Pembelian Apache Bisa Memberatkan Filipina

Jakartagreater.com – Persetujuan Amerika Serikat atas kemungkinan penjualan enam helikopter Apache atau Viper pada 30 Maret ke Filipina dapat menutup pintu atas usulan penjualan helikopter ATAK T129 Turki ke Manila, lansir Defenseworld.

Pada bulan Desember 2019, Sekretaris Pertahanan Filipina Lorenzana mengumumkan bahwa Angkatan Udara Filipina (PAF) telah memilih ATAK T129, dan dengan anggaran Pertahanan diperkirakan US$ 250 juta, Filipina dapat membeli delapan hingga 10 unit ATAK. Sebuah nota kesepahaman (MoU) akan dilakukan kemudian untuk melanjutkan negosiasi. Namun sejak itu belum ada perkembangan akan dilakukannya MoU.

Anggaran pertahanan Terbatas, Mungkinkah Filipina Bisa Mengakusisi Apache?

Pengumuman Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa pemerintah Filipina telah meminta untuk membeli enam helikopter Boeing Apache AH-64E plus senjata, komunikasi, dan paket pemeliharaan senilai US$ 1,5 miliar atau enam Bell AH-1Z Viper dengan lebih sedikit persenjataan senilai US$ 450 Juta.

Memilih salah satu dari helikopter buatan AS telah mengejutkan karena anggaran pertahanan yang rendah dari pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte. Anggaran nasional Filipina untuk tahun 2020 adalah 188,6 miliar peso (US$ 3,6 miliar).

Ini terjadi segera setelah Manila dikatakan telah membuat kesepakatan dengan Rusia untuk membeli 17 helikopter angkut berat Mi171 senilai sekitar US$ 250 juta. Delegasi Filipina telah mengunjungi Moskow dan pesawat Helikopter Rusia di Ulan Ude dari tanggal 3-7 Maret tahun ini dan sebuah kesepakatan dikatakan sedang dibuat, kata sumber-sumber Rusia.

Kemungkiann penyebab kegagalan membeli ATAK 129 Turki (Advanced Attack and Tactical Reconnaissance) dikatakan karena penolakan Amerika atas izin ekspor untuk menjual mesin LHTEC T800-4A yang dibuat oleh Rolls-Royce dan Honeywell yang ada komponen buatan AS di dalamnya.

Namun, Turki belum menyerah pada kesepakatan dan sedang menjajaki opsi mesin lain – termasuk mengembangkan sendiri atau dengan bantuan dari sumber asing. Kesepakatan untuk menjual 30 helikopter ke Pakistan dengan harga sekitar US$ 750 Juta tidak dapat dilanjutkan karena kurangnya lisensi ekspor untuk mesin tersebut.

AS telah meminta Filipina untuk membeli helikopter untuk beberapa waktu sekarang. Pada bulan November 2019, Angkatan Udara Filipina menerima dua helikopter serang Bell AH-1 Cobra dari pemerintah Yordania yang ‘memberi hadiah’ ke Filipina.

Namun, ‘hadiah’ tersebut tampaknya telah dibiayai sebagian dari pembelian senjata AS oleh Jordan dan untuk memancing Manila agar menggunakan dan memelihara helikopter Bell.

Helikopter Bell AH-1F Cobra bekas Yordania datang dipersenjatai dengan rudal anti-tank TOW, roket Hydra 70mm dan meriam M197 20mm. ‘Hadiah’ yang murah hati dengan standar apa pun.

Dimasukkannya Boeing Apache dalam kesepakatan ini mengejutkan mengingat bahwa paket Apache harganya lebih mahal tiga kali lipat dari AH-1Z Viper yang tidak jauh perbedaan dalam kinerja dan penggunaan senjata yang hampir sama. Paket pembelian ini juga bisa memakan hampir setengah dari anggaran pertahanan tahunan Filipina.

Ancaman terhadap angkatan bersenjata Filipina datang dari teroris yang tidak memiliki sistem pertahanan udara seperti yang dimiliki oleh tentara reguler. Jadi pembelian Apache atau Viper yang bersenjata lengkap bisa dikatakan merupakan pembelian yang mahal, yang bisa memberatkan Filipina.

Sharing

4 pemikiran pada “Pembelian Apache Bisa Memberatkan Filipina”

  1. Itulah AS, dng akal liciknya. Bahkan dng sesama anggota NATO pun dia msh menjegal.
    AS maunya semua negara beli senjata dng dia. Padahal senjatanya mandul semua. Bahkan yg katanya senjata nomor 1 nya AS spt F-15, heli Apache serta tank Abramsnya cuma ditepuk bagai nyamuk saja samai merotolin nyungsep oleh rudal2 jadul jaman Soviet yg dioprek sedikit oleh milisi Houti. Itu sebabnya Perancis menyuarakan Eropa yg mandiri dr AS. Dan Jerman jg sdh perlahan mulai tidak percaya dan bergeser dr produk AS spt F-35. Krn jerman yakin itu hanya pesawat rongsok yg lemot….xicixicixicixi

  2. Pilihan terbaik bagi filipina adlh membeli helikopter viper drpd heli serang apache krn dr segi harga viper jauh lbh murah dan daya jangkauan heli viper jg lbh jauh drpd heli apache selain itu dr segi persenjataan helikopter viper memiliki kualitas persenjataan yg sama dgn heli apache.

  3. satu persatu produk militer US mulai ditinggalkan oleh konsumen dikarenakan reputasi mereka dalam memonopoli perdagangan dengan cara menjegal kompetitor.mending kontrak di hold aja biar nyungsep berjamaah dan bagi rusia cukup waktu untuk lebih memutakhirkan alutsista nya agar lebih superior

Tinggalkan komentar