Korea Utara Pamerkan Senjata dan Jet Tempur MiG-29

Jakartagreater.com – Pekan lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un mengunjungi armada pesawat tempur yang tidak disebutkan lokasinya, dimana ia memeriksa jet tempur MiG-29 dan Su-25. Berdasarkan info yang tersedia, kunjungan tersebut kemungkinan terjadi di Sunchon Airbase, sekitar 30 mil di utara Pyongyang, tempat semua MiG-29 dan Su-25 bermarkas, lansir Bussines Insider.

Kunjungan ini memberikan beberapa wawasan langka tentang persenjataan yang dimiliki oleh Angkatan Udara dan Anti-Udara militer Korea Utara, termasuk foto pertama yang memperlihatkan jet tempur MiG-29 yang menembakkan rudal udara-ke-udara R-60 IR (AA-8 Aphid : penamaan dari NATO).

Menurut media pemerintah, “Pemimpin Tertinggi” memerintahkan armada pesawat tempur untuk berebut dan melakukan latihan udara di mana mereka “mengejar, membidik dan menjatuhkan target udara”.

Masih belum jelas target simulasi apa yang digunakan, tetapi kemungkinan itu adalah drone target, karena dilaporkan Korea Utara banyak mengembangkan drone terutama untuk serangan kamikaze dan beberapa bahkan ditemukan jatuh di Korea Selatan.

R-60 atau AA-8 Aphid adalah salah satu rudal udara-ke-udara paling ringan di dunia, dengan bobot peluncuran 44 kg dan merupakan salah satu rudal paling gesit sebelum hadirnya rudal R-73 (Archer AA-11) dan AIM-9X. Rudal Aphid yang dipandu Infra merah, dengan jangkauan hanya 8 km (atau 5 mil), juga terlihat dalam foto-foto propaganda lama dari tahun 80-an dan dalam cuplikan kokpit yang langka pada Su-25.

Rudal udara-ke-udara lainnya yang dipamerkan adalah rudal R-27R yang dipandu radar atau AA-10 Alamo-A. Rudal yang menggunakan panduan homing radar semi-aktif seperti rudal AIM-7 Sparrow milik Amerika Serikat, memiliki jangkauan maksimum 73 km atau 45 mil, yang mungkin merupakan versi standar dan bukan versi Alamo-C, yang memiliki jangkauan lebih jauh.

Senjata lain yang terlihat pada Su-25 diantaranya adalah rudal udara-ke-permukaan Kh-25ML dan Kh-29ML, pod senapan mesin SPUU-22 dan pod SPS-141 ECM.

Kh-25L (atau AS-10 Karen) dan Kh-29L (atau AS-14 Kedge) terutama masih digunakan juga oleh Angkatan Udara Rusia. Keduanya menggunakan panduan laser semi aktif dengan jangkauan sekitar 10 km atau 5,5 mil. Namun penerapannya berbeda, karena Kh-25 dengan hulu ledak HE 86 kg digunakan untuk target yang lebih kecil atau lapis baja ringan dan Kh-29 dengan hulu ledak 320 kg digunakan untuk target besar atau kendaraan lapis baja berat.

Pod senapan mesin SPUU-22 agak unik dibandingkan dengan senjata Barat, karena menggunakan laras kembar GSh-23L 23 mm autocannon yang dapat diturunkan ke bawah hingga 30 derajat, memungkinkan pesawat untuk melakukan pemberondongan senjata ke sasaran darat saat berada di level penerbangan, tanpa perlu menukik. Fitur unik lainnya adalah bahwa pod dapat dipasang juga untuk menembak di belakang pesawat atau memberondong target darat setelah melewati targetnya.

Sedangkan SPS-141 Gvozdika adalah generasi kedua dari pod ECM era Soviet dan mungkin sistem yang paling banyak digunakan dari jenis ini, dikembangkan untuk menjammer rudal anti pesawat MIM-14 Nike Hercules dan sistem rudal anti serangan udara MIM-23 Hawk, keduanya digunakan di Korea Selatan sampai beberapa tahun yang lalu.

Pod tersebut dianggap cukup efektif selama Perang Teluk saat memacetkan baterai Hawk, memaksa AS untuk meningkatkan kemampuan rudal anti pesawatnya. Pod itu bahkan digunakan pada pesawat tempur F-4F Jerman selama latihan setelah penyatuan kembali Jerman.

Ditampilkan juga senjata lainnya adalah bom jatuh bebas seri FAB dan roket tak terarah S-5 55 mm.

Sharing

Tinggalkan komentar