Tertekan Harga Minyak dan Virus Corona, Su-35 Pilihan Logis Rusia

Jakartagreater.com – Semua masalah kini mendera pesawat tempur siluman Su-57 – harga minyak yang rendah, mesinnya yang tidak lebih baik dari pendahulunya, dan armada udara yang akan digantikannya masih salah satu pesawat tempur terbaik dunia saat ini, lansir NationalInterest.

Lebih sedikit uang, lebih banyak masalah

Rusia bergantung pada minyak dan gas untuk pemasukan negara. Jika ekspor energi ini melambat, atau ketika harga untuk ekspornya rendah, maka lebih sedikit uang yang akan mengalir ke kas negara Rusia.

Ketidaksepakatan antara Arab Saudi dan Rusia untuk menempatkan harga dasar minyak mentah dengan memotong produksi minyak telah menyebabkan harga minyak turun secara dramatis. Peningkatan produksi Saudi telah membanjiri pasar dengan melimpahnya minyak mentah Arab Saudi yang murah, yang bisa memotong ekspor minyak mentah Rusia.

Konsolidasi pangsa pasar global Arab Saudi adalah berita buruk bagi Su-57 dan semua akuisisi militer Rusia, kemungkinan akan sangat terpukul di masa depan. Hampir dipastikan hanya ada sedikit pemasukan untuk ambisi dan proyek militer yang mahal.

Mesin Lawas

Ada masalah mendasar lain dengan Su-57 – mesin yang pada dasarnya sama dengan pesawat tempur yang akan digantikannya – Su-35S. Meskipun Su-57 dimaksudkan akan menggunakan mesin Izdeliye 30 yang lebih kuat dan efisien, meski tidak semua, namun saat ini Su-57 prototipe dan yang sudah di produksi dilengkapi dengan mesin Al-41 yang digunakan juga pada Su-35S. Telah dilaporkan masih ada masalah dengan mesin Izdeliye 30 yang baru, terkait dengan keandalan dan kontrol kualitas.

Selain itu, baik mesin Al-41 dan Izdeliye 30 pada dasarnya adalah varian mesin yang lebih tinggi dari mesin Al-31. Sebenarnya yang dibutuhkan oleh program jet siluman Su-57 adalah desain mesin yang benar-benar baru – dan itu tidak mudah.

Masalah Kinerja

Su-57 memang memiliki jejak radar yang lebih baik (lebih kecil) daripada Su-35S – pesawat tempur generasi keempat yang cukup canggih, dan telah membuktikan kemampuannya di Suriah.

Pada 2018, India menarik diri dari rencana pembangunan Su-57 bersama Rusia. Orang-orang India tidak yakin dengan fitur stealth dan kemampuan penerbangan yang dapat memberikan apa yang mereka cari – yang akhirnya memberikan pukulan finansial lain untuk program Su-57.

Sejujurnya, belum ada kebutuhan mendesak untuk Su-57 dalam konflik di mana Rusia saat ini terlibat. Su-35S dan pesawat tempur lain adalah platform terbukti yang dapat melakukan pekerjaan meski tanpa kemampuan stealth yang mahal.

Saat ini sepertinya tidak masuk akal untuk memulai produksi massal Su-57. Perang harga minyak yang belum terselesaikan dengan Arab Saudi, dan potensi pelemahan ekonomi akibat pandemi virus Corona berarti akan ada lebih sedikit uang di masa depan untuk pembangunan Su-57, yang mungkin belum terlalu dibutuhkan – karena masih ada Su-35S yang lebih murah dan efektif.

Mungkin, seandainya Su-35S dan pesawat tempur lain tidak dapat memenuhi misi yang diinginkan, Rusia bisa saja memproduksi lebih banyak Su-57. Namun hingga saat itu terjadi, jangan berharap banyak dari pesawat tempur siluman pertama Rusia.

Sharing

6 pemikiran pada “Tertekan Harga Minyak dan Virus Corona, Su-35 Pilihan Logis Rusia”

  1. Rusia sih pinginnya banjirin minyak mentah di pasaran biar perusahaan minyak USA banyak yg kolaps eh malah kena sendiri tuh Rusia. Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhhh

  2. Masalah harga minyak dunia turun bkn hanya karena Arab Saudi dan Rusia tetapi jg adanya wabah korona banyak negara sdh menerapkan lock down serta karantina yg membuat permintaan minyak menurun.Arab Saudipun jg pastinya mengalami dampak buruk dr penurunan harga minyak blm lg pemasukan yg didpt dr umrah yg berkurang dgn kemungkinan ibadah haji yg mungkin jg akan dibatalkan akibat wabah COVID 19.

Tinggalkan komentar