Menunggu Dua Tahun untuk Bisa Berlatih Menerbangkan Typhoon

Jet tempur Eurofighter Typhoon (foto : Wikipedia)

Pilot pesawat tempur Angkatan Udara Inggris (RAF) harus menunggu dua tahun untuk bisa melakukan pelatihan jet tempur, tulis sebuah laporan dari National Audit Office (NAO). Keterlambatan pelatihan itu diduga karena Pemerintah Inggris mengalihkan dana anggaran yang sebelumnya diperuntukkan pelatihan penerbangan, lansir Telegraph.

Laporan NAO mengatakan waktu yang dibutuhkan untuk melatih awak pesawat menjadi molor lebih lama dari harapan Kementerian Pertahanan, dan memperkirakan Military Flying Training System tidak akan sepenuhnya dapat memenuhi persyaratan hingga tahun 2023.

Pada bulan Juli 2019, ada 145 siswa RAF menunggu rata-rata 90 minggu untuk memulai pelatihan, dibandingkan dengan yang diharapkan 12 minggu untuk sekitar 26 siswa pada suatu waktu.

Ditemukan dalam enam tahun hingga 2018-2019, Kementerian Pertahanan gagal memenuhi kebutuhan pelatihannya rata-rata 45 persen, sama dengan kekurangan 125 awak kapal dalam setahun.

Pilot jet tempur bernasib lebih buruk lagi dengan waktu pelatihan empat tahun lebih lama menjadi lebih tujuh tahun, atau 83 persen lebih lama. Sedangkan pelatihan pilot multi-mesin dan helikopter – masing-masing membutuhkan waktu sekitar empat setengah tahun dan lima tahun – keduanya membutuhkan waktu 73 persen lebih lama dari yang dibutuhkan.

Menurut ahli Pertahanan masalah ini berasal dari keputusan pemerintah dalam Strategic Defence and Security Review (SDSR) tahun 2010 untuk memangkas jumlah pesawat militer garis depan.

Akibatnya, pelatihan, fasilitas dan peralatan seperti simulator tidak dipertahankan atau diganti.

Dalam pembalikan kebijakan yang diumumkan pada SDSR 2015, pemerintah berkomitmen untuk menurunkan dua skuadron tempur Typhoon baru, menggantinya dengan pengadaan pesawat patroli maritim pemburu kapal selam dan mengedepankan program jet tempur siluman F-35.

Sharing

Tinggalkan komentar