Bukan Rudal atau Torpedo, Tapi Ranjau Laut Iran Paling Berbahaya

Jakartagreater.com – Banyak orang mengira bahwa kekuatan terbesar Angkatan Laut Iran terletak pada rudal anti kapalnya. Tetapi yang luput dari perhatian adalah kekuatan ranjau laut Iran yang sangat berbahaya.

Korps Garda Revolusi Iran dan Angkatan Laut Iran memiliki tanggung jawab dan kemampuan yang tumpang tindih. Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam mengoperasikan armada speedboat dan kapal ‘serangan cepat’ lain yang mahal, sedangkan armada kapal selam Iran dioperasikan oleh Angkatan Laut Republik Islam Iran, dan kapal selam Iran inilah yang berbahaya sebagai kapal selam penyebar ranjau daripada platform serangan torpedo, lansir NationalInterest.

Pada 2007, Iran mulai mengembangkan kapal selam Ghadir dan Nahang class, dan pada 2017 Angkatan Laut AS memperkirakan bahwa Iran memiliki sekitar empat belas dari dua tipe kapal selam itu. Pada 2018, dua lagi kapal selam Ghadir class bergabung dengan armada Iran. Media Iran mengklaim bahwa Ghadir class juga mampu meluncurkan rudal anti kapal selain torpedo. Kedua tipe kapal selam ini relatif kecil dan ditujukan untuk beroperasi di air dangkal daripada misi laut biru yang lebih dalam.

Pada 2019, Iran meluncurkan kapal selam Fateh class. Menurut Jane, Fateh adalah kapal selam Iran pertama yang diproduksi sendiri. Beratnya sekitar 600 ton dan dapat meluncurkan torpedo dan rudal anti-kapal sambil menyelam.

Kapal selam domestik Iran adalah penyelam ringan dan dangkal. Kekuatannya tidak terletak pada kemampuan penyelaman atau bahkan pada kekuatan senjata torpedonya, tetapi pada kemampuannya menyebarkan ranjau. Kapal selam Iran akan sangat sulit di deteksi untuk periode singkat ketika menjalankan mode silent dengan tetap diam di dasar air dangkal tepat di luar Selat Hormuz.

Banyak yang telah ditulis tentang kemampuan anti-kapal Iran, khususnya rudal anti-kapal Iran, tetapi ranjau belum mendapat perhatian yang besar, meskipun ranjau adalah senjata/ alat pencegah yang lebih terjangkau bagi Iran.

Sebuah laporan dari Marshall center menjelaskan bahwa ranjau ancaman khusus telah diajukan ke Angkatan Laut A.S.: “sejak tahun 1950 ada 200 persen lebih banyak korban kapal di Angkatan Laut AS yang disebabkan oleh ranjau, dari gabungan semua sumber lain.”

Ancaman ranjau Iran sudah terbukti. Selama Operasi Badai Gurun, Irak berhasil meletakkan lebih dari 1.000 ranjau di Teluk, dan mampu mencegah pendaratan amfibi yang direncanakan di Kuwait.

Angkatan Laut Iran memiliki berbagai macam ranjau laut yang dapat digunakan, termasuk ranjau akustik, magnet, influence, magnet dan ranjau kontak yang diproduksi secara lokal, atau dibeli dari Rusia, serta desain Cina yang sangat kuat, seperti ranjau EM52 .

Ranjau EM52 sangat berbahaya. Menurut penilaian Angkatan Laut AS. EM52 adalah ranjau improved buatan Tiongkok dari desain ranjau laut KMD3000 Rusia, dan memiliki “tenaga roket dengan hululedak 250 kg” yang melaju dari bawah menuju sasaran yang terdeteksi dengan kecepatan lebih dari 100 knot. Ranjau MC52 sulit untuk dibersihkan, dan dapat meledak dengan pemicu jejak magnetik, akustik, tekanan, atau seismik ketika lambung kapal lewat di dekat sensor ranjau yang diletakkan dikedalaman laut hingga 350 kaki. ”

Sesuai dengan keefektifan biaya, ranjau laut yang relatif berteknologi rendah dan murah dapat mengalahkan kapal-kapal permukaan Amerika atau koalisinya yang sangat mahal.

Mungkin tidak mengherankan bahwa ranjau laut adalah alternatif yang menarik untuk rudal anti-kapal dan speedboat yang dapat digunakan secara efektif di Teluk jika terjadi perang dengan Amerika Serikat.

Sharing

Tinggalkan komentar