Sejarah PLTN pertama Indonesia akan tertulis!!!

Akhir-akhir ini sedang heboh dengan berita rusia akan berinvestasi pembangkit listrik untuk indonesia. yang membuat heboh adalah yang dibangun ialah pembangkit listrik tenaga Nuklir atau yang biasa kita kenal adalah PLTN yang berlokasi di pulau Batam yang berdekatan dengan singapura dan Malaysia. Sebenarnya dahulu juga ada wacana singapur akan berinvestasi di batam berupa PLTN untuk memenuhi kebutuhan listrik negaranya namun itu ditanggapi dingin karena ilmu nuklir singapur sangat jauh di bawah kita yang telah memiliki 3 reaktor nuklir riset yang berada di serpong tangerang, bandung, dan Yogyakarta.

Keinginan berinvestasi rusia ini haruslah ditanggapi serius oleh pemangku kepentingan di negri ini. Ini merupakan batu loncatan kita menjadi negara maju dan sejajar dengan negara-negara pemilik PLTN. Selain itu bahan bakar dan limbah ditanggung oleh rusia sebagai negara yang berinvestasi di negri ini. Bayangkan saja 1 PLTN jenis PWR (Pressure Water Reaktor) ini mampu menghasilkan daya maksimal 3500 MW, kita anggap saja yang akan di bangun berdaya 1500 MW dan ada 5 komplek PLTN. Total ada 7500 MW, 2500 MW kita expor ke singapura, 1500 MW kita expor ke Malaysia, sisanya 3500 MW masuk sistem kelistrikan Sumatra. Kita akan menghasilkan devisa yang sangat tinggi dan terus menerus selama 365 hari dan 24 jam perhari uang yang kita dapat. Belum lagi pendapatan sampingan dari neutron yang ada di dalam teras reactor. Yup neutron ini dapat menghasilkan radionuklida yang bertujuan untuk industry dan medis.

 

Teknik pembangunan di perbatasan ini yang dilakukan oleh prancis saat german memutuskan menghentikan pengoprasian PLTN di negaranya secara bertahap dan harus mengimpor listrik dari prancis, prancis pun membangun PLTN di perbatasan German. Tujuannya jika ada hal yang tidak diinginkan negara tetangga juga merasakan, begitu juga di Batam. (Nauzubillah Minzalik). Investasi PLTN pun tergolong sangat mahal karena pembangunannya saja membutuhkan 8 tahun dan dana sebesar 30T/1000MW. Tp secara keseluruhan akan jauh lebih murah karena bahan bakar PLTN biasanya di ganti 12-18 bulan.

Kalo kita bisa, kenapa dari dulu kita tidak membangun PLTN?

Ini dikarenakan banyak oknum-oknum yang tidak ingin Indonesia maju, coba beritahu saya negara mana yg memiliki PLTN tetapi negaranya termasuk negara miskin? Jawabannya tidak ada. Oke kita lakukan perhitungan supaya gampang.

Bayangkan 1 gram U235 mampu menghasilkan 200 miliar kalori, ini setara dengan 2,5 TON batubara, 17,500 Liter minyak. Jadi berapa tambang yang akan dirugikan jika kita Indonesia memiliki PLTN??? yups inilah yang menjadi alasan terkuat kenapa mereka sangat menolak PLTN, padahal kalo yang menolak itu ditanya bagaimana cara kerja PLTN, saya yakin banyak yang tidak paham. Jika kita nekat membangun dengan menutup kuping atas demo yang terjadi, saya rasa mereka akan menerima juga karena listrik yang dihasilkan sangatlah murah. Adalagi yang mengatakan kita belum bisa karena SDM nya tidak berkualitas? Anda yakin dengan peranyaan tersebut? Kita memiliki reactor nuklir pertama tahun 1965, yaitu reactor triga mark II di bandung. Dari tahun 1965 belum terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, bahkan saya yakin yang berdemo itu umurnya di bawah 1965 yang berarti reactor kita lahir terlebih dahulu.

 

Kemudian ada yang bertanya lagi bagaimana dengan gempa? Anda ingat gempa yogya tahun 2006? Dan anda tahu reactor kartini di Yogyakarta yang berdiri pada tahun 1974? Saat gempa terjadi reactor tersebut tidak kenapa-kenapa padahal rumah yang saya tempati berjarak 150 meter dari reactor rata dengan tanah. Ini karena design dari reactor tersebut sudah tahan gempa padahal itu adalah buatan tahun 1970an. Sekarang sudah 2014 yang memiliki ilmu jauh lebih baik dari dahulu. Coba kalian googling mall hotel sahid. Yup sesuai namanya ini mall dibangun persis 100 meter dari reactor. Bisa dibayangkan warga sekitar tidak merasa ketakutan bahkan mall saja berani dibangun.

Hal yang lucu bukan. Ada yang bertanya lagi ini kan reactor riset? Anda tahu tidak reactor riset memiliki kandunggan U-235 nya sekitar 14% padahal reactor daya memiliki kandungan U-235nya sebesar 4%. (kandungan U-235 di U alami adalah 0,72%) dan tahu tidak untuk memasukan bahan bakar bukan dimasukan secara keseluruh tetapi dimasukkan 1 lempeng (reactor riset bahan bakar berupa lempeng, reactor daya berbentuk tabung) batang kendali dinaikan, dilihat dayanya, diambil datanya, diturunkan lagi batang kendalinya, dimasukkan lempeng ke 2, dinaikkan batang kendali, dilihat datanya, dst hingga ratusan Kg bahan bakar, padahal 1 lempeng hanya beberapa gram saja.

 

Dari pemaparan ini apakah masih diragukan lagi SDM Nuklir kita? Saya rasa tidak, kita harus berani nekat melawan LSM-LSM berkedok kepentingan bersama padahal kepentingan oknum saja. PLTN bukan hanya untuk Nasional tetapi juga daerah karena daerah mendapatkan 5% hasil penjualan listriknya untuk pembangunan daerah. Indonesia akan menjadi bangsa yang sangat besar, sangat dihargai jika PLTN berdiri di negri tercinta ini. Rusia sudah berminat seperti halnya kembali di zaman 60an. Kita ambil atau kita mulai tertinggal lagi seperti proyek roket Kartika kita yang terbengkalai. Jika kita ambil reactor-reaktor lainnya akan terbangun karena hasil transfer ilmu kita terhadap rusia. Tinggal kita tunggu bagaimana presiden sekarang akan bertindak. Jangan berpikir bahan bakar kita belum bisa membuat, tp berpikir bagaimana membuat PLTN 1 buah dulu. Hal yang tersulit dalam perjalanan adalah langkah pertama

salam Nuklir untuk perdamaian.

(Oleh : Love INA)

Leave a Comment