Benarkah Indonesia Lebih Tertarik Destroyer Iver Huitfeldt?

Jakartagreater.com – Setelah memiliki dua kapal perang tipe fregat SIGMA 10514 dari Damen, sebagai sebagai bagian dari tahap kedua cetak biru modernisasi Minimum Essential Force (MEF) yang berlangsung dari 2015 hingga 2019, Indonesia menginginkan setidaknya empat kapal perang berat lagi dalam jangka panjang sebagai bagian dari tahapan MEF yang lebih luas.

Ditengah banyaknya tipe kapal perang fregat berat atau destroyer ringan dengan panjang 130 meteran, delegasi Kementerian Pertahanan Indonesia, Kementerian Perindustrian Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme melakukan kunjungan ke KBRI Denmark di Kopenhagen, seperti ditulis oleh FB KBRI Indonesia di Denmark.

Delegasi Republik Indonesia ini dikabarkan akan melanjutkan perundingan dengan Denmark Odense Maritime Technology (OMT), produsen kapal perang Iver Huitfeldt yang menjadi salah satu incaran Angkatan Laut Indonesia.

Delegasi RI kunjungi fregat Iver Huitfeldt (foto : FB /Indonesian Embassyin Denmark)

Lalu apa kelebihan Iver Huitfeldt dibandingkan kapal perang lain yang membuat Delegasi Republik Indonesia tertarik mengunjunginya hingga beberapa kali?

Iver Huitfeldt masuk kategori fregat berat, dengan panjang 138,7 meter dan lebar 19,75 meter, membuat kapal perang ini mampu mengarungi lautan luas dan ombak besar dengan aman karena menggunakan desain monohull tujuh dek dengan 15 bagian kedap air.

Selain itu Ivar Huitfeldt dibangun dengan desain siluman yang meminimalkan jejak radar, radiasi infra merah, kebisingan suara bawah air, dan jejak magnetik untuk membuat kapal perang ini sulit dideteksi musuh.

Desain Ivar Huitfeldt juga mampu melindungi awak dari kontaminasi radiasi. Fregat dibagi menjadi enam zona bahaya dengan tambahan pengaman pengunci airlock. Semua zona dilengkapi dengan filter terpisah untuk melindungi kru dari serangan senjata kimia, radioaktif, atau biologis.

Iver Huitfeldt dilengkapi persenjataan utama meriam oto melara 76 mm Super Rapid gun yang terletak dibagian paling depan, dibelakangnya ditempatkan canon Oerlikon Millennium 35mm untuk pertahanan udara jarak dekat.

Untuk pertahanan udara menengah dan jarak jauh, Iver Huitfeldt dilengkapi sistem peluncuran vertikal multi missile (VLS) untuk rudal Sea Sparrow (ESSM) dan rudal SM-2 IIIA yang sedang dikembangkan. Ivar Huitfeldt juga dipersenjatai dengan sistem rudal anti-kapal Harpoon Blok II dan torpedo ringan Eurotorp MU90 yang ditembakkan dari peluncur torpedo ganda atau triple.

Untuk transportasi udara atau perang anti kapal selam, Iver Huitfeldt dilengkapi dengan dek helikopter dan hanggar helikopter berukuran medium. Dek juga dapat menangani helikopter yang lebih besar dan lebih berat hingga 20 ton.

Sharing

18 pemikiran pada “Benarkah Indonesia Lebih Tertarik Destroyer Iver Huitfeldt?”

  1. Nggak malu kita ya setahun sampai 3 x pejabat kita tahun lewat kunjungi Odense Maritim cuma buat nonton Iver sampai ni kapal harus standby di pelabuhan yang seharusnya jadwal layar patroli, semoga ini kunjungan terakhir dan langsung eksekusi dibeli dan lengkap dengan amunisinya kan perintah presiden jelas kalau beli harus yang sudah ready untuk ladeni peperangan jangan lagi kapal datang amunisi cuma meriam saja terpasang senjata lainnya rembugan lagi 10 tahun yad…ntar diserempet coastguard vietnam lagi dan prajurit laut kita cuma meringis doang

    • Bagaimana para commentator disini tanya di bagian kedutaan embassy di denmark (facebook), biar dubes nya ga jalan2 mulu abisin anggaran pajak kita. Ada facebook page nya kok. Ketik search “Indonesian Embassy in Denmark” cari bagian pertemuan dengan CEO odense maritim di denmark. Kalau ga salah ada pertemuan di bulan febuary 2020.

    • Kita mah mana ada malunya bang, terbukti bolak balik kunjungi, orang yg berbeda atau ada yang sama yang datang, mungkin kelompok negara Scandinavia memang menarik utk dikunjungi apalagi pakai kedinasan, yang dikunjungi sampai bosan cuma karena ndak sopan kalau mau nolak

  2. Jalan2 koar2 di media… Kapan lagi bisa jalan2 ke eropa hasilnya = 0 kunjungan…Terlalu lama ada nya hanya pemborosan jalan2 ..anggaran kementerian, anggaran APBN hasilnya 0 besar, 5 tahun cuma kunjungan ke denmark tidak ada hasil sama sekali

  3. klo kita sekutu US sih mungkin ga masalah… cuma persenjataan nya ini dari USA semua.. yg rasa nya sulit utk mendapatkan ijin dari senator nya.. klo pun di ganti kan ke basis Eropa atau Rusia akan menambah biaya lagi.. baik dari CMS nya atau yg lain nya.. sementara utk mendapatkan senjata dari USA sangat susah dan lama.. serta embel2 politik

    • Oh kalau itu dah jelas bang, dan kita senangnya melakukan hal yg sama berulang ulang, lihat trio korvet eks BAE Inggris bekas pesanan Brunei ampe ni hari senjata Andalan utama meriam rapid canon Oerlikon 76 mm dan senapan mesin rudalnya mungkin dummy. Kasihan prajurit laut kita yang bertugas mengawaki

      • Tdk perlu meremehkan korvet bung tomo class bekas pesanan Brunei karena kalau tdk salah senjata yg terpasang bukan hanya meriam 75 mm yg merupakan meriam yg sama yg dipasang pd kapal Korvet atau frigat sigma milik Indonesia selain itu Korvet bung Tomo class kalau tdk salah jg dipasang rudal Exocet.

  4. Bagaimana para commentator disini tanya di bagian kedutaan embassy di denmark (facebook), biar dubes nya ga jalan2 mulu abisin anggaran pajak kita. Ada facebook page nya kok. Ketik search “Indonesian Embassy in Denmark” cari bagian pertemuan dengan CEO odense maritim di denmark. Kalau ga salah ada pertemuan di bulan febuary 2020.

  5. Kelamaan… Mending Omega Class Aja dari Damen.
    Secara Kita juga dah Pernah Belanja dari Mereka. Tenaga dan Arsitek kita juga dah Pernah kerjasama ma Mereka. Jadi soal Sinergy dah pasti lebih erat daripada Denmark
    Omega juga Frigat yg aslinya masih Baru. Jadi Sistem Penempatan Dan Pengaturan Senjata

  6. Setahu saya iver bukan kategori Destro… Tapi lebih ke heavy clsss fregat spesialis AAW… VLS-nya MK41 yg type tactical… 32 Vls utk SM1 & 2 Dan 4 quadruple peluncur Harpoon..
    Kalau utk ngadepin kapal2 perang china seperti jiangkai class dan type 055 minimal yaa harus pake iver..
    Kalau cuma sekelas PKR Sigma kurang mumpuni… baik dari sisi sensornya, ECW apalagi fire powernya… kalah telak…
    Kedepan indonesia harus punya destroyer yg mampu ngangkut 80-90 Rudal smua jenis combatan… AAW, ASUW, ASW, LAW dg kmampuan pertahanan Anti balistic missile…

  7. Dr PD nantinya ada kendala dlm hal izin persenjataan yg di pasang yg membuat biaya semakin membengkak mending kita beli ke negara lain aja seperti negara Rusia krn kalao lansung ke negara yg punya persrnjtaanta egk bakal dpt maslh lagi dlm hal persenjtaan yg di instal. Kapal kita bisa di instal pansir jarak pendek dan s400 rudal onik dan Iskandar. Tot egk mesti bisa buat kapal perang nya bro mngkin kita dpt ilmu peningkatan kualitas baja or daya ja gkau roket.

Tinggalkan komentar