India Persiapkan Tender Pesawat Tempur Baru

Jakartagreater.com – Tahun depan akan menandai hampir 15 tahun sejak Angkatan Udara India (IAF) memulai proses untuk mendapatkan armada pesawat tempur baru, dan juga akan menjadi delapan tahun sejak India memilih Dassault Rafale untuk program Medium-Multirole Combat Aircraft (M-MRCA) – produksi lisensi yang akhirnya gagal dijalankan, lansir AIN online.

Awalnya upaya M-MRCA direncanakan untuk pengadaan 126 pesawat tempur IAF dengan opsi 63 unit tambahan, sebagian besar Rafale akan dirakit di India pada jalur produksi Hindustan Aeronautics Ltd (HAL).

Pada 2012, India akhirnya memilih Dassault Rafale dari kompetisi, mengalahkan MiG-35 Rusia, JAS-39E Gripen, Eurofighter Typhoon, dan F / A-18E / F Super Hornet dan Lockheed Martin F-16.

Namun, dalam memenangkan kompetisi MMRCA, seorang pejabat industri Prancis mengatakan kepada media AIN, Rafale tidak benar-benar ‘memenangkan’ kompetisi itu. Menurutnya pemenang tender seharusnya tinggal menegosiasikan kontrak — namun kenyataannya Dassault sudah menghabiskan puluhan juta (dolar) selama bertahun-tahun untuk menawar program pengadaan besar di India.

Pada 2015 kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan tentang produksi lokal, dan pada tahun 2016 pemerintah baru Perdana Menteri Narendra Modi memesan 36 pesawat tempur Rafale “off-the-shelf”, dengan tujuh diantaranya harus dikirim ke IAF antara bulan April dan Mei 2020.

Ini, bagaimanapun, masih membuat Angkatan Udara India kekurangan pesawat tempur dari seharusnya yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan keamanan nasional New Delhi. Masih belum ada pengganti yang cocok untuk pesawat serang MiG-21 Bison lawas yang dimodernisasi.

Juga tidak ada solusi untuk mengatasi kesenjangan yang dibuat oleh keputusan India tahun 2018 yang menarik diri dari program bersama HAL / Sukhoi dengan Rusia pada program Future Generation Fighter Aircraft (FGFA).

Rencananya India akan membeli 127 unit Sukhoi Su-57, namun setelah inspeksi IAF dari salah satu prototipe program, India menyerukan 43 perubahan besar pada desain untuk memperbaiki kekurangan dari konfigurasi asli Su-57.

Konsekuensinya menjadikan India masih berputar-putar pada pencarian pesawat tempur baru – mengharuskannya mengeluarkan tender lain untuk setidaknya 100 pesawat tempur untuk mengisi kekosongan kekuatan armada udaranya.

Awalnya, program ini akan menjadi kompetisi untuk desain pesawat bermesin tunggal, yang akan membatasi kompetisi untuk JAS-39 Gripen dan F-16 atau F-21.

Salah satu perubahan adalah menambahkan opsi pengisian bahan bakar probe dan drogue di samping metode pengisian bahan bakar flying boom refueling yang biasa dilakukan Amerika Serikat.

Kompetisi “hanya bermesin tunggal” ini kemudian diperluas untuk memungkinkan semua pesawat tempur bermesin ganda ikut berpartisipasi dalam tender M-MRCA — menjadikan Sukhoi Su-35 Rusia kini bisa ikut bermain. Hal ini telah mendorong beberapa pengamat militer menjulukinya sebagai pelelangan ulang M-MRCA versi ke 2.

Persaingan tender yang akan datang ini semakin kritis bagi postur pertahanan India di masa depan karena kapal induk masa depan India yang akan membutuhkan kemampuan pendaratan dan penerbangan CATOBAR (catapult-assisted take-off barrier-arrested recovery). Baik Rafale-M dan Super Hornet tersedia untuk misi ini dan Gripen juga memiliki desain untuk varian Maritime Gripen berkemampuan kapal induk yang dapat direalisasikan dalam waktu singkat.

Yang masih dipertanyakan adalah apakah tender baru akan mengulangi proses tujuh tahun MMRCA yang sulit untuk menjadi pesawat tempur produksi India. Saran untuk mempercepat telah dibuat tahun lalu bahwa tender baru dapat dilakukan tanpa serangkaian uji coba penerbangan yang luas.

Sementara belum ada kesepakatan tentang jenis pesawat tempur yang sesuai dengan persyaratan Angkatan Udara dan Angkatan Laut India, ada beberapa pengamat militer yang meremehkan cara pemilihan jenis pesawat tempur baru yang telah dilakukan.

“Seperti yang ada sekarang, metodologi untuk membeli pesawat tempur baru adalah proses yang disfungsional secara objektif,” kata seorang pakar kedirgantaraan India. “ Masalahnya adalah bahwa itu tidak akan pernah berubah selama OEM (Original Equipment Manufacturer) terus memberi penghargaan kepada mereka yang menyebarkan proses itu tanpa melakukan perubahan”.

Sharing

4 pemikiran pada “India Persiapkan Tender Pesawat Tempur Baru”

Tinggalkan komentar