Tanggapan Pasar atas Kabinet Kerja Jokowi

Presiden Jokowi umumkan kabinet di istana Merdera (Reuters/ Darren Whiteside).

Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan sedikit menguat pada perdagangan Senin (27/10/2014) menyusul pengumuman susunan Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla pada Minggu (26/10/2014) petang. Namun, ada figur dalam kabinet yang dinilai membuat pasar tak akan begitu bersemangat merespons.

Setelah aksi beli, IHSG diproyeksikan sedikit turun pada akhir sesi pertama pada siang hari, dan ditutup menguat pada sesi kedua. IHSG diprediksikan berada di level 5.090, menguat dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada Jumat (24/10/2014) yang mencatatkan level 5.073,06.

“Perdagangan Senin ada potensi positif karena akhirnya diumumkan juga kabinetnya sehingga tidak perlu berlarut-larut tarik-ulur lagi. Pasar sudah lega. Ada potensi positif, namun tidak besar. Kalau global melemah, agak susah,” kata Lana Soelistianingsih, ekonom Samuel Asset Management, kepada Kompas.com, Minggu malam.

Pada sisi lain, rupiah diperkirakan masih belum akan menguat sekalipun kabinet sudah diumumkan. Antisipasi atas kebijakan The Fed membuat dollar AS menguat. Perbaikan nilai tukar mata uang Garuda kemungkinan bakal menunggu realisasi kenaikan harga bahan bakar minyak.

Adapun susunan kabinet secara umum, kata Lana, dapat diterima pasar. Nama-nama seperti Bambang Brodjonegoro, Rachmat Gobel, pun Rini Mariani Soemarno sudah cukup dikenal pasar.

“Kejutan” bernama Puan

Akan tetapi, Lana melihat, pasar sedikit “terganggu” dengan adanya nama Puan Maharani yang bahkan menempati pos Kementerian Koordinator. “Mbok ya di fraksi saja. Ini kan seperti diada-adain”.

Kehadiran Puan di kabinet, kata Lana, mau tak mau membuat orang berpikir tentang akomodasi kepentingan partai. “Kan sebetulnya (Puan) bisa jagain dari DPR. Saya kira tidak akan terlalu direspons pasar juga, paling cuma ketawa-ketawa aja,” ujar dia.

Lana mengaku cukup terkejut dengan masuknya nama Puan Maharani, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dalam susunan Kabinet Kerja. Meski pos kementerian yang diduduki Puan tidak berkaitan langsung dengan pasar, tetapi hal ini mengindikasikan bahwa keputusan Presiden Joko Widodo tidak 100 persen bebas kepentingan politik.

Hal yang sama juga dapat dilihat pada pos Kementerian Tenaga Kerja yang diduduki kembali oleh politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Joko Widodo menunjuk Hanif Dhakiri, menggantikan posisi Muhamin Iskandar (PKB).

“Kalau saya ajak Mbak untuk makan siang, benar-benar free lunch. Tapi kalau ini saya kira no free lunch di Kabinet Kerja, he-he-he,” seloroh Lana, memberi gambaran soal komposisi kabinet dengan profil perwakilan partai itu.

Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), bahkan menyebut Puan sebagai pemecah rekor, yaitu sebagai menteri koordinator termuda. “Selama ini menko selalu senior, tiba-tiba yang terpilih Mbak Puan,” ujar dia.

Respons pasar tak akan spektakuler

Tanpa bermaksud meragukan kapabilitas Puan, Enny mengatakan, sosok seorang menko diharapkan memiliki kemampuan leadership yang kuat sekaligus memiliki konsep yang bisa memadukan kementerian yang dinaungi.

“Sejauh ini kiprahnya Mbak Puan di politik tentang pembangunan sumber daya manusia, capacity building, kok kami tidak merekam (jejaknya) ya,” ujar Enny. Lebih lanjut dia memastikan bahwa pasar memang fokus pada orang-orang yang akan duduk di kementerian ekonomi, seperti Kementerian Keuangan.

Namun, sambung Enny, pasar juga tidak akan menutup mata dengan keseluruhan struktur Kabinet Kerja. “Jadi, seperti (kasus Puan) ini memang yang membuat kenapa ekspektasi pasar nanti (Senin) tidak banyak menanggapi positif karena terlalu dipaksakan. Walaupun sudah dibacakan track record-nya oleh Pak Jokowi, tapi sebagian besar rekam jejak yang dibacakan hanya gathuk-mathuk,” tandas Enny.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan merupakan kementerian koordinator baru. Tak seperti ketika memanggil nama-nama menteri lainnya—dengan gestur tenang—Presiden Joko Widodo berkali-kali menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan ketika menyebut nama Puan Maharani sebagai pengampu kementerian ini.

Joko Widodo menunggu cukup lama—sekitar 8 detik—sebelum kemudian membacakan rekam jejak Puan. “Kita tahu semuanya Ibu Puan adalah politisi perempuan yang kaya pengalaman dan telah membuktikan diri sebagai panglima, panglima politik dalam Pemilu 2014, dan berpengalaman dalam kegiatan sosial, terutama kegiatan sosial untuk rakyat kecil,” tutur dia. (KOMPAS.com).

Sharing

Tinggalkan komentar