Kapal Induk Baru, Sudahkah Tiongkok Mencapai Tingkatan ‘Blue Water Navy’?

Jakartagreater,com – Kapal induk Tiongkok buatan dalam negerinya, Shandong (Type 002), baru saja ditugaskan ke dalam armada. Pengembangan, konstruksi, dan penerimaannya ke dalam Angkatan laut berlangsung dengan sangat cepat – kapal induk itu baru diluncurkan pada awal 2017 dengan uji coba laut dimulai pada Mei 2018, lansir The Diplomat.

Shandong mengirim pesan tidak hanya kepada kekuatan-kekuatan regional yang mencoba memeriksa rencana China untuk melakukan hegemoni di dalam wilayah sengketa sembilan garis Laut Cina Selatan, tetapi juga ke kekuatan global yang lebih besar. Secara khusus, ini adalah lonceng peringatan bagi Amerika Serikat, yang semakin khawatir bahwa laju pembangunan kapal perang Cina dan pengembangan teknologi militer akan mengurangi dominasi militernya dan memungkinkan tumbuhnya sikap tegas Cina untuk berekspansi ke wilayah India-Pasifik yang lebih luas tanpa kendala.

Banyak analis angkatan laut dengan cemas bertanya: Apakah ini akan menjadi masalah? Atau apakah kapal induk baru China hanya macan kertas? pernyataan yang mengesankan secara visual yang tidak akan banyak berpengaruh untuk menantang Amerika Serikat dan keunggulan Barat dalam penerbangan kapal induk dan operasinya.

Angkatan Laut Tiongkok (PLAN) Telah Belajar Cepat

Desain Shandong berasal dari Kuznetsov class era Soviet, khususnya Varyag yang dibeli sebagai hulk class pada tahun 1995, yang kemudian diselesaikan dan dipasang kembali dan digunakan sebagai Liaoning (Type 001) pada 2012. Liaoning tidak pernah dimaksudkan untuk memasuki operasional Angkatan Laut melainkan akan dijadikan kapal evaluasi, yang menurut PLAN dari desain itu akan dibuat lebih maju dan berkembang.

Shandong mencerminkan etos yang berbeda pada operasi kapal induk antara desainer Rusia-Kuznetsov class dan kapal induk baru Tiongkok. Desain Rusia menjadikan kapal induk sebagai penjelajah rudal dengan sayap udara kecil yang memberikan pertahanan udara pada armada lautnya. Konsep Cina meniru gagasan Barat tentang kapal induk dengan sayap udara sebagai komponen tempur utama.

Pendekatan yang berbeda ini tercermin dari cara Liaoning diadaptasi dan dikembangkan dari desain aslinya, silo rudal anti-kapal dihilangkan dan diganti dengan penyimpanan bahan bakar dan senjata. Shandong juga memasukkan penyempurnaan signifikan dan halus yang menunjukkan misinya sebagai kapal induk serang – misalnya, sudut lompatan ski telah diturunkan dari 14 derajat di Liaoning menjadi 12 derajat, sudut yang dioptimalkan untuk pesawat tempur J-15 Shenyang yang menjadi sayap udaranya. Perubahan besar lainnya termasuk desain anjungan dan komando kontrol yang lebih kecil dan menggesernya yang dapat digunakan untuk delapan tambahan pesawat lagi. Shandong juga memiliki dek kedua yang memisahkan anjungan dan ruang operasi penerbangan serta peningkatan pada fitur radar Active Electronically Scaned Arays (AESA) dengan radar S-band Tipe 346A yang kuat.

Jadi, dengan berat hampir 70.000 ton pada muatan penuh, panjang 315 meter dan dengan lebar 76 meter, kapal induk baru ini bukan hanya sekadar peningkatan dari Liaoning yang sebelumnya disuarakan oleh banyak analis militer.

Namun desain dan operasional kapal induk Shandong memperlihatkan ada beberapa kekurangan kritis yang dapat membatasi potensi kapal saat terlibat di masa depan menghadapi pesaing dari AS atau bahkan Inggris dengan kapal induk Queen Elizabeth baru dan Princes of Wales.

Shandong menggunakan sistem Short-Take-Off Barrier-Arrested Recovery (STOBAR) untuk meluncurkan dan mendaratkan pesawatnya. Seperti kapal induk Inggris, Shandong memiliki jalur ski yang besar untuk membantu take-off. PLAN berniat untuk mengoperasikan pesawat tempur Shenyang J-15 (salinan Sukhoi Su-33 Rusia) dan akan menjadi pesaing dalam pertempuran udara-ke-udara dengan jet tempur Barat. Namun meski Cina telah menyempurnakan desain Rusia dengan senjata, radar, dan avionik buatan Cina yang unggul, J-15 masih memiliki keterbatasan parah dan merupakan pesawat yang bermasalah – J-15 memiliki sistem kontrol penerbangan yang tidak stabil, kurang bertenaga, dan memiliki bobot yang terlalu berat. Faktor yang berarti hanya dapat membawa muatan bahan bakar dan senjata yang terbatas. J-15 hanya dapat membawa muatan senjata yang sangat ringan atau harus melakukan pengisian bahan bakar udara-ke-udara, situasi yang membuat pesawat tersebut berada pada posisi yang tidak menguntungkan dibandingkan pesawat tempur Barat seperti F / A-18, Lockheed F-35C, dan Dassault Rafale. Menyusul sejumlah kecelakaan fatal, pesawat itu di grounded selama tiga bulan dan media China menyebut pesawat itu sebagai “ikan yang jatuh.”

Sebaliknya, kapal induk nuklir Angkatan Laut AS menggunakan sistem peluncuran Catapult Assist Take-Off But Arrested Recovery (CATOBAR), yang membuat jet tempur mampu membawa muatan berat saat lepas landas.

Sedangkan kapal induk Queens Elizabeth meski menggunakan sistem STOBAR, namun di desain secara khusus dan dioptimalkan untuk pengoperasian F- 35B (STOVL) dan secara teori setidaknya dapat dikonversi ke sistem CATOBAR di masa depan.

Shandong digerakkan oleh mesin berbahan bakar minyak, yang membatasi daya tahannya dibandingkan dengan kapal induk Amerika Serikat yang lebih besar, yang membuat kapal induk AS dapat mengoperasikan sistem senjata masa depan Electro Magnetic Air Launch System (EMALS), atau yang lebih penting dapat dilengkapi dengan sistem senjata laser di masa depan, yang akan diperlukan untuk mempertahankan kapal dari ancaman rudal balistik dan rudal anti-kapal hipersonik.

Dibandingkan dengan sayap udara yang dibawa kapal induk Barat , apa yang dibawa oleh Shandong sangat kecil, terbatas hanya 36 unit J-15. Dibandingkan dengan 60 pesawat pada kapal induk Nimitz class atau 48 pesawat di kapal induk Queens Elizabeth.

Ketika variasi peran seperti peperangan elektronik J-15D dimasukkan dalam komplemen sayap udara, pesawat yang tersedia untuk peran serang semakin berkurang. Jalur ski memanjang melintasi seluruh landasan kapal, yang membatasi penyimpanan pesawat di bagian depan.

Secara keseluruhan, desain geladak penerbangan dari Shandong membatasi manajemen pesawat, yang memengaruhi tingkat operasional serangan harian yang dapat dicapai, yang mungkin jauh lebih sedikit daripada yang dapat dilakukan kapal induk AS dan Inggris.

Kesenjangan kemampuan yang signifikan lainnya ada pada kurangnya kemampuan sistem peringatan dini udara (AEW). Tanpa sistem CATOBAR, kemampuan AEW terbatas pada pengawasan dari helikopter seperti Changhe Aircraft Corporation (CAIC) Z-18J dan helikopter Kamov KA-31. Sistem ini memberikan kemampuan deteksi over-the-horizon yang jauh lebih sedikit daripada yang bisa dilakukan pesawat E-3D Amerika Serikat.

Kelemahan pengoperasian pesawat utama Shandong menunjukkan kurangnya apresiasi terhadap desain dan kesatuan operasi yang diperlukan antara kapal induk dan komponen udaranya, yang masing-masing telah dirancang secara terpisah dan kemudian baru diadaptasikan.

Ada kemungkinan J-15 dapat digantikan oleh pesawat tempur generasi kelima Shenyang J-31 Gyrfalcon di masa depan, sebuah pesawat yang ukurannya sebanding dengan F-35 dan karenanya dianggap cocok untuk operasi kapal induk. Namun, sebuah laporan di South China Morning Post menyatakan bahwa Komisi Militer Pusat, badan senior pembuat keputusan China, lebih suka mengadopsi Chengdu J-20 daripada J-31. J-20 Mighty Dragon adalah pesawat tempur yang besar dan berat, yang masih memiliki kelemahan pada msin buatan China atau kemampuan silumannya yang belum mampu menandingi teknologi Barat.

Sharing

3 pemikiran pada “Kapal Induk Baru, Sudahkah Tiongkok Mencapai Tingkatan ‘Blue Water Navy’?”

  1. intinya seperti masih prematur tapi cina sudah berani dan berniat memulai membuat dan mengoperasikan, beberapa dekade yang akan datang masalah2 ini pasti sudah bisa diatasi sama cina, karena mereka benar2 learning by doing ndak cuma no action talk only, wtf orang lain penting harus bisa dulu, bagaimanapun salut dengan semangat cina untuk kalahkan dominasi negara2 maju lain, satu hal yang justru mungkin paling sulit buat bangsa +62 karena lebih sering ngurusi hal2 yang ndak penting, negara lain berfikir selalu kedepan justru kita selalu ingin berfikir ke belakang melulu dan terlalu banyak contoh, semoga kita segera sadar bahwa bekerja sungguh2 dengan baik dan benar adalah yang utama demi kelanjutan kehidupan bernegara NKRI

Tinggalkan komentar