Kemerdekaan Energi Harga Mati Bagi Bangsa Ini

By : Manihot Ultissima


Bangsa ini bangsa besar, demikianlah selalu yang kita baca di buku-buku pelajaran, dari mulai SD hingga perguruan tinggi. Bangsa yang jumlahnya hampir mendekati 250 juta jiwa, dengan kekayaan berlimpah di daratan dan lautannya, demikianlah adanya.

Kekayaan kita tidak ada bandingnya di dunia, dari mulai hutan, lautan, matahari, danau, sungai berikut seluruh sumber daya alam yang dikandungnya. Kebudayaannya , sejarah dan kemegahan masa lalunya, dan seabrek lagi kekayaan lain yang nyaris tidak akan pernah bisa dihitung dengan mesin tercanggih sekalipun.

Sayang sekali, kekayaan-kekayaan yang kita miliki, hingga saat ini belum juga dapat memberi arti bagi bangkitnya kesejahteraan dan kejayaan penghuni nusantara yang sekian abad tenggelam di makan zaman.

Janganlah terlalu jauh membandingkan kita dengan Jepang atau Aussie atau Korea sekalipun, bahkan dengan Bangsa Thailand saja kita nyaris kelimpungan.

Tengoklah tetangga-tetangga kita di ASEAN, Malaysia yang di era 80-an adalah anak bawang kita, sekarang rakyatnya telah cukup tajir untuk berkecak pinggang di halaman depan kita sambil petatatang-peteteng, Singapore, jiran ABG kita yang secarik itu, bahkan dengan pongahnya mengatur FIR udara kita hampir seluas semenanjung Malaya, Vietnam dan bahkan Kamboja sekarang sudah berada di ambang pintu pagar halaman kita sambil mengibarkan bendera kebangsaan mereka.

Kesenjangan pembangunan, kesenjangan pendapatan, dan kesenjangan lainnya kentara sekali menghiasi langit biru pembangunan kita, dan mendekati muaranya kita sama tersentak manakala diingatkan oleh timbulnya kesadaran baru bahwa sesungguhnyalah hingga detik ini kita belum seratus persen merdeka.

Merdeka dalam arti yang hakiki, merdeka sebagaimana amanat para founding father kita, merdeka dalam setiap segi kehidupan, lepas dari campur tangan asing dan konco-konconya yang berkulit, berambut dan bermata sama, namun bermental dan berideologi kolonial.

Lihatlah data-data energy kita, tidak perlu terlalu menjelimet dan tekhnis, dengan mudah kita akan tahu bahwa era kita sebagai Negara anggota OPEC telah lama berlalu, sekarang kita adalah Negara pengimpor BBM yang cukup besar di dunia.

Pada awal 2013, cadangan terbukti minyak bumi Indonesia turun menjadi 3,59 miliar barel. Sedangkan pada 1 Januari 2012, cadangan terbukti minyak bumi Indonesia 3,74 miliar barel, ini artinya apa?. Setiap tahun terjadi ketimpangan antara eksplorasi/ cadangan ditemukan dengan jumlah produksi.

Dengan produksi 840.000 barrel perhari kita dihadapkan vis a vis pada kebutuhan 1,4 juta barrel perhari, maka terdapat gap 560 ribu barrel yang harus kita datangkan tiap hari, itupun dengan mengesampingkan faktor bahwa 60 % minyak kita tidak dapat di olah di kilang milik kita sendiri.

Setiap tahun kebutuhan kita terus menerus meningkat tajam, sedangkan eksplorasi yang dilakukan Pertamina sebagai pendekar ketahanan energy nasional nyaris sayup-sayup sampai, selain karena investasi dalam bidang ini demikian besar, factor lose-nya pun sangat besar, sehingga mengganjal Pertamina untuk habis-habisan mengeksplorasi lapangan baru. Dari pengeboran 80 sumur eksplorasi pada 2012, hanya 51 sumur yang berhasil. Dari jumlah tersebut, sumur penghasil minyak hanya ada 12 sumur, sementara sumur penghasil minyak dan gas sebanyak 16 sumur. “Jadi persepsi bahwa Indonesia kaya minyak dan layak mendapat bahan bakar minyak dengan murah itu keliru dan menyesatkan,”.

Tapi apa lacur, justru kelemahan ini diperparah oleh masuknya investasi besar-besaran dalam dunia energy kita. Perusahaan-perusahaan multinasional dengan beragam bendera menancapkan kukunya di persada nusantara.

Bak tanah perumahan, tiap jengkal tanah pertiwi dikapling-kapling, ditancapi patok ekspolrasi dengan bantuan cukong hukum atas nama kepentingan sesaat. Hasilnya disedot dan diangkut kenegara mereka atas nama perjanjian internasional berjudul “kontrak Karya”.

Masalah ketahan energi adalah salah satu penopang hidup negara, disamping tentu saja ketahanan pangan dan nasionalisme kebangsaan. dalam setiap kondisi, energi alias minyak bumi menjadi sumbu pendek yang siap sedia meletuskan amunisi kelaparan energi bangsa-bangsa besar di penjuru dunia ini, segala cara ditempuh halus maupun kasar bahkan jika perlu dengan bencana dan peperangan sekalipun.

Dalam kondisi perang apalagi, energi menjadi aktor penting yang menentukan akhir peperangan, meskipun alutsista yang dimiliki Garda Bangsa ini berjibun, dilautan kita punya destroyer sekelas Irian berbilang jumlahnya, Kapal Selam kita berderet banyaknya, MBT mengular panjangnya, tanpa minyak… oh no… semuanya hanya akan jadi pajangan belaka.

Demikian penting arti ketahan energi bagi eksistensi sebuah bangsa, sehingga hanya ada satu kepentingan yang harus dikenal dalam perbendaharaan nasional kita, kuasai dan miliki seratus persen sumber energi kita dari campur tangan asing dan aseng, bangun kilang minyak yang mandiri sejuta persen dari kepentingan negara lain, gunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran bangsa ini, berbekal keyakinan diri kita yakin pasti mampu, kita yakin pasti bisa.

Selain itu, gali terus sumber-sumber potensi energi baru dan terbarukan di bumi pertiwi, kita punya matahari yang bersinar hampir sepanjang tahun, arus laut dan selat di antara pulau-pulau yang tak terbilang jumlahnya, plutonium yang menghampar di Mamuju dan Babel, kandungan dalam pasir besi kita yang ternyata sangat luar biasa, deru angin yang berhembus menyediakan bagi kita peluang untuk merdeka dalam hal energi, tinggal semuanya kembali berpulang kepada kita semua, mau atau tidak memanfaatkan itu semua, karena selama ini masalah klasiknya adalah bukan masalah mampu atau tidak mampu, tapi mau atau tidak mau.

Masih banyak yang perlu diulas mengenai permasalahan energy ini, tapi penulis sadar semakin panjang sebuah tulisan, semakin tidak menarik untuk dibaca..akhirul kalam wassalam’mualaikum wr wb.

Sumber :

http://www.migas.esdm.go.id/wap/?op=Berita&id=2787
http://pantauenergi.blogspot.com/2013/11/indonesia-dan-peta-cadangan-minyak-dunia.html

Sharing

Tinggalkan komentar