Sayap Udara Kapal Induk Shandong Tiongkok

Kapal induk pertama Tiongkok, Shandong, secara resmi mulai beroperasi minggu lalu, menjadikan China sebagai salah satu dari sedikit negara yang memiliki lebih dari satu kapal induk.

Meskipun Cina jauh di belakang AS dalam hal kemampuan operasional, Shandong – bersama dengan kapal induk kembarnya, Liaoning – menandai batu loncatan penting dalam hal pengembangan angkatan laut dan dapat meningkatkan kemampuan misi ekspedisi di luar negeri Tiongkok di masa depan, lansir SCMP.

Menurut sebuah artikel yang diterbitkan oleh Chinese Society of Naval Architects and Marine Engineers, Shandong akan di kawal oleh sayap-sayap udaranya seperti J-15 ‘Flying Shark’ dan helikopter anti kapal selam Z-18F.

Pesawat tempur J-15

Jet tempur J-15

Shenyang J-15, juga dikenal sebagai Flying Shark, adalah pesawat tempur generasi keempat berbasis-kapal induk yang dikembangkan bersama oleh 601 institut angkatan laut Tiongkok dan Shenyang Aircraft Corporation. Dikembangkan dari model sebelumnya, J-11B, dengan elemen yang diambil dari pesawat tempur superioritas Sukhoi Su-33 Rusia.
J-15, dengan berat lepas landas maksimum 33 ton, adalah jet tempur berbasis kapal induk terberat di dunia dan satu-satunya yang tersedia untuk PLA Navy saat ini.
Bobotnya yang berat adalah salah satu alasan utama para pemimpin militer Tiongkok mendorong penggunaan sistem peluncuran pesawat elektromagnetik – daripada sistem steam-powered catapults – pada kapal induk ketiga China yang saat ini sedang dibangun.

J-15 menjadi sayap tempur utama kapal induk, dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara jarak menengah PL-12 dan rudal jarak dekat PL-8, J-15 siap menghadang dan merontokkan pesawat musuh yang mendekat dan membahayakan armada kapal induk.

Helikopter Z-18 (foto : Military Today)

Helikopter transportasi Z-18

Z-18 adalah helikopter transportasi militer generasi baru. Dikembangkan oleh Changhe Aircraft Industry Corporation dan dilaporkan menggunakan basic dari helikopter Avicopter AC313 sipil. Yang terakhir ini dikembangkan dari model sebelumnya, Harbin Z-8 yang merupakan versi China dari Aerospatiale Prancis Super Frelon.

Varian maritim adalah Z-18F “Sea Eagle” dan akan mampu melakukan misi perang anti-kapal selam dipersenjatai dengan torpedo ringan Yu-7K, serta misi perang anti-permukaan menggunakan rudal anti-kapal YJ-9. Beberapa varian juga siap untuk misi peringatan dini dan pengintaian.

blank
Helikopter Karnov KA-31 (foto : Wikipedia)

Helikopter KA-31
Kamov Ka-31, juga dinamai Helix oleh NATO, adalah helikopter yang awalnya dikembangkan untuk Angkatan Laut Soviet, dan sekarang digunakan oleh militer Rusia, Cina, dan India.

Salah satu fitur visual khas dari Ka-31 adalah antena radar rotating-warning yang besar, yang dapat dilipat dan disimpan di bawah badan pesawat.

Fitur khas leinnya adalah adalah pengurangan sensor suite elektro-optik yang besar di bawah kokpit. Roda pendaratan juga digeser ke belakang untuk mencegah interferensi dengan radar helikopter.

blank
Helikopter Harbin Z-9 (foto : Wikipedia)

Helikopter Z-9C

Z-9, diproduksi oleh Harbin Aircraft Manufacturing Corporation, adalah helikopter utilitas militer Tiongkok dengan varian sipil. Z-9 pertama terbang pada tahun 1981, dan dibangun di Cina dari komponen yang dipasok oleh pabrik aerospace Perancis Aérospatiale sebagai bagian dari paten produksi yang dibeli tahun sebelumnya.

Setelah bertahun-tahun pengembangan, versi angkatan laut yang dikenal sebagai Z-9C diperkenalkan pada tahun 1990. Selain tugas pencarian dan penyelamatan dan perang anti-kapal selam, Z-9C dapat dilengkapi dengan radar pencarian permukaan X-band KLC-1. radar untuk mendeteksi target permukaan di luar jangkauan sistem radar yang dimiliki kapal induk.

Sharing

2 pemikiran pada “Sayap Udara Kapal Induk Shandong Tiongkok”

Tinggalkan komentar