MiG-35 atau J-10C, Mana akan Dibeli Iran Setelah Embargo Berakhir?

Jakartagreater.com – Jeratan embargo senjata dari Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap Iran akan berakhir pada Oktober 2020 di bawah ketentuan kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Embargo itu melarang negara lain untuk menjual senjata militer dari kapal perang hingga pesawat tempur ke Iran, lansir MilitaryWatchMagazine.

Teheran kemungkinan akan mengumumkan pesanan untuk setidaknya satu tipe pesawat tempur baru pada akhir tahun atau awal tahun 2021. Sebelumnya Iran menunjukkan minat pada desain fighter berat Su-30 Rusia pada tahun 2010-an lalu, namun pergeseran keseimbangan kekuatan regional dan munculnya pesawat tempur tipe baru yang lebih maju dapat membuat Iran mempertimbangkan kembali.

Su-30 memiliki jangkauan panjang dan daya tahan tinggi yang memungkinkan bagi Iran untuk memproyeksikan kekuatan di Timur Tengah dan sekitarnya, seperti halnya Su-57 yang dianggap sebagai pelopor lain bagi negara untuk meningkatkan armadanya. Namun, Iran mungkin lebih tertarik terhadap jet tempur yang lebih ringan dengan jangkauan yang lebih pendek yang lebih canggih daripada Su-30 tetapi memiliki biaya operasional yang lebih rendah. Juga muncul spekulasi bahwa Iran dapat berusaha untuk membeli dua tipe pesawat tempur sekaligus – satu platform ringan dan satu kelas berat.

Salah satu pesaing utama dari Su-30 adalah pesawat terbaru MiG-35 dan J-10C China – dua pesawat tempur generasi 4 ++ yang mulai beroperasi pada Juni 2019 dan Maret 2018.

Membandingkan dua pesawat itu, MiG-35 tampaknya menjadi petarung yang lebih mampu. Mig-35 lebih berat, dengan radar yang lebih besar, lebih bermanuver, dan dapat beroperasi pada kecepatan dan ketinggian yang lebih tinggi. Pesawat tempur Rusia mengandalkan rudal udara-ke-udara R-37M dengan jarak tembak 400 km, sedangkan rudal PL-15 pada J-10C memiliki jangkauan maksimum hingga 300 km dan sedikit lebih lambat. Kedua pesawat menggunakan radar AESA dan mesin vectoring dorong tiga dimensi, keduanya dapat berintegrasi dengan mudah dengan jaringan pertahanan udara dan armada tempur Iran yang sudah ada, dan Iran memiliki pengalaman mengoperasikan pesawat tempur dari kedua negara.

J-10 lebih murah untuk beroperasi dan memiliki beberapa teknologi stealth yang terbatas, tetapi memiliki kekuatan radar yang lebih kecil dan daya tahan yang lebih rendah.

MiG-35 tampaknya merupakan pilihan yang jelas untuk Iran. Biayanya hanya sedikit lebih tinggi, dan rudal R-37M memberikan daya pukul yang besar dengan jangkauan dua kali lipat lebih jauh daripada rudal negara lain – yang sebagian besar bergantung pada rudal AIM-120C dengan daya jangkau 105km. AS sendiri mulai mengoperasikan AIM-120D berjangkauan 180km.

Pilot dan teknisi Iran akan membutuhkan pelatihan minimal untuk mengoperasikan MiG-35 karena pengalaman mereka dengan MiG-29A yang sudah ada di layanan Iran, dan pesawat tempur baru akan kompatibel dengan persenjataan dan infrastruktur pemeliharaan yang sama dengan MiG-29.

Terlepas dari semua ini, Iran mungkin pada akhirnya memilih J-10C. Ini mungkin sebagian karena alasan politik, karena Rusia telah sering membuat konsesi yang cukup besar kepada Blok Barat dan kepada Israel mengenai penjualan senjata ke Timur Tengah sejak runtuhnya Uni Soviet. Di antaranya adalah pembekuan kesepakatan pembelian lebih banyak MiG-29 dan MiG-31 karena tekanan Barat pada awal 1990-an, juga pembekuan pembelian S-300 Iran pada awal 2010.

Media Iran juga telah melaporkan bahwa Rusia memberi Israel informasi intelijen yang berharga termasuk kode sensitif untuk jaringan pertahanan udara Suriah – yang memungkinkan Angkatan Udara Israel untuk menyerang target di Suriah dengan lebih mudah. Jika klaim ini mewakili pandangan intelijen militer Iran, itu akan secara serius merusak daya tarik untuk membeli sistem senjata Rusia, yang mungkin juga bisa memberikan kode rahasia rudal R-37M agar tidak bisa digunakan terhadap pesawat tempur Israel?

Selain potensi keandalan senjata China, manfaat lain dari J-10C adalah rudal PL-15 – yang telah lebih banyak dikerahkan dan diuji oleh unit-unit militer Cina daripada rudal R-37M Rusia. China tampaknya berinvestasi jauh lebih banyak dalam penelitian dan pengembangan untuk rudal udara ke udara, yang berarti J-10C kemungkinan akan menggunakan rudal superior di masa depan.

Mengakuisisi J-10C juga dapat memfasilitasi hubungan politik dan pertahanan yang lebih dekat dengan Beijing, yang telah banyak berinvestasi dalam ekonomi Iran dan memberikan dukungan dalam menghadapi sanksi ekonomi Barat yang keras. Dengan demikian pembelian semacam itu dapat membuka jalan bagi investasi Tiongkok lebih lanjut.

Iran juga bisa membayar pesawat tempur China dengan barter – dengan minyak atau sumber daya lain untuk menghindari komplikasi dari menggunakan dolar AS untuk pembelian, menjadikan peluang J-10C lebih kuat untuk dipilih untuk memenuhi persyaratan Iran pada pesawat tempur ringan / medium generasi terbaru.

22 pemikiran pada “MiG-35 atau J-10C, Mana akan Dibeli Iran Setelah Embargo Berakhir?”

  1. Kemungkinan iran akan lbh memilih j 10 dr cina jk embargo senjata berakhir krn kalau membeli mig 35 dr rusia iran hanya akan mendpt sangsi dr as selain itu walaupun pespur j 10 buatan cina insinyur rusia yg terlibat pengembangan j 10 mengatakan ada kemiripan antara j 10 dan iai lavi.

    • Betul sekali bung, pilihan yg logis buat Iran krn biar bagaimanapun Rusia bersahabat jg dng Israel. Rusia tdk ingin hubungannya bermasalah dng Israel.
      Pilihan logisnya adalah akuisisi produk china yg pembayarannya ditukar dng minyak. Barter yg sangat menguntungkan kedua negara dan tidak perlu melibatkan Dolar.
      Selama inipun China telah banyak membantu Teheran utamanya dlm pengembangan teknologi rudal.
      Yg spt ini si othak dengkul pasti gak paham. Dia taunya copy link yg dia pun gak paham isinya….xicixicixicixicixi

        • Utk coment sama tong kosong yg nyaring bunyinya eh salah mbh, mksutnya sama @bang ruskiy, saya harus jenaka mbh, semoga mbh bisa sadar dan tidak Halu lagi,
          Kalau kebanyakan peswat buatan Rusia banyak yg rontok, mulai perang Arab israel, teluk 1 dan 2, Yugoslavia, dan perang irak, pesawat Rusia kaya kaleng krupuk mbh, apalgi kemarin mbh su30mki di tepuk kaya nyamuk hanya lawan F-16 mbh, xixixixixi

        • waduh dengkulnya mbh ruskiy udah koklok ya, hadeh sadar mbh tolong sadar mbh, jangan kebanyakan halu mbh, kualitas komenku menyesuaikan lawan mbh, kalau lawan RUSIA LETOY, harus jenaka mbh , percuma di kasih fakta mbh, akan ngeles dan beropini halu, semenjak perang vietnam dan era Adolf Georgievich Tolkachev pesawat rusia kaya kaleng krupuk mbh, sadar mbh………., xixiixixixixixi

      • waduh dengkulnya mbh ruskiy udah koklok ya, hadeh sadar mbh tolong sadar mbh, jangan kebanyakan halu mbh, kualitas komenku menyesuaikan lawan mbh, kalau lawan RUSIA LETOY, harus jenaka mbh , percuma di kasih fakta mbh, akan ngeles dan beropini halu, semenjak perang vietnam dan era Adolf Georgievich Tolkachev pesawat rusia kaya kaleng krupuk mbh, sadar mbh………., xixiixixixixixi

      • Siapa bilang produk2 china banyak yg gak yahud? Nyaris lini produk masa china membanjiri negeri +62, dan…. dengan harga terjangkau hingga masyarakat bawah bisa menikmati teknologi milenium ke 2. Emang nama2 spt hu4wei & d0ng f3ng perusahaan ecek2?

        Alutsista produk china jelek??? Coba aja si jepun sekali lagi berani invasi lagi.

        Dan catet broo, china satu2nya negara di benua Asia yg punya laboratorium canggih DARK MATTER prog sandi Panda X di dunia, jadi pesaing CERN !!!!! Jika sukses tu riset, nuklir & thermonuklir tak punya level lagi.

        Jadi levelmu di mana???

        #thinkglobal

  2. Dlm hubungan politik dlm atau luar negeri tdk ada yg namanya sahabat sejati melainkan kepentingan ataupun keuntungan jd indonesia lbh baik waspada agar tdk ditusuk dr belakang.selain itu negara yg terlihat lemah dimata bangsa yg lbh kuat hanya akan dianggap sbg sapi perah.

  3. Jepun suruh invasi China??? anda sehat???

    Jepun sejak kalah peran melawan USA tidak memiliki militer… mereka hanya diijinkan memiliki pasukan bela diri, meskipun dalam beberapa hal itu sama saja dengan militer… teknologi militer dibatasi kemampuan membuat alat militer dibatasi… sampai saat ini praktis Jepang dibuat tergantung kepada USA yang memang sudah mengalahkan Jepang dalam perang Asia Pasific…
    berbeda jauh dengan China yang terus membangun kemampuan militernya…
    Saya tidak pernah menyatakan alutista China jelek… mana tulisan saya yang menyatakan itu??? tetapi bisa dilihat di era modern ini, dimana alutista China digunakan??? sebutkan saja dimana alutista China terlibat dalam operasi militer…
    Perkembangan teknologi China memang luar biasa, tetapi produk mereka bukanlah produk nomer satu… dan seperti itulah cara bisnis China, membanjiri negara lain dengan produk dengan harga yang praktis rendah dengan kualitas yang sebanding dengan harganya… Ingat bukan China yang pertama bergelut dalam bidang smartphone… mereka praktis mengekor dari apa yang dilakukan oleh Iphone dan Samsung… itu juga didukung karena banyaknya produk yang chased in China sehingga membantu China secara tidak langsung untuk mendapatkan teknologi tersebut…
    Percuma membanggakan riset yang belum ada ujungnya…

    Dongfeng atau Huawei mungkin Zong tong dan lainya tidak merepresentasikan kehebatan apapun…

    Level saya ada disini… bukan dimana-mana, tetapi praktis dari perkakas yang pernah saya gunakan jelas saya tidak akan menggunakan produk China sebagai pilihan jika ingin sesuatu yang presisi tahan lama dan juga stabil… itu fakta

  4. Alutsista cina memang jarang terlihat dimedan perang dikarenakan senjata buatan cina memiliki banyak kemiripan dgn senjata buatan rusia & ketika org melihat senjata cina orang akan berfikir itu adlh senjata buatan rusia spt tank,senjata api dan pesawat yg terkadang pernah digunakan dlm berbagai macam konflik spt perang vietnam, perang india pakistan,perang teluk,ataupun konflik diafrika.lagipula alutsista buatan cina juga terkadang menjadi alternatif bg negara yg tdk bs membeli senjata rusia lg pula sebagian senjata cina masih memakai suku cadang buatan rusia krn dlm pengembangan senjata terkadang cina masih berkerjasama dgn pihak rusia.

  5. Percuma kalau China masih menggunakan style mereka yang terkenal dengan kemampuan mereka meng copy… bahkan sampai ada istilah kalau Bulan bisa di buat salinan pasti China akan membuatnya… dalam hal apa saja memang China tidak ada duanya dalam urusan meniru…

    Yang seharusnya dilakukan China adalah membuat trade mark mereka sendiri… style China dengan kemampuan mereka… tetapi melakukan hal itu jelas tidak mudah, karena membuat sesuatu itu tidak bisa main kebut, memerlukan proses panjang dari perancangan pengetesan dan juga modifikasi, evaluasi, analisa dan improvisasi… yang bisa makan waktu bertahun tahun…

    China memotong itu semua dengan meng copy, sederhananya, mereka memangkas waktu untuk R&D sehingga bisa segera mengejar kemampuan memproduksi alutista mutakir… yang pada akirnya hukum alam lah yang berlaku “Jer Basuki Mawa Beya : untuk mendapatkan kemuliaan dibutuhkan kerja keras usaha dan pengorbanan”… jadi apa yang diperoleh dengan instan hasilnya sulit untuk maksimal, karena ad filosopi yang tidak mereka miliki, ada hal-hal kecil yang sangat krusial yang terlewat, ketika produk itu mengalami masalah akan jauh lebih rumit untuk mendapatkan solusinya… itu juga yang terjadi pada China…

  6. HUAWEI tdk merepresentasikan teknologi apapun???? Hahahahahaha….
    Yowis aku ngalah..

    Saat ini jagoan2 fisika dunia pada rebutan bisa berpartisipasi di Panda X, sampean malah ngomong percuma riset RADIOAKTIF yg gak ada ujungnya??? Waaaaat?

    Sekali 2 baca seJarah mas.. kira2 jepang pernah nggak invasi china di PD II. Pahami maksut saya, bos.

    Btw… hampir 80% insfrastuktur BTS2 jaringan internet di +62 pake produk china looh.. Hahahahahaha

    Apa sih susahnya akui china hebat?

    Yowis aku ngalah
    #thinkglobal

  7. Okelah, ploduk2 China memang masih di ragukan kualitasnya, bahkan TNI sendiri juga pernah di rugikan oleh Ploduk2 China (insiden giantbow di natuna & uji rudal c705). Tapi coba pikir, pilihan mana lagi di dunia ini yg paling logis dari Iran untuk negara supplier senjata yg bisa diandalkan selain China, kalau media (dan kemungkinan juga milter ) di Iran sudah parno dengan kemungkinan standard ganda Rusia, mencari supplier dari barat jelas Halu banget, kecuali mereka mau beli produk2 senjata dari negara dunia ke 3, (AFSEL, BRASIL, atau dari pindad mungkin). Bagi saya kata kunci dari artikel ini adalah “China tampaknya berinvestasi jauh lebih banyak dalam penelitian dan pengembangan untuk rudal udara ke udara, yang berarti J-10C kemungkinan akan menggunakan rudal superior di masa depan”. Bagi negara dengan ekonomi no 2 terbesar di dunia, jelas mereka sangat mampu, sedangkan bagi Rusia, oke mereka punya SDM manusia hebat, industri manufaktur yang mampu, tapi ekonomi yang stagnan adalah problem bagi riset di bidang militer bagi Rusia. Dan kalau masalah kualitas, sekali lagi orang China kalau berbisnis sangat realistis ada uang ada barang, harga berbanding lurus dengan kualitas, jadi Iran dengan sedikit sekali opsi yang tersedia, mungkin hanya menyisakan China di meja. Kualitas alutsista bisa di nego dengan Minyak, sama2 butuh.

  8. Mengejar ketertinggalan teknologi bukan ide yg tepat hanya mengandalkan risert dan memunculkan trade merk sendiri’ lihat aja produk swedia gitu2 aja tidak bisa menyamai level inggris, us, rusia atau pun prancis’ apa yg dilakukan china sudah tepat dengan cara risert dan mencuri/mengcopy teknologi produk negara lain’ pada akhirnya mereka mengeluarkan j20 trade merk sendiri meski pun ada kendala dalam pengembangan mesinnya tp seiring waktu mesin itu pasti sempurna karena usaha yg gigih dr ilmuwan china dalam hal risert dan mencuri teknologi, masalah belum teruji perang mereka punya senjata2 asli buatan rusia untuk jd patokan pengembangan kemampuan senjata produksi mereka’ pengalaman perang negara lain jg jd patokan sehingga muncullah rudal dongfeng pembunuh kapal induk,,,perkembangan china sangat2 luar biasa meski banyak mencuri teknologi negara lain, so what dengan mencuri’ apa pun caranya dan gimana pun caranya sah2 aja yg penting sangat ampuh memangkas ketertinggalan dan menyamai level negara lain, untuk melebihi negara lain china butuh waktu dan sedikit eksperimen yg lebih berani.

  9. Mengakui China hebat???

    Iya China hebat dalam membuat produk dengan harga yang jauh lebih murah… itu adalah keunggulan China jika dibandingkan dengan negara2 dengan teknologi maju seperti USA, negara2 Eropa yang terkenal perfect dalam membuat produk, Japan…
    Huawei… saya hanya menulis tidak merepresentasikan kehebatan apapun… karena kemajuan teknologi dibidang ini bukan Huawei yang menjadi pioneernya…

    Sudahlah… kalau masih eksperimental dan belum membuat sesuatu yang booming dan berguna untuk apa di bahas…

    Mau jaringan BTS2 +62 mayoritas produk China itu tidak ada hubunganya… jika ingin yang mahal dan berkualitas super ya beli dari negara2 maju lainya… jika ingin yang ekonomis dan lebih mudah didapat dengan teknologi yang sudah lumayan ya beli dari China… itu adalah hal yang biasa

    Jepang menginvasi China karena pada saat itu Jepang dalam kemajuan industri dan militer yang luar biasa sedangkan mereka kekurangan sumber alam untuk mendukung kemajuan industri sehingga mereka melakukan invasi kearah manapun mereka mampu menjangkau… tidak hanya China, bahkan mereka menginvasi Soviet, Korea, Asia tenggara bahkan target mereka adalah Australia… sesuatu yang mustahil bisa mereka lakukan di era sekarang ini…

  10. @Raden Situngkir…
    Tidak masalah jika Iran membeli alutista dari China, dan setahu saya China memang sekarang berusaha melakukan ekspansi dengan melakukan kerjasama baik itu ekonomi maupun militer dengan negara2 timur tengah… Simbiosis mutualisme, China butuh pangsa pasar, sedangkan Iran sangat membutuhkan pasokan…
    Russia jelas berperan besar bagi Iran, tetapi negara2 seperti Israel tahu betul, jika ingin mencegah kemajuan militer Iran satu2nya cara adalah berhubungan seerat mungkin dengan Russia supaya mereka bisa mencegah Iran mendapatkannya dari Russia… sudah berkali2 Israel melakukanya dengan melobi langsung ke Russia, dan dibantu dengan sangsi yang di promotori oleh USA dan sekutunya…
    Tetapi jika ingin mendapatkan pengakuan, China harus membuktikan banyak hal di medan perang sesungguhnya… itu saja…

Tinggalkan komentar