Katastropik Purba melakuka penelitian di Gunung padang menggunakan metode geologi dengan teknik geolistrik dan georadar. Sebelumnya, tim ini menggunakan citra satelit untuk mengamati situs arkeologi tersebut.

Situs Gunung Padang dari sudut pandang ilmu kebumian terletak di daerah rawan bencana karena dasar berada pada sesar Cimandiri yang dapat menimbulkan gempa bumi. Tim katastropik Purba melakukan pengeboran di situs Gunung Padang untuk memperoleh sampel-sampel yang dapat dibawa ke laboratorium agar dapat diketahui atau di analisa usia situs ini.

Kemudian pada tahun 2012, dilakukan uji carbon dating (C14) di Laboratorium Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dengan metoda LSC C14 berdasarkan material paleosil pada kedalaman -3,5 meter pada lokasi bor coring 1 Gunung Padang. Hasilnya, diketahui usia material menunjukan berusia 4.700 sebelum masehi (SM). Hasil ini tidak dipercayai oleh berbagai kalangan, karena masalah peralatan yang dibilang masih ketinggalan.

Selanjutnya, dilakukan pengujian di Laboratorium Beta Analytic Miami. Hasilnya sangat mengejutkan, umur lapisan dari kedalaman sekitar 5-12 meter pada bor 2 mencapai 14.500-25.000 SM. Sontak, beberapa media asing pun memberitakan hasil uji laboratorium ini dan enarik perhatian dunia. Perlu diketahui, jika benar maka sampel Gunung Padang ini lebih tua dibandingkan Piramida Giza, Mesir yg berumur sekitar 2.500 SM. Akhirnya, banyak negara asing pun ingin ikut terlibat dalam kegiatan eskavasi ini.

By : Jalo

Keterlibatan TNI

Jika kita ke Gunung Padang, kita akan melihat sejumlah anggota TNI berada disana. Kehadiran mereka menimbulkan pro-kontra berbagai kalangan, ada yang menilai kehadiran prajurit menimbulkan hal negatif, lantaran metode TNI yang melakukan penggalian dianggap tak sesuai prosedur. Seperti quote berita dari media detik.com ini.

“Dari awal terlibat dalam eskavasi Situs Cagar Budaya Megalitikum Gunung Padang, TNI sudah menunjukkan niat baik dengan melibatkan sejumlah anggotanya. Namun ternyata itu saja tidak cukup. Harus diimbangi dengan pemahaman teknis pekerjaan yang dilakukan agar tidak menimbulkan hal-hal yang kontroversi, tidak produktif, bahkan bisa mengarah ke fitnah,” ujar pengamat kepolisian dan militer Aqua Dwipayana hari ini Senin (15/9/2014)

blank
Situs Gunung Padang, Ekskavasi Ditengah Kontroversi – Liputan6.com Dua petugas yang tergabung dalam Tim Nasional Penelitian Situs Gunung Padang membersihkan batuan hasil ekskavasi, Cianjur, Jawa Barat, (20/9/2014). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Sementara menurut Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, kehadiran angoatanya untuk membantu kegiatan percepatan pemugaran situs Gunung Padang. Situs bangunan Gunung Padang adalah aset negara yang sangat penting untuk revitalisasi sejarah dan jati diri bangsa, juga kemungkinan mengandung warisan berharga lainnya. Oleh karena itu, kata dia, layak untuk dijadikan aset vital strategis.

blank
Situs Gunung Padang Punya Helipad – Liputan6.com Sebuah helipad dibangun di salah satu sisi Gunung Padang di Kampung Cimanggu, Cianjur, (20/9/2014). (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Sejumlah infrastruktur juga dibangun salah satunya Helipad. Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) Cianjur, Letnan Kolonel TNI Infanteri Moch Andi Prihantono  menuturkan, pembangunan helipad itu nantinya diperuntukkan bagi para pejabat yang hendak datang menggunakan helikopter. Bukan dikhususkan untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saja.

“Justru kalau beliau (Presiden) kami belum dapat informasinya mau datang. Tapi pembuatan helipad untuk memudahkan pejabat yang datang ke Gunung Padang?,” kata Andi di Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (20/9/2014), seperti dikutp dari situs berita Liputan6.com.

Bersambung……

 

Sumber : Buku Situs Gunung Padang “Misteri dan Arkeologi” karya Dr. Ali Akbar, sejumlah Blog, Media nasional, dan lain-lain….

 

Sharing

Tinggalkan komentar