Indonesia Inginkan Kapal Patroli Lepas Pantai Baru

Jakartagreater.com – Indonesia telah memulai proses pengadaan kapal patroli lepas pantai class baru. Kapal akan mengisi kesenjangan operasional yang dirasakan antara kapal patroli Angkatan Laut Indonesia, dan kapal perang permukaan yang lebih besar, lansir Jane’s.

Angkatan Laut Indonesia (TNI-AL) sedang mengajukan proposal prakualifikasi dari grup pembuat kapal terpilih untuk program akuisisi offshore patrol vessel (OPV) baru.

Menurut dokumen resmi yang diberikan kepada Jane oleh sumber industri pada 8 Januari, program itu akan bernilai sekitar Rp1,09 triliun (US$79 juta), dan dana untuk akuisisi akan diambil dari alokasi anggaran nasional Indonesia untuk pertahanan pada tahun 2020-2022.

Dokumen-dokumen tidak memberikan spesifikasi teknis yang diperlukan atau berapa kapal yang akan dibeli, tetapi Jane melaporkan pada bulan Desember 2019 bahwa TNI-AL telah meminta setidaknya anggaran senilai US$340 juta untuk empat kapal class baru.

0 Shares

32 pemikiran pada “Indonesia Inginkan Kapal Patroli Lepas Pantai Baru”

  1. Saran buat kapal patroli itu jangan tanggung, sekalian yang berbobot dan dng persenjataan yg mumpuni, misalnya dilengkapi persenjataan meriam cal 76 mm super rapid gun berada di bagian tengah, samping kiri dan kanan dilengkapi 2 peluncur RBU 6000, dibelakang juga dilengkapi oerlikon milennium 56 mm, dibelakang kiri dan kanan, dilengkapi 2 peluncur RBU 6000, depan dan belakang kapal dilengkapi decoy launcher, dilengkapi peluncur rudal mistral/star trek utk depan dan belakang kapal, dilengkapi 2 peluncur torpedo ringan cal 300 mm, dilengkapi radar 3D, sonar, peluncur drone yg dipersenjatai, cadangan 7 drone yg dipersenjatai, dengan ruang persediaan yg dapat menampung 40 unit rudal RBS, peluncur rudal RBS dibagian belakang kapal.

    • Ya namanya kapal perang kan punya fungsi dan peranya masing-masing, ada radius jelajah yang ditentukan, kecepatan dan lain sebagainya, kalo ditinjau dari aspek teknis kapal patroli berdasarkan International Institute for Strategic Studies on Military Balance Section Warship Classification, Kapal Patroli (OPV) ukurannya 80-90 meter, itu pun biasanya punya displasemen <=(dibaca kurang dari atau sama dengan) 1500 ton (hasil perkalian L-Panjang x B-Lebar x T-Sarat/tinggi badan kapal yang tercelup x 1.025- massa jenis air laut), daya jelajah 1000-2000 NM, sementara untuk persenjataan bisa dari naval gun ukuran 57-76mm, ada peluncur rudal dari permukaan ke udara dan memiliki dek pendarat helikopter, sekaligus dapat menampung Rigid Hull Inflatable Boat.

      Tentu saja, otomatis dengan berkaca dari dimensi yang ditentukan ya ga bisa besar, tapi setidkanya ini bisa mengisi warfare capability gap antara KCR dan Korvet dimana nantinya (sangat dimungkinan terjadi) perubahan klasifikasi Kapal Perang TNI AL akan dilakukan, atas pertimbangan displasemen kapal.

      • Ya, kan semuanya berjalan secara bertahap, ga mungkin semua pukul rata harus jalan, fokus ditahun ini apa yang perlu intensif, mereka ya punya daftar prioritisasi alutsista apa yang perlu didalami penguasaan teknologi, rekayasa rancang bangunnya, teknologi untuk mengoperasikannya, entah alatnya (kapal, pesawat, ranpur, radar) atau perlengkapannya (amunisi, rudal).

        Lagipula untuk produksi peralatan tempur saja, Indonesia masih belum menjelajah banyak domain, baru reformasi ini aja BUMN Hankam baru digenjot, coba waktu awal-awal berdiri, cuma sekadar ada, itupun kalo berproduksi, kalaupun berproduksi apa efisien? Syukur-syukur kalo menguntungkan dan produksinya berkelanjutan.

        Sekarang saja BUMN pembuat peralatan tempur saja masih jauh dari untung. PAL, Pindad, Dirgantara Indonesia, yang sebegitu royalnya dibingkai oleh media dengan gambaran yang wah, itu saja masih merugi.

        • Kita butuh revolusi dalam berfikir saat ini, kalau masih konvensional spt yg sudah2 dan sekarang ya bakalan spt ini terus, harusnya parsial serempak masalahnya jujur harus diakui kita tidak sungguh2 untuk mau bisa buat rudal, kalau memang niat tentulah segala upaya dilakukan

          • Setuju bang, selain reformasi berpikir dan pola pikir, aktualisasi juga perlu, kalau pandangan saya, sebenarnya sudah sungguh-sungguh, buktinya beberapa waktu kemarin, baik dari lapan, kemenhan dan institusi pemerintah lainnya sudah melakukan pengujian terkait, cuma ya gitu kelemahan kementerian/lembaga kita, kurang tertata rapi dalam mensounding gagasan atau upaya yang akan dilakukan.

            Selain itu, kenapa untuk rudal saja tidak tersampaikan dengan jelas, karena keterbukaan informasi hingga peta jalan menuju kemandirian alutsista sendiri belum dibuat, baru sekarang ini lagi disusun untuk roadmap industrialisasi alutsista dalam negeri, rencananya akan selesai tahun.

    • Yang saya tahu secara umum….OPV adalah kapal patroli Jarang jauh ..
      Fungsi nya adalah untuk patroli lepas pantai …pengawalan ..pengintaian laut .. SAR ..Dan untuk infiltrasi pasukan tempur.
      Senjata nya ringan ..dan sifat nya Bela diri serangan Missile..helicopter …droneand pesawat tempur..
      Maka nya Ada Bofors 57 mm …Cannon 20/30 mm ..RCWS atau semi manual ..plus chaffs ..
      Bisa di install Missile anti kapal maupun anti pesawat jarak dekat seperti mistral dll…
      Tidak perlu di install dengan torpedo dan rocket ..Karena bisa membingungkan pengamat nya.
      Korvet parchim …petya ..koni . dan tarantul tidak bisa jadi OPV Karena senjata nya terlalu lengkap dan berat ..too deadly ..

  2. Kenapa OPV?
    Faktanya:
    1. Parchim kita dengan keaadannya saat ini lebih pantas di sebut “OPV plus RBU” ketimbang Korvet
    2. Kelas Korvet terbukti tidak ditakuti oleh negara2 asing. Fakta: Coast Guard Vietnam berani menabrak KRI Tjiptadi-381 atau yang terjadi kemarin saat issue dengan Cina.

    Dengan fakta ini apa keuntungannya membeli OPV selain masalah harga?

  3. Van Speijk Class kita saja yg 5 unit itu digunakan untuk patroli tapi armory nya jangan dilepas tambahkan CIWS depan belakang supaya punya daya gentar dah lumayan dan tempatkan di hotspot laut Natuna Utara semua untuk kawal nelayan2 kita cari ikan supaya tidak diusir ditabrak nelayan cina dan vietnam. Sayang kalau kapal2 tangguh tsb dibesi tuakan kecuali kita memang senang beli pengadaan barang baru walau spek senjata tidak jelas dan tidak menakutkan negara2 sekitar kawasan yang punya kebiasaan maling

    • Van Speijk Class Kapal tahun 60-an mau dijadikan daya gentar?
      Bisa nguber dan manuver ekstrem dengan cepat ga? Efisien ga?

      CIWS? Diponegoro class yg th-2000an aja ga punya apalagi ini….

      Yg benar, Buat Coast Guard perbanyak Tanjung Datu Class dan perbanyak Martadinata Class serta beli kapal kelas Freegat atau Destroyer full armament

      • Dhek Marpuah, selambat-lambatnya Van speijk masih bisa ngejar kapal nelayan. Tapi memang benar Indonesia khususnya Bakamla butuh kapal gede minimal ukuran Iver lah.

        Nah kalo buat kekuatan angkatan laut ya Iver full armament itu baru pas, kalo perlu banyakin aja rudal AAWnya. Rudal jelajah kalo bisa dipasang di Pespur aja atau KCR.

        • Yakin, Coba anda pikirkan dan verifikasi kembali? Tanya dong biaya operasinya berapa sekali jalan antara kapal sejenis yg tua dan muda. Efisien ga? Belum lagi daya gentar, memangnya Kapal Cina takut di tongkrongi dengan alutsista (bukan manusianya) kapal tua macam Parchim atau Van Speijk? Fakta? Coast Gaurd Vietnam saja berani menabrak Parchim. CG harusnya bermain2 dengan CG bukan dgn navy fleet…

          Kasihan awak atau krunya mereka well trained dan profesional tetapi menjadi tidak maximal dengan alutsista yg harusnya sdh pensiun. Tolong perhatikan regenerasi KRI bukan sesuatu yg bisa ditawar2 lagi..

      • Kan yang dibahas kapal patroli, tugas kapal patroli adalah meronda, keliling jaga keamanan teritori, kalau ada yang mencurigakan bisa mampu lakukan penindakan pencegahan sembari laporan ke markas, dia mampu mencegah, membela diri dan mengeksekusi ancaman, namanya juga memaksimalkan asset karena asset kita masih jauh dari jumlah memadai. Sebagai pembanding Bakamla nya Amerika di wilayah Alaska yg berbatasan dengan kutub dan Rusia masih gunakan fregat2 tua thn 60 an Oliver Hazard Perry Class yg terkenal tangguh, senjatanya meriam utama didepan, ciws phalanx didepan dan dibelakang, rudal pertahanan udara jarak pendek, dan beberapa rudal permukaan, torpedo lambung serta helikopter sebiji itu seusia dgn Van Speijk penting kapalnya masih mampu berlayar dan kuat

  4. Kalau dari perspektif Saya, lebih baik OPV ini nanti bisa untuk ocean-going, kemudian dari segi persenjataan bisa dibongkar pasang seperti konsep desain dan konstruksi STANFLEX Denmark yang diterapkan di Iver Huitfledt, supaya fleksibilitasan operasi kapal saat melaksanakan operasi anti kapal selam/kapal permukaan/pesawat tempur dengan mudah dapat digonta-ganti sesuai kebutuhan operasi, TNI AL tinggal mencadangkan ruangan dengan crane yang dapat mengangkut pod persenjataan tersebut untuk ditaruh di ruangan pada bagian konstruksi kapal OPV.

  5. Indonesia perlu puluhan destroyer ringan, dan raturan real fregat, ribuan kapal cepat rudal dan torpedo, kapal patroli dng bobot 8000 ton, panjang 170 meter, seluruh kapal dilengkapi 2 unit peluncur RBU 6000 dibagian depan, 2 unit dibagian belakang, 1 meriam super rapid di depan cal 76 mm, dan meriam oerlikon milenium cal 30 mm, dibagian depan dibagian belakang 1 unit meriam oerlikon milenium cal 30 mm, 4 unit senapan mesin sistem remote yg dilengkapi camera dng penglihatan malam, infra red, cal 12,5 mm, peluncur drone yg dipersenjatai, dibagian belakang kapal dilengkapi 2 unit peluncur RBU 6000,bagian depan dan belakang kapal dilengkapi decoy launcher, dilengkapi mini kapal selam yg dipersenjatai rudal dan torpedo minimal 300 mm, membangun ratusan kapal selam dng bobot bervariasi 3000 ton, 2000 ton, 1300 ton, dan 1000 ton, serta kapal selam mini dng bobot minimal 800 ton yg dipersenjatai 10 unit torpedo minal 300 mm, dan peluncur roket dng jangkauan 80 km, serta yg dapat memasang ranjau laut, kemudian mengadakan 18 skuadron pesawat tempur minimal FA 50, 17 skuadron F16 blok 52i, 4 skuadron Su 35, 9 skuadron F15, 5 skuadron super Tucano, 10 skuadron Mig 35, 3 skuadron Su 33, 8 skuadron Su 34, 8 skuadron pesawat tangker, 80 unit kapal tangker, 25 unit LPD yg dipersenjatai 1 unit meriam super rapid 76 mm, 1 unit meriam oerlikon milenium cal 30 mm,2 unit oerlikon meriam oerlikon milenium cal 30 mm, 8 unit peluncur rudal star trek, 6 unit peluncur RBU 6000, 2000 unit kapal pendarat personil dng daya tampung per kapal 30 org, yg dipersenjatai meriam cal 20 mm, di haluan depan, 2 unit meriam cal 12,5 mm, di belakang samping kiri dan kanan, juga dipersenjatai peluncur roket dng 20 tabung dng jangkauan 50 km.

  6. Indonesia juga memerlukan puluhan ribu peluncur rudal dan rudal yang kelasnya dan jangkauan melebihi MLRS Astros, ratusan ribu RPG, ratusan ribu peluncur rudal anti tank, ratusan ribu peluncur rudal anti pesawat dan anti drone serta anti helikopter.

Tinggalkan komentar