Typhoon VS Rafale, Mana yang Lebih Laris?

Jakartagreater.com – Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer mengumumkan awal pekan ini bahwa Jerman berencana untuk membeli 93 pesawat tempur Eurofighter Typhoon dan 45 F-18 Super Hornet untuk menggantikan pesawat pembom tempur Tornado yang sudah tua, lansir Defenseworld.

Dengan kontrak baru yang diharapkan akan segera ditandatangani, total pesanan Eurofighter akan berjumlah 145 unit. Sebelumnya Kuwait membeli 28 Typhoon pada tahun 2016 dan Qatar memesan 24 jet tempur pada tahun 2018.

Typhoon Kuwait pertama yang dilengkapi dengan radar Captor E-Scan AESA melakukan penerbangan pertamanya pada Desember tahun lalu, dan diharapkan sudah dapat memperkuat Kuwait pada akhir tahun 2020.

Pada 2019, lebih dari 550 jet tempur Typhoon telah dijual ke Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, Austria, Oman, dan Arab Saudi.

Di sisi lain, pesaing dari Eropa, yakni Rafale telah memenangkan pesanan ekspor dari India (36), Mesir (24) dan Qatar (36) – total 96 jet tempur telah dipesan. Prancis sendiri telah membeli 180 dari 286 pesawat tempur Rafale yang direncanakan.

Sayangnya, Rafale Prancis telah kehilangan penjualan di Belgia, Brasil, Kanada, Kuwait, Singapura dan Korea Selatan. Prospek penjualan Rafale dikatakan terpengaruh karena tingginya harga pembelian pesawat di samping biaya operasional yang tinggi.

Kedua jet tempur saat ini dalam perlombaan pengadaan pesawat tempur di Finlandia (program HX), Spanyol, Swiss (program Air 2030) dan Uni Emirat Arab untuk mengantongi pesanan tambahan.

Pesawat tempur Rafale dengan rudal Meteor (foto : Dassault)

Upgrade terbaru pada pesawat tempur Typhoon dan Rafale

Dassault Aviation telah mengembangkan Rafale F4 (dari generasi F3R) sejak Januari 2019 setelah menghasilkan 3 varian: Rafale-C kursi tunggal (generasi F1), Rafale-B dua kursi (generasi F2), dan Rafale-M kursi tunggal berbasis kapal induk (generasi F3).

Selain kelebihan lain seperti kemampuan helmet-mounted display, radar yang ditingkatkan dan senjata baru, Rafale F4 memperkenalkan kemampuan peperangan network-centric, yang akan menyediakan data tautan satelit dan intra-patrol links, server komunikasi, dan software defined radio.

Pada bulan November di tahun yang sama, Airbus dan para mitranya meluncurkan perincian konsep peran electronic combat role (ECR) baru yang akan memberikan jet tempur Typhoon kemampuan peperangan elektronik.

Eurofighter ECR akan dapat memberikan lokasi emitor pasif serta dapat menghadapi serangan active jamming, dan akan menawarkan berbagai konfigurasi modular untuk serangan elektronik (EA) dan suppression/destruction of enemy air defence (SEAD/DEAD). Teknologi jammer pendamping terbaru akan memastikan kendali negara dari fitur-fitur seperti data misi dan analisis data. Konsep ini juga dilengkapi konfigurasi kokpit dua kursi baru dengan multi-function panoramic touch display dan kokpit misi khusus untuk kursi belakang.

Sharing

3 pemikiran pada “Typhoon VS Rafale, Mana yang Lebih Laris?”

  1. Kalau bicara kuantitas jelas typhoon menang, tapi Deri segi bisnis Rafale menang karena keuntungan penjualan typhoon harus dibagi negara Eropa sedangkan Rafale hanya pernacis. Tapi dua2 nya tidak menarik apalagi bagi negara berkembang , karena walau kualitas bagus tapi perawatan yg terlalu rumit n kelewat mahal..

Tinggalkan komentar