Haruskah Amerika Serikat Takut dengan J-10 Tiongkok?

Jet tempur ringan Chengdu J-10 China (foto : Da Lin)

Disaat para pengamat dirgantara lebih memusatkan perhatiannya pada pesawat tempur siluman J-20 yang baru, angkatan udara Tiongkok terus meningkatkan dan membangun lebih banyak salinan dari pesawat tempur yang hanya sedikit kurang canggih, yakni J-10.

Sama seperti Angkatan Udara AS yang memiliki campuran pesawat tempur siluman dan pesawat tempur konvensional, angkatan udara Tiongkok sedang mengembangkan armada tempur kelas dua. Bersamaan dengan beberapa J-20 yang anti radar, Beijing memperoleh ratusan J-10 yang lebih konvensional.

Bermesin tunggal dan satu kursi, J-10 buatan Chengdu Aircraft Industry Group, pertama kali terbang pada tahun 1998 dan memasuki layanan garis depan pada tahun 2003. J-10 bersayap delta dengan sayap canard didepan. J-10 secara eksternal mirip dengan jet tempur Lavi Israel yang sudah mati, meskipun tidak ada bukti bahwa Beijing sengaja menyalin desain Israel.

Dalam kinerja dan misi, J-10 supersonik mirip dengan F-16 Angkatan Udara AS dengan kemampuan melakukan misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat.

Laporan tahunan Pentagon edisi 2018 tentang kemampuan militer Tiongkok menggambarkan varian J-10C terbaru sebagai “pesawat tempur generasi keempat yang dipersenjatai dengan senjata terbaru.”

Pada akhir 2017, Angkatan Udara Tiongkok memiliki sekitar 260 J-10, menurut survei tahunan Flight Global tentang senjata udara dunia. J-10 merupakan 15 persen dari pesawat tempur Tiongkok dan hampir setengah dari sekitar 600 pesawat tempur China pada tahun 2018, oleh Departemen Pertahanan AS dianggap sebagai jet tempur modern.

Armada J-10 yang terus tumbuh, sibuk dengan latihan dan patroli kedaulatan udara. Pada musim gugur 2018, pesawat J-10 terbang berdampingan dengan pesawat perang Cina lainnya dalam permainan perang yang oleh angkatan udara Tiongkok disebut sebagai “langkah solid menuju kemampuan tempur komprehensif.”

Pada bulan Juli 2017, J-10 bersenjata rudal menempel ketat sebuah pesawat pengintai Angkatan Laut AS EP-3 terbang di wilayah udara internasional di atas Laut Cina Timur. Pejabat Amerika Serikat menyebut penerbangan J-10 itu sebagai “tidak aman.”

Beijing terus meningkatkan J-10 bahkan ketika mengembangkan J-20 dan tipe jet tempur baru lainnya. Pada pertunjukan udara dua tahunan di Zhuhai pada awal November 2018, J-10B yang dilengkapi dengan mesin dengan nozel-vektoring menunjukkan kemampuan manuver yang ekstrem.

Model J-10C yang baru dilaporkan memasuki layanan garis depan pada tahun 2018, menggunakan inlet engine baru yang tampaknya mengurangi jejak radar. J-10C mungkin juga memiliki radar AESA yang lebih kuat dan andal daripada radar sensor konvensional.

Meskipun China meningkatkan pasukan tempurnya dengan cepat, terhitung masih lebih kecil dan kurang modern daripada saingan utamanya Amerika Serikat.

Pada tahun 2018, militer AS memiliki tidak kurang dari 2.800 jet tempur termasuk lebih dari 900 F-16 dan ratusan pesawat tempur siluman F-22 dan F-35.

Global village

Sharing

Tinggalkan komentar