Drone Bawah Air yang Masih Menjadi Misteri

Jakartagreater.com – Teknologi peperangan bawah laut terus berubah. 15 tahun lalu, Korea Utara mungkin mendapatkan beberapa perangkat keras Angkatan Laut AS yang mutakhir yang terdampar.

Ketika sebuah drone bawah air terdampar di pantai asing biasanya tidak ada mau mengakui sebagai miliknya, karena khawatir dicurigai bahwa negara pemilik drone air yang terdampar terlibat dalam operasi rahasia, lansir Forbes.

Bahkan di masa damai angkatan laut dapat melakukan misi pengumpulan intelijen dari pantai-pantai musuh potensial. Uncrewed Underwater Vehicle (UUV) memainkan peran yang semakin meningkat pada operasi ini.

Jadi tidak mengherankan bahwa ada beberapa benda misteri yang tidak diakui.

Pada Agustus 2006, Korea Utara mengumumkan bahwa mereka telah menangkap UUV. Drone dikatakan telah ditemukan di luar kota Hamhung di pantai timur Korea Utara.

Korea Utara mengklaim itu milik Amerika. Dilaporkan pada saat itu AS menolak klaim tersebut. Seorang juru bicara militer AS di Korea Selatan mengatakan, “Kami tidak memiliki apa-apa yang ditemukan dan tidak ada cara bagi kami untuk memverifikasi bahwa ini adalah kapal AS.”

Meskipun kendaraan bawah air ini mendapat perhatian dari waktu ke waktu, identitasnya tidak pernah diketahui oleh publik.

Analisis foto yang kemudian diambil oleh wisatawan mengidentifikasikannya sebagai UUV yang sedikit diketahui diluncurkan oleh kapal selam Angkatan Laut AS. The Near-term Mine Reconnaissance System, yang dikenal sebagai NMRS, atau sistem pengintaian ranjau jangka pendek dikembangkan pada akhir 1990-an untuk memetakan ladang ranjau musuh secara diam-diam.

Berbentuk seperti torpedo sehingga dapat diluncurkan dari tabung torpedo dari kapal selam Los Angeles class. Untuk misinya akan dikontrol melalui kabel serat optik seperti beberapa torpedo canggih. Untuk membantu memetakan dasar laut, drone dilengkapi sistem Forward Looking Sonar (FLS) dan Side Scan Sonar yang dikenal sebagai AN / AQS-14. Sensor ini lebih sering ditarik di bawah helikopter tetapi UUV memungkinkannya untuk digunakan secara rahasia. Secara potensial sensor-sensor ini juga dapat memetakan objek-objek lain di dasar laut. Dan karena bisa beroperasi di air dangkal, drone bisa pergi ke tempat-tempat di mana kapal selam tidak bisa melakukannya.

Susunan sensor bagian depan drone tampak sedikit dimodifikasi dari prototipe NMRS tetapi tidak cukup untuk memperlihatkan ke sistem lain. Jika bukan NMRS, maka itu setidaknya mirip. Foto-foto NMRS sangat sulit ditemukan, terutama setelah uji coba pada tahun 1999.

Jadi alat itu kemungkinan adalah perangkat Amerika Serikat. Bagaimana tepatnya hal itu sampai ke tangan Korea Utara tetap masij menjadi pertanyaan. Tetapi ada kemungkinan kapal selam Angkatan Laut AS telah mengintai kembali garis pantai Korea Utara.

Biasanya NMRS akan berenang kembali ke kapal selam induk dan dimasukkan kembali melalui tabung torpedo. Jika kabel serat optik putus maka misi untuk kembali ke kapal selam yang melepas bisa gagal.

Tetapi karena UUV sudah memasukkan data ke kapal selam induk secara real time, informasi intelijen yang sudah dikumpulkan sebelum terjadi kendala akan aman. Jadi mungkin misinya sudah berhasil.

Masih banyak misteri yang belum terpecahkan, menurut situs web Naval Undersea Museum, program NMRS dihentikan pada Mei 2005 setelah hanya dua prototipe yang dibangun.

Cina juga telah melaporkan menemukan UUV asing di lepas pantai. Pada 2012 sebuah kapal nelayan menemukan drone berbentuk torpedo di Laut Cina Selatan. Itu adalah perangkat yang canggih tetapi identifikasi sejauh ini terbukti masih sulit dilakukan.

Sharing

Satu pemikiran pada “Drone Bawah Air yang Masih Menjadi Misteri”

Tinggalkan komentar