Indonesia Pertahankan Partisipasinya dalam Program KF-X

Mockup KF-X saat jalani tes terowongan angin (foto : KAI)

114 insinyur dari perusahaan penerbangan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tetap terlibat dalam proyek untuk mengembangkan pesawat tempur generasi lima Korea eXperimental (KF-X) dengan Korea Selatan, lansir Defense24.

Obligasi yang menghubungkan PTDI dan Korea Aerospace Industries (KAI) adalah salah satu topik pembicaraan selama ADEX 2019 (Seoul International Aerospace and Depence Expposition). Ditekankan bahwa hubungan antara Korea dan Indonesia tetap kuat, bahkan meski Seoul dan Jakarta belum mencapai kesepakatan penuh mengenai kontribusi Indonesia terhadap program tersebut nantinya.

Sejauh ini, hanya diketahui bahwa karyawan yang didelegasikan untuk bekerja pada KF-X atas nama PTDI bekerja tidak hanya pada desain pesawat, tetapi juga pada rekayasa proses produksi. Perusahaan Indonesia berharap bahwa keterlibatan para insinyur dalam program ini akan berkontribusi pada pengembangan jangka panjang perusahaan dan memperkuat kemampuannya untuk menerapkan kompetensi yang diperoleh saat bekerja pada platformnya sendiri.

Perwakilan PTDI dan KAI tidak secara langsung mengomentari pembicaraan di tingkat pemerintah yang seharusnya memungkinkan untuk mencapai konsensus setelah pihak berwenang di Jakarta pada Oktober 2018 memutuskan karena kesulitan anggaran, Indonesia ingin menegosiasikan kembali pengaturan pembiayaan yang disepakati pada 2015 mengenai partisipasinya dalam anggaran program KF-X.

Awalnya diharapkan negosiasi ulang akan selesai dalam satu tahun, tetapi akan berlanjut hingga hari ini. Meskipun ada kontroversi yang terus-menerus terkait dengan komitmen keuangan negara terhadap program KF-X, Indonesia tetap memiliki keinginan untuk berpartisipasi di dalamnya dan bermaksud untuk menghormati komitmennya untuk menutupi 20% dari total biaya pengembangan pesawat, yang diperkirakan sekitar US$ 8 miliar. Struktur saham adalah untuk berubah. Ini setara dengan kontribusi yang akan diberikan KAI dan Pemerintah Korea Selatan akan membayar sisanya.

KF-X adalah program yang dijalankan oleh Korea Aerospace Industries, yang bertujuan untuk memperoleh pesawat tempur untuk mendukung pesawat F-35 yang dibeli oleh Korea Selatan dan mengganti pesawat KF-16.

Lockheed Martin juga ikut ambil bagian dalam pekerjaan dengan menyediakan pengetahuan dan beberapa teknologi yang diperlukan untuk pekerjaan konseptual dan desain pada mesin. Namun, masalahnya adalah transfer radar AESA yang digunakan dalam F-35, yang merupakan salah satu syarat untuk akuisisi pesawat siluman Amerika oleh Korea Selatan.

Menurut Korea Times, pemerintah AS telah memblokir transfer elemen ini. Dalam situasi ini, KF-X akan dilengkapi dengan radar AESA yang sepenuhnya dibangun di Korea Selatan. Saat ini, program pembangunan radar untuk KF-X sudah “sangat maju” dan radar itu sendiri siap di lebih dari 85%, dan tes praktisnya akan dimulai tahun depan.

KF-X akan menjadi pesawat tempur bermesin ganda, yang masuk dalam kelompok “generasi 4+” yang akan terus dikembangkan hingga akan menjadi pesawat tempur generasi ke-5.

Prototipe akan dibangun pada April 2021, sedangkan seri pertama dari pesawat tempur akan diterima Angkatan Udara Korea Selatan pada tahun 2026. Namun, para ahli menekankan bahwa perkiraan periode percobaan yang hanya empat tahun untuk prototipe sebuah pesawat tempur adalah terlalu ambisius, karena biasanya pabrikan dirgantara Barat memutuhkan waktu antara 5-8 tahun.

Sharing

25 pemikiran pada “Indonesia Pertahankan Partisipasinya dalam Program KF-X”

  1. Jaman Sekarang ” TEKNOLOGI SANGAT PENTING “…Negara Kalau sudah menguasai IPTEK…Akan Disegani Dunia….Apalagi IPTEK PERTAHANAN….CONTOH IRAN…Mana ada yg Berani..Musuh Paling Berkoar Koar Diluar saja , Gak Bakalan Berani Masuk….Sudah Tahu Indonesia itu Negara MACAN…Masih Mau juga Taringnya Dicopotin Satu satu….Siapa yg Nyopotin Taring itu…ya BIOKRASI yg RIBET

    • Ini yg aku suka, optimis,,,,lha kalau emang patner pengembangan maksa harus wajib ambil 50 unit padahal jelas tidak spesifikasi tidak sesuai keinginan TNI AU karena ditengah pengembangan spesifikasinya dibatasin us mending indonesia jalan sendiri, niat kita baik loh masih mau ikut meski ilmu rancang bangunnya sudah kita dapat’ wajarlah kalau indonesia nawar share nya menjadi 24 unit atau 32 unit karena emang gk sesuai dengan spesifikasi TNI AU, moso di paksa2 harus 50 unit.

      • Bhuahahaa si toagato nongol,,,siapa bilang gk mampu??? Ya namanya awal belajar tempo dulu ya wajar belum tp setelah belajar sudah mampu, bicara tot lg ente’ tot apa yg didapat dr rancang bangun kfx/ifx wong ngembangi rancang bangunnya bersama kok, ente tong cukup mengahapal doang dan gk bakal bisa melihat suatu problem yg tanpa publikasi,,,ini bukan masalah mahal atau murah, tp emang spesifikasinya gk sesuai ame keinginan TNI AU.

    • Insinyur kita masih belum mampu. Buat rancang bangun pesawat seperti N-250 dan N-2130 aja Indonesia harus belajar ngerakit CN-212 dan CN 235 dulu selama puluhan tahun. Itu aja karena kerja keras dan link yg dimiliki oleh almarhum B.J. Habibie.

      Coba dipikir dulu, sparepart apa aja yg udah bisa dibikin oleh Indonesia baru bicara rancang bangun pespur. ToT itu mahal Dhek. Makanya beruntung Indonesia dapat pengalaman pengembangan dari awal hingga akhir suatu pespur generasi 4,5. India aja buat Tejas yg masih generasi keenam aja udah ngos-ngosan, termasuk Pakistan juga.

        • Pertanyaannya Gampang, selain N219 pesawat apalagi yg udah diciptakan oleh insinyur PT DI setelah N250?? Adakah pengembangan fundamental yg udah dicapai oleh PTDI ?? Ingat, sejak jaman SBY PT DI udah kembali pulih seperti sebelum jaman Krismon.

      • agato, cn235 itu pngembangan bersama Nurtanio(skrg PT DI) dan Casa Spanyol jd bkn cmn rakit doang. Dulu klo ga krismon gara2 IMF, IPTN mgkn jg udh bs ngembangin N250, N2130 & N…next generations mgkn boeing-737 ga bkl laku di Indo krn mending beli buatan sndri. Dan jg PT DI udah sering jd supplier komponen airbus https://www.google.com/amp/s/bisnis.tempo.co/amp/1176080/airbus-hentikan-produksi-a380-ini-kata-pt-dirgantara-indonesia
        jd memang korsel selangkah lbh maju ilmu pesawatny krn udah bs bikin pespur tp jgn terlalu overrated, jg jgn terlalu underestimate ilmu pesawat Indo krn tdk trlalu jauh tertinggalny. Korsel dgn posisiny sbg sekutu ASu tentuny bs dgn mudah dpt ilmu/beli lisensi pespur AS (misal F16) jg dbntu pngembangan pesawat latih golden eagle beda dgn Indo yg nonblok bkn sekutu ASu smua hrs cari sndri atw mlalui pihak ke3 (sprti korsel dll). Itupun tdk full krn AS tdk akan rela ngasih ilmu ke Indo yg bkn sekutunya. Sbnrny klo IPTN ga di”bangkrutkan” sm IMF meski bljr atw pngmbangan sndri, mgkn ilmu pesawat Indo jauh diatas korsel saat ini yg notabene sekutu ASu.

        • Ya, jawab aja pertanyaan ane seperti yg ane tanyaain ke si Tungkir diatas. Sejak N-250, capaian fundamental apa yg udah dilakukan oleh insinyur PTDI ??? Kenyataan PTDI belum punya tunnel penguji segala cuaca seperti yg dimiliki oleh Korsel sedikit menunjukkan seberapa jauh progres yg udah dicapai PTDI. Mereka hanya membuat pesawat dan helikopter yg memang sudah diuji oleh Airbus. Tidak kuran dan tidak lebih.

  2. Masalah intinya bukan itu, tp korsel maksa indonesia harus ngambil 50 unit meski spesifikasinya tidak sesuai keinginan TNI AU karena korsel kagak mai nombok oleh sebab itu korsel cari patner tambahan agar tidak nombok dan kena audit intern korsel,,,bertele tele pakai jurus bla bla bla, orang2 yg bener2 simak pengembangan kfx/ifx ini pasti tau kok masalah yg sebenarnya jd gk perlu lg di tutup2in pt.di dengan alasan keuangan atau apalah, kita menghargai korsel dan us tp apa mereka mau ngerti keiinginan kita’ gk ada jaman now ini main paksa2 dan tekan2, kalau maim paksa2 dan tekan2 kita jg boleh kasar terhadap negara tersebut.

      • Makanya baca itu bukan sekedar baca dan menghapal mana teknologi yg terkini,,,tau kagak ente tong di 2015 – 2017 us mencapuri dan mengawasi spesifikasi pengembangan kfx/ifx ini dan salah satu yg jelas kita ketahui/dipublikasikan hanya boleh di titik gen 4.5 dan yg pembatasan lainnya adalah daya jelajahnya tidak boleh lebih dr f35, alasan us membatasin spesifikasi pengembangan kfx/ifx ini agar tidak menyaingin produk pespur us termaksud f35,,elehhhh ente2 hoby bela2 otak kotor us, kasih ilmu yg hanya rancang bangun doang tp membatasi spesifikasinya lalu maksa2 harus beli banyak2 prodak us trus membatasin indonesia untuk pembelian prodak rusia, terlalu kecil bagiku tuk membaca akal2an us meski pun tanpa publikasi seutuhnya.

    • hadeuuh udh bayar 20% maunya ini itu,nunggak lagi, msh sempet”nya blg ga spesifikasi, bsa buat aj blom, liat N219 ga lbh bagus dri N250 yg dikeluarkan thn 1998..
      kita harus liat realitisnya, pikir secara objective, bhwa kita masih belajar untuk membuat pespur..
      klu dana emg terbatas krna buat proyek pindah ibu kota ratusan triliun

        • Saat sebuah perusahan membangun sebuah produk komersil yg diliat itu peluang pasarnya dulu bukan mau keren2an, keren tp peluang pasarnya penuh persaingan ya siap2 gulung tikar,,,nah produk N219 peluang pasarnya besar untuk daerah2 terpencil atau kepulauan karena hanya sedikit perusahan penerbangan yg membangun pesawat N219 yg artinya persaingan sangat longgar dan pasti menguntungkan oleh sebab itulah pt.di membangun N219,,,ente belajar dulu baru komentar ye tong.

      • N219 khusus utk pnerbangan perintis atau antar pulau yg notabene gada saingannya (Fokker50 udah bngkrut soalnya) jd bs lbh laku dipasaran tentuny dgn pngurangan fitur2 cangguh supaya lbh murah hrgnya. jd beda dgn N250(50-70org) yg dulu sbnrnya sdh ada next proyek N2130 dgn kpasitas yg lbh besar (100-130org) namun krn di”bangkrutin” IMF Industri Dirgantara Indo lgsg hncur, bngkit lg dgn nm PT DI tp tentuny hrs realistis, klo ngembangin yg sama udh kalah saing blm tentu laku pula (krn ada boeing&airbus). Jd sekali lg, ilmu pesawat Indo ga trlalu ketinggalan jauh kok sm korsel yg notabene sekutu ASu, bs dpt lisensi atw dbntu pngembangan pesawatnya. Beda dgn Indo, sklipun ngemis2 blm tentu dikasih lisensi atw dbntu pngmbngan pespurnya krn kita nonblok, kecuali klo kita mau ky Singapura jd sekutu ASu di Asean.

        • Jadi sekutu Rusia atau China juga belum tentu dikasih ijin buat pespur terbaru dan terbaik. Liat aja program FGFA/PAKFA 50 India yg dikolongin ama Rusia. Atau program C 702 kita yg gak ada kabarnya ampe sekarang.

    • @raden situngkin, masalah radius lebih kepada geografis negara korsel yg tdk begitu luas dan menekan ongkos biaya berbeda dgn indonesia yg membutuhkan radius tempur yg luas sesuai dgn geografis nya dgn mesin twin engine karena lebih aman, di dlm negri korea juga terjadi beda pendapat tapi keinginan ROKAF sama dgn keinginan TNI-AU.
      Soal cuma sampai gen 4.5 kan masih bs di kembangkan sampai blok-3 yg memiliki weapon bay gen-5, sesuai kesepakatan indonesia hanya sampai blok-1 dan mengembangkan fighternya sendiri.

      http://blogfiles.naver.net/20150625_270/jhst3103_1435223083398Yn26y_JPEG/%BA%ED%B7%CF1.jpg

      https://defence.pk/pdf/proxy.php?image=http%3A%2F%2Flivedoor.blogimg.jp%2Frakukan%2Fimgs%2F7%2F9%2F79c265bb.jpg&hash=73f57d44dd464ed5812dcd498440daff

      https://defence.pk/pdf/proxy.php?image=https%3A%2F%2Ff.ptcdn.info%2F411%2F058%2F000%2Fpb8rff1pducP3wGwc6T-o.jpg&hash=3513ef0b0317950dd55d741b1bdd727a

    • @ Tungkir. KFX udah pake dua engine, udah lebih lebar dari F-16 dan bawaan senjata yg banyak. Malah varian IFX bisa air refueling seperti kebanyakan pespur milik TNI AU dan itu udah mengakomodir permintaan mereka. jangkauan bisa sampai 4500 km. Kalo full bawa senjata mungkin radius tempurnya bisa sampai 1500-2000 km. Itu jelas lebih dari cukup. Jadi orang banyak yg bersyukur KIr jangan kebanyakan ngegerutu aja. hhhhhhhhh

  3. Kalau misal dana utk pengembangan KFX/IFX itu dipakai buat ngembangin sendiri pesawat tempur dengan “dukungan penuh” dan konsisten dari pemerintah, yakin itu bisa kebangun. Percaya sama kemampuan insinyur2 pesawat PT. DI yang pastinya udah lama berkutat di dunia perpesawatan n sekalian anaknya (Alm.) Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie dilibatin klo perlu.

Tinggalkan komentar