Jika Su-57 Bertarung dengan F-22, yang Mana Dapat Bertahan?

Jakartagreater.com – F-22 Raptor adalah pesawat tempur superioritas udara yang luar biasa, yang masih tak terkalahkan hingga kini. Su-57 yang baru lahir sebagai penantang, belum dapat membuktikan sebagai lawan yang sepadan dan layak, meski sebagai psawat tempur generasi kelima namun masih mengalami berbagai kendala dan kekurangan.

Penunjukan resmi Rusia untuk jet tempur PAK-FA / T-50 sebagai Sukhoi Su-57 menjadikan persaingan pesawat tempur generasi kelima akan semakin ramai. Amerika Serikat, Cina, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan semuanya sedang mengerjakan desain generasi kelima mereka sendiri, tetapi sejauh ini hanya tiga pesawat, yakni F-22 Raptor, F-35 Joint Strike Fighter, dan J-20 China yang sudah beroperasi. Ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dengan NATO di satu sisi dan Rusia di sisi lain membuat orang bertanya-tanya: begitu Su-57 sudah sepenuhnya operasional, bagaimana jika suatu saat harus melawan F-22 Raptor?

F-22 memiliki fitur utama pada kemampuan silumannya, yang desain simulasinya menggunakan superkomputer Cray, superkomputer awal. Desain F-22 memaksimalkan penghindaran sensor, dengan sayap berbentuk berlian dan permukaan yang tajam. Desain bentuk pada speed brake, pintu ruang senjata, dan knalpot mesin berbentuk bergerigi untuk meminimalkan jejak radar pesawat, sementara ekor yang besar, vertikal, miring akan mengurangi jejak inframerah pesawat tempur dari sudut tertentu. Permukaan logam pesawat juga dilapisi dengan bahan penyerap radar dan cat anti radar, lansir National Interest.

Penggunaan superkomputer Cray membantu membuat F-22 sangat bermanuver, terutama pada sudut serangan yang tinggi. Fitur utama F-22 adalah penggunaan vektor dorong di sumbu pitch, yang memungkinkan pesawat untuk menggabungkan kekuatan mesin dengan manuver pada sudut serangan yang tinggi untuk mendapatkan keuntungan dalam pertempuran udara. Kanopi gelembung besar yang terbuat dari polikarbonat memberikan pilot visibilitas yang sangat baik. Kombinasi kemampuan manuver dan visibilitas berarti pilot dapat mendeteksi dan bereaksi terhadap ancaman jangkauan visual dengan cepat dan tangkas.

F-22 ini ditenagai oleh sepasang mesin turbofan afterburning F119 yang menghasilkan total daya dorong 70.000 pound, empat puluh persen lebih besar dari F-15 Eagle. Mesin memungkinkan Raptor melakukan supercruise di kecepatan Mach 1.4 tanpa afterburner, meningkatkan jangkauan pesawat – pertimbangan penting bagi pesawat yang tidak dapat membawa tangki bahan bakar eksternal.

Sensor utama pesawat, yakni radar AN / APG-77, dirancang untuk melampau ancaman musuh, mendeteksi dan membidiknya terlebih dahulu , memungkinkan F-22 untuk tidak hanya melihat, tetapi juga menembak terlebih dahulu.

Raptor memiliki tiga ruang senjata internal, dua di antaranya dapat menampung satu rudal berpemandu inframerah AIM-9M / X Sidewinder dan weapon bay di perut dapat menampung enam rudal berpemandu radar AIM-120 AMRAAM (“Slammer”) dengan jangkauan hingga enam puluh lima mil. Weapon bay di tengah juga dapat membawa amunisi presisi JDAM atau hingga empat tangki bahan bakar 600 galon. F-22 memiliki senapan mesin Gatling M61A2 enam laras, kaliber 20mm yang tersembunyi dipangkal sayap kanan dengan amunisi yang cukup untuk ditembakkan secara terus menerus selama kurang dari lima detik.

Sedangkan pada Sukhoi Su-57, meskipun sudah melakukan tujuh tahun penerbangan uji coba, banyak detail tentang pesawat masih belum diketahui.

Meskipun keduanya adalah pesawat tempur generasi kelima, Su-57 secara signifikan berbeda dalam filosofi desain dari F-22 Raptor. Raptor lebih menekankan pada kemampuan manuver dan siluman. Su-57 lebih menekankan pada kemampuan manuver dan kecepatan, yang membuatnya mirip dengan YF-23 Black Widow II.

Para ahli percaya bahwa Su-57 adalah evolusi dari desain Su-27 Flanker, dimodernisasi agar sulit dideteksi radar dengan kemampuan manuver yang lebih besar. Menurut penulis penerbangan Piotr Butowski mengklaim bahwa ketidakstabilan statis pesawat yang tinggi menjadikannya memiliki “kemampuan manuver yang lebih besar pada kecepatan supersonik daripada pesawat tempur Su-27.” Sedangkan desain sayap campuran meningkatkan volume internal untuk avionik, bahan bakar dan senjata.

Mesin Saturn izdeliye 30 pada Su-57 menghasilkan daya dorong antara 24.054 dan 35.556 pon, hampir mirip dengan mesin F119 F-22, yang mampu menggerakkan ke kecepatan supercruise hingga Mach 1,5. Sayangnya izdeliye 30 masih mengalami kesulitan, menjadikan 12 jet tempur Su-57 pertama menggunakan mesin Saturnus AL-41F1 turbofan dengan daya dorong 65.000 pound gabungan, mesin yang sama pada pesawat tempur Su-35.

Su-57 akan dilengkapi dengan sistem radar N056 Byelka (Squirrel) dan jammer peperangan elektronik L402. Radar Array L-band akan menjadi sarana utama pesawat tempur untuk mendeteksi pesawat siluman, sementara pada jangkauan yang lebih pendek, dilengkapi rangkaian elektro-optik Atoll 101KS, termasuk sistem pencarian dan penjejak inframerah, akan membantu jalur pilot dan menyerang target dengan rudal berpemandu inframerah.

Su-57 memiliki dua weapon bay yang besar hampir seluruh panjang pesawat, dan yang terbaru dua weapon bay kecil disisi samping. Setiap ruang dapat membawa hingga empat rudal jarak jauh K-77M. Dibandingkan dengan versi lawas K-77 (AA-12 Archer), rudal K-77M memiliki tubuh yang lebih besar dan sistem panduan radar active electronically-scanned array, memungkinkannya untuk menyerang target yang sangat gesit pada jarak hingga 100 mil . Su-57 juga menyimpan sepasang rudal berpandu inframerah jarak jauh K-74M2 dalam fairing.

Bagaimana jika F-22 dan Su-57 berhadapan secara langsung dalam pertempuran udara?. Prioritas desain kedua pesawat memberikan dua keunggulan yang berbeda pada jarak yang berbeda. Prioritas dan persenjataan Su-57 memungkinkannya untuk mendeteksi dan menghilangkan ancaman pada jarak jauh. Kunci dari strategi ini, radar Su-57 harus dapat mendeteksi jet siluman pada jarak jauh. Penekanan pesawat pada kecepatan memungkinkannya untuk merespon dengan cepat — atau mundur dengan cepat dari pertarungan yang tidak dapat dimenangkannya. Setelah dua petarung bertemu pada jarak dekat dengan jangkauan visual, dengan kombinasi kemampuan manuver Su-57 dan sistem pencarian dan pelacakan infra-merah, menjadikan Su-57 lawan yang mematikan.

Raptor F-22, di sisi lain, menekankan kemampuan siluman dan kemampuan bermanuver. F-22 juga dapat mendeteksi musuh pada jarak jauh, dan asalkan dapat menghindari radar musuh, F-22 dapat bertindak untuk mengatur penyergapan sebelum musuh mendeteksinya ada di daerah tersebut. Dengan demikian, F-22 memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan inisiatif serangan lebih dahulu dan memenangkan pertempuran sebelum kedua jet bertemu dalam jangkauan visual satu sama lain.

Kunci dari strategi Raptor, kemampuan siluman F-22 harus melindunginya dari mata radar Rusia yang mengintip. Dalam pertempuran udara sulit untuk mengetahui siapa yang akan menang, mengingat kita tidak tahu seberapa bermanuvernya Su-57, tetapi sistem pencarian dan pelacakan inframerah jet Rusia — sesuatu, yang tidak dimiliki oleh pesawat tempur siluman Amerika — akan menjadi keuntungan besar dalam pertempuran.

Sharing

5 pemikiran pada “Jika Su-57 Bertarung dengan F-22, yang Mana Dapat Bertahan?”

  1. Kalo secara manuver tentu SU-57 lebih unggul krn menggunakan 3D Trust Vectoring dibanding F-22 yg hanya 2D.
    Secara radar pun SU-57 lebih unggul krn bisa mengendus sang siluman.
    Hanya satu keunggulan F-22 yg tdk bisa ditandingi oleh SU-57 yaitu harganya yg selangit dng teknologi yg sdh jadul…xicixicixicixi

  2. aduh….abang di atas bisa aja.
    bukannya f 22 tiada tandingannya.tapi itu menurut uncle sam pah sih
    dari segi utk perang buatan rusia lebih baik.
    kalau hanya untuk pamer mondar mandir ya cuma f 16 yg bisa mengalahkannya.

Tinggalkan komentar