Pembangunan Dua Kapal Induk Helikopter Rusia

Jakartagreater.com – Kementerian Pertahanan Rusia menandatangani kontrak dengan Galangan kapal Zaliv, Kerch, Rusia, untuk pembangunan 2 kapal pendarat universal Rusia (universal landing ships -UDC) pertama dengan jumlah dana sekitar 100 miliar Rubel, dilaporkan TASS, 22-05-2020, mengutip sumber di kompleks industri militer.

“Kontrak telah ditandatangani, total biayanya sekitar 100 miliar Rubel. Peletakan kapal harus dilakukan dalam beberapa minggu mendatang, “kata sumber itu.

TASS tidak memiliki konfirmasi resmi tentang informasi kontrak. Layanan pers dari pabrik Zaliv mengatakan kepada TASS bahwa perusahaan itu secara teknis siap untuk membangun kapal induk untuk kepentingan Angkatan Laut Rusia, tetapi mencatat bahwa mereka tidak memiliki informasi tentang kesepakatan dan waktu penempatan kapal.

Seperti sumber TASS dalam industri pembuatan kapal melaporkan sebelumnya, bobot kapal dari kelas baru untuk armada Rusia akan menjadi 25 ribu ton, dengan panjang maksimum sekitar 220 meter. Satu UDC Rusia akan membawa lebih dari 20 Helikopter kelas berat di atas kapal, akan menerima ruang docking untuk pendaratan kapal dan akan dapat mengangkut hingga 900 marinir.

Kapal pendaratan universal, juga disebut pembawa helikopter, mampu membawa sekelompok helikopter berat untuk berbagai keperluan, mengangkut beberapa ratus hingga 1.000 marinir; mereka dilengkapi dengan dermaga untuk kapal, mengangkut kendaraan lapis baja. Kapal-kapal kelas ini sebelumnya berada di Federasi Rusia, dan sebelum itu mereka tidak dibangun di Uni Soviet.

Sharing

5 pemikiran pada “Pembangunan Dua Kapal Induk Helikopter Rusia”

  1. Gagal memesan kapal induk heli mistral dr perancis memotivasi rusia utk membangun kapal induk heli secara mandiri,sdh pasti tdk akan mudah utk dibangun krn kebanyakan teknologi kapal induk soviet banyak tertinggal di ukraina.

    • jsutru itu, Rusia sangat bagus dlm sumber daya pengembangan dan penerapan teknologi baru dalam militer. Tapi utk menjadi tahap Producksi, sangat lemah, krn ekonomi dan daya dukung industrinya tipis. Itu kenapa Rusia sangat kuat pubikasi kemampuan teknologi militernya, tapi AS dan Eropa tahu, Rusia lemah dalam operasionanya. Ngara yang menggunakan alutsista dari Rusia harus mempunyai alternatif jalur supply suku cadang, krn industri Rusia tdk bisa di andalkan. Harga spare part bisa sangaaat mahal dab tidak ekonomis membuat senjata tdk berfungsi. Contohnya India, SU-27 negara kita, dsb.

      • Naah itu kelemahan terbesar senjata2 rusia, chain supply nya spare partnya parah, bikin biaya perawatan n opersional bisa membengkak. Tapi memang diakui, dtengah keterbatasan ekonomi kualitas buatan mereka jempolan.

  2. Tapi setidaknya india beruntung bisa memproduksi/ merakit serta merawat SU 30 mki dinegaranya sendiri dgn tambahan bantuan dr perancis dan israel dan sedikit banyak india jg bisa membangun kapal induk dan kapal selam nuklir berkat bantuan rusia dan negara lainnya,selain itu india serta rusia jg berkerjasama membangun rudal hypersonik brahmos.

    • negara yg pernah konflik ama tetangganya ya begitu om, kemampuan insinyur2 dalam negeri blm mumpuni, deketin negara yg bersedia kasih teknologi walopun kudu bayar mahal. Kesejahteraan rakyat nomer sekian. Yg penting militer tetep greget… =D

      Tapi org india diluar negeri banyak yg hebat yaahh, banyak yg jd petinggi2 diperusahaan US.

Tinggalkan komentar