2000 Jam Terbang “Greathawk” bersama Sukhoi Su 27/30

Jakartagreater.com  –  Kolonel Pnb David Ali Hamzah dengan call sign “Greathawk” yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Personel Lanud Sultan Hasanuddin berhasil meraih 2000 jam terbang dengan pesawat Sukhoi SU 27/30.

Untuk pencapaian itu, Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI H. Haris Haryanto, pada hari Senin, 6-4-2020 menyematkan Bagde 2000 jam terbang kepada “Greathawk” di Shelter Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan.

Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI H. Haris Haryanto menyampaikan ucapan “Selamat” serta ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas prestasi yang telah membukukan total rekor 2000 Jam Terbang dengan Pesawat Tempur Sukhoi.

Pencapaian 2000 jam ini diharapkan dapat meningkatkan skill dan profesionalisme sehingga ddiaplikasikan untuk menunjang kelancaran tugas-tugas kedinasan, yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Selain itu, diharapkan keberhasilan ini dapat menjadi motivator bagi penerbang lainnya yang belum mencapai 2000 jam terbang.

Kelancaran dan prestasi “Greathawk” ini tentunya tidak lepas dari dukungan dan kerja keras seluruh personel Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin.

Danlanud Sultan Hasanuddin berharap agar tugas-tugas yang telah dilaksanakan dapat dipertahankan, menjaga profesionalisme serta disiplin, sehingga tugas-tugas ke depan dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar.

Acara ini dihadiri Komandan Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin Kolonel Pnb David Y. Tamboto, Para Kepala Dinas, Komandan Skadron Jajaran Lanud Sultan Hasanuddin serta para pejabat Staf lainnya. (tni-au.mil.id)

2 pemikiran pada “2000 Jam Terbang “Greathawk” bersama Sukhoi Su 27/30”

  1. Saya memang mendukung alutista buatan Russia… sederhana, saat ini untuk pespur terutama, yang paling modern dan paling memiliki kemampuan tinggi ya pespur buatan Russia Su-27/30… termasuk rudal yang dimiliki Indonesia untuk pespur yang termasuk komplit adalah yang digunakan oleh Sukhoi… mungkin jika tidak memiliki Sukhoi Indonesia tidak akan pernah diijinkan untuk membeli rudal sejenis AMRAAM… mungkin jika Indonesia tidak membeli Mi-35 Indonesia juga tidak akan bisa membeli Apache…

Tinggalkan komentar