Membangun Strategi Militer Indonesia Setelah Pandemi Covid-19

New Normal, New Strategy and New Capabilities

by: Sugimura Agato

Jakartagreater.com – Pandemi global memberikan perubahan secara massif dalam segala sendi diseluruh dunia tak terkecuali bagi Bangsa Indonesia khususnya dalam hal ini TNI.

Penyebaran virus yang sangat cepat menyebabkan pergerakan menjadi terbatas dan orang-orang harus menjaga jarak. Disinilah strategi New Normal mulai dipersiapkan dan dilaksanakan secara menyeluruh untuk mengurangi dampak wabah sekaligus tetap menjaga optimalitas kinerja.

Bagi TNI sendiri, pembatasan kerja tentu akan sangat berpengaruh terhadap kesiap-siagaan pasukan ditengah mulai meningkatnya tensi dan ketegangan diseluruh dunia, khususnya menyangkut ketegangan antara USA dan China di Indo-Pasifik temasuk medan Laut China Selatan yang juga berkaitan dengan teritori Indonesia di Natuna.

Untuk itu pembangunan optimalisasi asset personel, asset jaringan, suplai dan komando serta asset Alutsista harus segera dilakukan agar TNI mampu menyiapkan diri di tengah lingkungan yang serba tidak menentu.

TNI sudah sangat tanggap dalam menjaga kondisi personil di setiap barak dan pangkalan untuk sedini mungkin menekan wabah agar tidak terjadi seperti kasus yang menyerang awak kapal induk US Navy beberapa waktu lalu.

Hanya saja, untuk bisa menggerakkan asset non personil tadi perlu strategi khusus dan terfokus pada kontrol dengan jumlah operator yang minim.

Pemerintah dan Mabes TNI sebaiknya mulai mengatur dan mempercepat pembangunan dan pendayagunaan datalink dan network centric sebagai basis awal komunikasi dan kontrol asset non personil dalam penyelenggaraan operasi secara besar-besaran secara efektif dan efisien. Sistem jaringan kontra pembajakan atau hacking dan pasukan siber juga perlu dikuatkan sebagai backup datalink serta NCW.

(Network Centric Warfare. bsipk.net)

Fokus selanjutnya adalah digitalisasi asset –asset non personil termasuk Alutsista baik dengan pengadaan Alutsista baru maupun upgrade Alutsista yang ada. Digitalisasi selain akan memudahkan pengoperasian oleh awak juga akan memberikan efisiensi jumlah awak yang menoperasikannya.

Memang saat ini ada berbagai macam jenis Alutsista di luar buatan Barat seperti dari Rusia dan China, namun demi lebih memudahkan integrasi dan pengoperasian maka akan lebih baik bila dilakukan penyeragaman atau commonality pada Alutsista yang dimiliki.

Terakhir adalah memperbanyak jumlah Alutsista yang dibutuhkan dalam memenuhi Minimum Essencial Force (MEF) sekaligus mengurangi banyaknya awak operator dalam satu asset demi mendukung strategi New Normal menghindari ancaman penyebaran wabah, peningkatan efisiensi serta peningkatan optimalisasi kinerja TNI di lapangan dalam menghadapi ancaman yang sedang berlangsung di kawasan.

Sharing

2 pemikiran pada “Membangun Strategi Militer Indonesia Setelah Pandemi Covid-19”

  1. Berharap saja pemerintah tdk memangkas banyak anggaran pertahanan dikarenakan adanya wabah covid 19 sebelumnya ada wacana utk mengevaluasi pembelian kapal selam.apapun itu kesehatan dan kesejahteraan rakyat adalh yg utama di amerika saja diperkirakan covid 19 sdh membunuh lbh dr 103.000 org dgn kasus lbh dr 1.776.000 kasus.

  2. Setuju saja lah bang, penting eksekusinya …sebelum musim covid saja kita sudah megap2 pengadaan alutsista dan yg sudah adapun masih banyak yg kosongan apalagi setelah pandemi negara wajib utamakan keselamatan rakyat, celakanya yg jelas2 bakal jadi ganjelan dari upaya menyelamatkan rakyat adalah naga gila dari utara makin kemaruk utk kuasai LCS dan Laut Natuna Utara, saya yakin tak lama lagi kita akan berselisih keras dengan negara naga gila ini.
    ….Memang saat ini ada berbagai macam jenis Alutsista di luar buatan Barat seperti dari Rusia dan China, namun demi lebih memudahkan integrasi dan pengoperasian maka akan lebih baik bila dilakukan penyeragaman atau commonality pada Alutsista yang dimiliki….
    Nah ini dia celakanya saat kita ingin miliki alutsista yg mumpuni utk hadapi musuh bersahabat kita tadi, supaya jumlah Sukoi tak nanggung malah AS ancam dengan CAATSA hingga kita ketakutan utk lanjutkan kontrak, walau akhirnya narasi media seolah olah karena masalah teknis imbal beli, makin tidak bertaji kita didepan musuh bersahabat tadi. Andai AS sedikit berpihak saja dengan kita misal F16 kita boleh dilengkapi dgn top weapon bawaan dan tidak resek dgn pengadaan alutsista kita, paling tidak kehormatan negara kita masih akan dipertimbangkan oleh pengacau Natuna. Bukankah kalau kita kuat Amerika tak terlalu capek toh ndak ada sedikitpun di benak kita akan bermusuhan dengan AS ataupun negara2 bonekanya disekitar kita.
    Inti dari artikel sampeyan kan membangun strategi militer negara kita dalam bingkai New Normal ya bang….setuju saya.

Tinggalkan komentar