Mengapa AS Tidak Pernah Menjual F-22 Raptor?

Jakartagreater.com – Pada suatu waktu, program F-22 Angkatan Udara AS yang sekarang sudah dihentikan produksinya adalah pesawat tempur paling mahal dan paling canggih di dunia, yang akhirnya digantikan oleh F-35. Tetapi bahkan selama pengembangannya, Kongres Amerika Serikat memastikan militer AS tidak dapat berbagi teknologi dengan siapa pun – bahkan kepada sekutunya, lansir We Are the Mighty.

Program pesawat tempur siluman F-22 senilai US$ 62 miliar tentunya akan mengurangi biaya penelitian dan pengembangan seandainya penjualan pesawat tempur disetujui untuk sekutu Amerika, tetapi amandemen – Obey Amendment to the 1998 Department of Defense Appropriations Act – secara khusus mencegah penjualan Raptor F-22 kepada pemerintah asing mana pun – meski kepada negara sekutu yang antre untuk membeli.

Mengembangkan jenis teknologi yang meminimalkan jejak radar F-22 seperti terlindungi ‘gelembung bumblebee’ akan membutuhkan biaya miliaran dolar dan bertahun-tahun waktu yang tak terhitung untuk berkembang secara mandiri. Itulah sebabnya negara yang bersekutu dengan Amerika Serikat tidak ingin melakukan upaya pengembangan semacam itu ketika mereka bisa membeli teknologi itu.

Israel menginginkan F-22 Raptor, Jepang juga sangat tertarik untuk mendapatkan F-22 untuk Pasukan Bela Diri. Namun jika Jepang bisa membeli, Korea Selatan pasti menginginkannya juga, lalu Singapura, lalu Australia. Bahkan Cina juga akan menyatakan minatnya.

Dan sekarang setelah Angkatan Udara China mengembangkan sendiri pesawat tempur siluman canggih, kebutuhan akan pesawat tempur siluman di tangan dan langit sekutu Amerika Serikat lebih penting daripada sebelumnya. Dan ini benar, bahkan sejak tahun 1990-an.

Anggota Kongres AS khawatir teknologi siluman pada F-22 (yang memiliki penampang radar yang lebih kecil daripada F-35) akan berakhir di tangan Cina atau Rusia jika dijual ke sekutu – terutama Israel. Tampaknya Kongres khawatir orang-orang Israel akan membocorkan teknologi AS ke China, dimana intelijen Amerika percaya bahwa Israel membantu Tiongkok dalam pengembangan pesawat tempur J-10-nya.

Sejak itu, Dewan Perwakilan Rakyat telah melakukan sejumlah perdebatan dan diskusi tentang apakah mereka harus mencabut undang-undang atau tidak. Departemen Pertahanan AS tetap netral tentang hal ini tetapi para kritikus ‘Obey Amendment’ berpendapat bahwa industri-industri Amerika yang kritis akan memperoleh manfaat dari suku cadang apabila melanjutkan produksi F-22.

Beberapa bagian suku cadang pesawat dibuat dari Marietta, Ga, hingga Palmdale, California, dan beberapa tempat lainnya. Pusat-pusat manufaktur Amerika Serikat harus membuang biaya penelitian dan pengembangan serta teknik-teknik manufaktur yang canggih sejak produksi pesawat tempur F-22 berakhir.

Pada akhirnya, program F-22 berakhir karena sangat mahal dan kebutuhan pesawat tempur untuk melawan pesawat tempur Soviet bukan lagi prioritas militer AS. Militer AS membeli 183 Raptor, jauh dari yang diusulkan sebelumnya sebanyak 381. Namun, kemudian Cina dan Rusia tetap memproduksi pesawat tempur generasi berikutnya, sehingga AS berlipat ganda menggunakan Joint Strike Fighter F-35.

Jadi, mengapa sekutu AS seperti Israel dan Jepang bisa mendapatkan pesawat tempur multirole paling canggih di dunia? F-35 selalu dimaksudkan untuk menjadi sistem tempur yang dikembangkan secara internasional, dan sekutu-sekutu AS selalu diharapkan memiliki akses teknologi siluman dan membantu menanggung biaya pengembangan semua teknologi hebat – yang sebagian besar dikembangkan saat dalam pencarian untuk siluman F-22.

Sharing

2 pemikiran pada “Mengapa AS Tidak Pernah Menjual F-22 Raptor?”

Tinggalkan komentar