Hizbullah - Israel Bertukar Tembakan di Perbatasan - JakartaGreater

Hizbullah – Israel Bertukar Tembakan di Perbatasan

dok. Petempur Hizbullah dengan roket Katyusha. (commons.wilimedia.org)

Beirut, Jakartagreater.com  – Hizbullah Libanon dan pasukan Israel saling bertukar serangan, pada Minggu 1-9-2019, di garis yang memisahkan kedua negara, yang dikenal sebagai Garis Biru untuk warna helm pasukan penjaga perdamaian PBB yang berpatroli di sana.

Hizbullah menghantam kendaraan lapis baja Israel, yang diparkir di barak militer di dekat pemukiman Yahudi Afifim, dengan Rudal anti-tank. Sebagai tanggapan, Artileri Israel menembaki wilayah Libanon Selatan selama lebih dari dua jam, dirilis TASS pada 2-9-2019.

Menurut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pasukan Israel meluncurkan lebih dari 100 Rudal yang menargetkan daerah dari mana Rudal Lebanon berasal. Menurut Netanyahu, tidak ada prajurit Israel yang terluka. Namun TV Al Hadath menayangkan rekaman Helikopter Israel membawa tentara yang terluka ke rumah sakit di Haifa.

Blue Line (Lebanon) From Wikipedia, the free encyclopedia.

Dalam pidatonya kepada para pendukungnya pada hari Sabtu 31-8-2019, Pimpinan Hizbullah Hassan Nasrallah mengatakan para pejuangnya sedang bersiap untuk membalas serangan pesawat tak berawak Israel baru-baru ini di Beirut dan daerah lain.

“Israel mengambil langkah-langkah agresif melawan pasukan perlawanan di Libanon, Suriah dan Irak, dan kami tidak bisa membiarkan mereka tidak dijawab,” katanya. Sebelum itu, Nasrallah bersumpah bahwa milisinya akan membalas serangan Israel terhadap pangkalannya di dekat ibukota Suriah Damaskus, yang dihantam oleh beberapa Rudal di malam 25 Agustus 2019.

Segera setelah insiden itu, Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri mengadakan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo dan penasihat Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk memberi tahu mereka tentang perkembangan berbahaya di perbatasan Israel-Lebanon, ungkap media Al-Watania melaporkan mengutip layanan pers perdana menteri.

“Kepala pemerintah mendesak Washington dan Paris, serta masyarakat internasional, untuk campur tangan dan mencegah eskalasi militer,” kata badan itu. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya akan bereaksi terhadap perkembangan di perbatasan Lebanon tergantung pada bagaimana peristiwa itu terjadi.

“Kami akan memutuskan tentang tindakan di masa depan di perbatasan dengan Libanon tergantung pada bagaimana situasi terungkap,” media Arab mengutip pernyataan perdana menteri. “Kami akan siap untuk kejutan apa pun.”

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Israel dan Libanon untuk menahan diri secara maksimum, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicaranya Stephane Dujarric. “Sekretaris Jenderal sangat prihatin dengan insiden di Jalur Biru,” kata pernyataan itu.

“Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan pengekangan maksimum dan mendesak semua yang terkait untuk menghentikan semua kegiatan yang melanggar resolusi 1701 dan membahayakan penghentian permusuhan.”

Liga Arab mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa masyarakat internasional memikul tanggung jawab untuk menahan Israel, yang selanjutnya dapat meningkatkan ketegangan perbatasan dengan Lebanon untuk mendapatkan keuntungan politik sebelum pemilihan di negara itu.

“Komunitas global harus membatasi tindakan Israel, yang dapat mendorong situasi ke arah eskalasi lebih lanjut untuk mencapai tujuan pra-pemilihannya,” kata badan pan-Arab yang berbasis di Kairo dalam sebuah pernyataan.

Tinggalkan komentar