F-21 dan MiG-35 Menjadi Pilihan Favorit India?

New Delhi, Jakartagreater.com – India dan pemerintah AS menandatangani perjanjian Industry Security Annex pada hari Kamis lalu, yang menjadikan kontes untuk tender jet tempur Angkatan Udara India senilai US$ 15 miliar menjadi lebih menarik, lansir Sputnik.

Penandatanganan perjanjian ISA menjadi salah satu “perjanjian mendasar” paling kritis yang semakin memuluskan jalan bagi Boeing dan Lockheed Martin untuk bersaing dalam tender yang akan datang, dimana keduanya akan mengandalkan pesawat tempur F / A-18E / F dan F-21, kata mantan pemimpin skuadron Angkatan Udara India (IAF) dan Analis Pertahanan terkemuka Vijainder K. Thakur.

Menteri Pertahanan India Rajnath Singh juga menyatakan harapan bahwa penandatanganan ISA akan memungkinkan kelancaran transfer teknologi dan informasi rahasia antara perusahaan swasta di kedua negara.

Industry Security Annex (ISA) dianggap sebagai perjanjian penting bagi negara mana pun yang ingin menerima teknologi pertahanan canggih dari AS.

Karena IAF sedang mencari pengganti jet tempur ringan-menengah MiG-21, MiG-23, dan MiG-27, pemerintah diharapkan mengisi kekosongan yang bisa di isi pesawat tempur terbaik.

Beberapa analis menaruh perhatian pada Rafale. Mereka menganggap bahwa produsen jet Prancis Dassault dapat menurunkan harga penawarannya dalam tender 114 pesawat tempur karena sebelumnya pernah memenangkan tender untuk 36 Rafale.

Namun demikian, Oktober ini, Komandan Angkatan Udara India Marshal Rakesh Bhadauria telah mengecilkan argumen ini, mengatakan bahwa untuk memasok lebih banyak pesawat tempur Rafale, Dassault harus memenangkan tender.

“Rencana kami adalah membangun 114 multi-role fighter aircraft (MRFA) dalam model Strategic Partner (SP) dan yang saat ini sedang berjalan,” kata Bhadauria.

Mantan penasihat keuangan untuk Kementerian Pertahanan India Amit Cowshish mengatakan, India bisa belajar dari pengalaman sebelumnya, “Kali ini ada kemungkinan lebih dari satu pesawat yang akan memenuhi persyaratan, yang menyiratkan bahwa pilihan mungkin tidak terbatas pada pesawat tempur AS”.

Cowshish telah melakukan puluhan kesepakatan pertahanan selama dekade terakhir.

Sebagian besar analis India yakin bahwa masalah pembiayaan akan memainkan faktor yang paling penting dalam pemilihan, mengingat kekurangan dana yang besar untuk modernisasi IAF.

Pada 2019-20, berakhir Maret 2020, IAF menerima hampir US$ 5,1 miliar anggaran untuk modernisasi yang mencakup US$ 3,5 miliar untuk pesawat dan mesin pesawat.

Dengan keadaan ekonomi India saat ini, anggaran dapat turun atau tetap stagnan pada tahun depan.

“Tentu saja, akan ada persaingan ketat di antara berbagai produsen dalam menawarkan transfer teknologi, tidak terkecuali karena besarnya pesanan. Tetapi ini mungkin bukan faktor penentu; saya kira bahwa, terlepas dari pertimbangan strategis, keuangan akan memainkan peran penting dalam proses pengambilan keputusan,” kata mantan penasihat keuangan Cowshish.

Mempertimbangkan biaya dan persyaratan IAF, Analis Pertahanan Vijainder K Thakur mengatakan: “F-21 dan MiG-35 akan menjadi favorit panas. Desain keduanya dari vintage yang serupa. MiG-35 mungkin memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar, tetapi biaya jangka panjang F-21 cenderung lebih murah. ”

IAF memiliki tiga pilihan untuk pesawat tempur siluman. Pertama, program pesawat tempur siluman PAK FA yang ditinggalkan dengan Rusia, di mana India telah berinvestasi dalam fase awal proyek yang dikenal sebagai pesawat tempur generasi kelima; kedua, program Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) buatan sendiri dan ketiga, jet siluman F-35 Amerika.

Selain menawarkan F-21 di bawah program Make in India, Lockheed Martin telah menyebutkan di masa lalu, bahwa pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan India pada program AMCA, serta Light Combat Aircraft, dan MK2.

Saat ini, Washington mengekspor F-35 ke sekutunya dengan harga sekitar US$ 90 juta per badan pesawat.

New Delhi harus tetap rasional sambil memilih jet tempur untuk menggantikan MiG-21, MiG-23, MiG-27 light and medium fighters, tambahnya.

Selain itu, Kepala IAF Bhadauria telah membebani proyek Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) buatan India sejak ia mengambil alih kendali 140.000 pasukan Angkatan Udara.

“Hanya karena kita menyebut AMCA generasi kelima, bukan berarti kita membatasi teknologi untuk generasi kelima, dan teknologi bisa menjadi generasi kelima dan bahkan keenam … DRDO harus mewujudkannya. Karena bukan hanya kebanggaan kita yang dipertaruhkan tetapi IAF,” kata Kepala IAF Bhadauria ketika berbicara dengan para ilmuwan pertahanan DRDO di New Delhi pada bulan Oktober.

Mempertimbangkan catatan DRDO di masa lalu dalam mengembangkan produk yang ditanam di dalam negeri, analis pertahanan berpendapat bahwa AMCA masih butuh beberapa tahun lagi.

0 Shares

4 pemikiran pada “F-21 dan MiG-35 Menjadi Pilihan Favorit India?”

  1. Kapan ya Indonesia juga beli Greepen E/F dengan proses ToT nya. Kalo bisa kan Indonesia bisa punya 2 opsi. Beli JF-17 dengan jeroan dipasang sama dengan Greepen E/F atau F/A 50 Korsel dengan jeroan yang kurang strong di ganti dengan jeroan Greepen E/F. Asal jangan TEJAS aja. Itu seperti perpur kelas ringan/latih lanjut yang dipaksakan menjadi pespur kelas menengah

Tinggalkan komentar