Enam F-35 Turki Diserahkan ke Angkatan Udara AS

Jakartagreater.com – National Defence Authorisation Act (NDAA) 2021 Amerika Serikat telah memberi wewenang kepada Angkatan Udara AS untuk memanfaatkan, memodifikasi, dan mengoperasikan enam pesawat F-35 yang diproduksi untuk Turki, yang tidak pernah dikirim karena Turki ditangguhkan dari program F-35, lansir Defenseworld.

Rancangan undang-undang NDAA yang diharapkan untuk disahkan menjadi undang-undang, dan berarti mengeluarkan Turki dari program F-35, setelah Turki tetap melanjutkan pembelian dan pengoperasian sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia.

Baca Juga:

Spetnaz Rusia Kini Banyak Menggunakan Perlengkapan Buatan Barat

Mengenal Kapal Selam Tenaga Nuklir Terbaru Rusia

Rusia Upgrade Helikopter Ka-52M dengan Rudal Jelajah Baru

RUU NDAA tidak menyebutkan uang muka sebesar US$ 1,5 miliar yang dibayarkan oleh Turki untuk membeli pesawat. Ankara telah meminta pengembalian dana setelah AS tidak mengirimkan dua pesawat sesuai jadwal.

Dari enam pesawat, dua pesawat digunakan untuk melatih pilot Turki sebelum terjadi sengketa dengan AS pada tahun 2018.

Tertutupnya kesempatan Turki untuk memiliki jet F-35 kemungkinan bisa membuatnya lebih dekat ke Rusia untuk pembelian jet tempur modern lain dan mempercepat upaya Turki untu membangun proyek jet tempur TX-nya.

Ada laporan bahwa Ankara dapat membalas dengan membatasi penerbangan pesawat militer AS dari pangkalan udara Incirlik Turki.

Sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan akan menjadi “perampokan” bagi Amerika Serikat yang menolak memberikan kepada Turki jet tempur F-35 yang telah dibelinya. “Jika Anda memiliki pelanggan dan pelanggan itu melakukan pembayaran dengan lancar, bagaimana Anda tidak memberi pelanggan itu barang-barang mereka? Itu namanya perampokan,” katanya kepada Hurriet Daily pada Juli 2019.

Pada Mei 2020, Direktur Industri Pertahanan Turki Ismail Demir mengatakan bahwa AS terus mengambil bagian spare part F-35 yang dibuat oleh industri Turki. “Perusahaan kami melanjutkan produksi dan pengiriman kepada mereka,” kata Demir dalam sebuah wawancara dengan Reuters.