Aksi Terjun Bebas Pasukan Brigif PR 3 Kostrad

Maros, Sulsel,  Jakartagreater.com –   Aksi terjun payung (Free Fall) sebanyak 32 prajurit Brigif Para Raider 3 Kostrad dari satuan Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad) menjadi tontonan dan hiburan bagi masyarakat Carangki Tanralili, Kabupaten Maros Sulsel, pada Minggu 28-7-2019.

Kegiatan ini digelar selama 14 hari mulai tanggal 17 s.d. 30 Juli 2019 dalam rangka Pemeliharaan Kemampuan Tri Wulan ke III 2019, hal tersebut mendapat perhatian dari masyarakat yang hadir. Terlihat ratusan warga berbondong-bondong datang dan berkumpul di tanah lapang Dusun Bira untuk melihat dari dekat aksi para penerjun yang menghibur penonton yang hadir.

Para peterjun dari Brigif Para Raider 3 Kostrad tersebut diterjunkan dari ketinggian 9.000 Feet dan menggunakan CASA 212 milik Penerbad dengan Pilot Kapten Cpn Adhitya. 32 prajurit dari Brigif Para Raider 3 Kostrad yang melakukan aksi terjun Free Fall tersebut mengunakan payung jenis Sabre Talon, M10 dan M9, dibawah pimpinan Letnan Satu Inf Andi Muh. Sulthan Yusuf Pasi Pam Brigif Para Raider 3 Kostrad.

Komandan Brigade Infanteri (Danbrigif) Para Raider 3 Kostrad, Letnan Kolonel Inf Susilo,S.Sos saat ditemui disela-sela meninjau latihan terjun tersebut mengatakan bahwa kemampuan Terjun Bebas Militer (TBM) atau Military Free Fall ini merupakan salah satu kemampuan prajurit Brigif Para Raider 3 Kostrad yang digunakan dalam aplikasi infiltrasi ke suatu daerah dalam misi tertentu.

“Pada pelaksanaan sebenarnya peterjun menggunakan Full Combat Gear yang dirancang untuk mampu diterjunkan baik dengan metode Haho (High Altitude High Opening) maupun Halo (High Altitude Low Opening) guna menghindari pendeteksian musuh,” ungkap Danbrigif Para Raider 3 Kostrad, Letnan Kolonel Inf Susilo.

“Dengan demikian, pasukan yang infiltrasi melalui udara akan mampu menciptakan efek pendadakan luar biasa bagi lawan dalam pelaksanaan suatu operasi khusus.

“Selain itu dengan kemampuan ketepatan mendarat, para peterjun juga mampu ditugaskan untuk menginfiltrasikan ke suatu daerah tertentu yang tidak dapat dicapai dengan alat angkut darat serta tidak memenuhi persyaratan sebagai landing zone bagi alat angkut udara,” pungkas Danbrigif Para Raider 3 Kostrad, Letnan Kolonel Inf Susiloa. (Penkostrad)

Tinggalkan komentar