Tanpa Musuh yang Sepadan, Akankah F-22 Pensiun Dini?

Jakartagreater.com – Pesawat tempur F-22 Raptor dirancang pada akhir 1970-an sebagai platform superioritas udara next generation, dan dikhususkan sebagai pesawat tempur superioritas udara – penerus dari fighter F-15C Eagle.

Dengan mulai masuknya pesawat tempur superioritas udara Su-27 dan pencegat MiG-31 ke dalam kekuatan udara garis depan Soviet pada tahun 1985 dan 1981, dan upgrade MiG-25 Foxbat ke standar MiG-25PD, menjadikan keunggulan F-15 semakin menipis. Situasi bisa semakin memburuk jika Soviet bergerak untuk mengembangkan desain pesawat tempur siluman dan lebih mampu seperti MiG 1.44 dan Su-47. Dengan demikian, Raptor akan dimaksudkan untuk berhadapan langsung dan lebih unggul daripada pesawat tempur terbaik Angkatan Udara Soviet, lansir Military Watch Magazine.

Sementara runtuhnya Soviet pada tahun 1991 menyebabkan tertundanya program pesawat tempur generasi berikutnya penerus F-22 Raptor AS, disisi lain Rusia terus bekerja pada pesawat tempur superioritas udara non siluman tetapi masih tangguh seperti pesawat tempur Su-37 dan Su-35.

Berakhirnya Perang Dingin dan tidak adanya persaingan kekuatan besar pada akhirnya akan mengarah pada pembatalan rencana untuk mengembangkan varian Raptor berbasis kapal induk untuk Angkatan Laut AS, termasuk juga pengurangan pesanan sebanyak 75% dari F-22 untuk Angkatan Udara.

Insiden pertempuran udara ke udara juga sangat sedikit, armada Raptor Angkatan Udara selama hampir sepuluh tahun ini tidak pernah terlibat pertempuran udara – meski sudah dikerahkan di seluruh dunia dari Jepang dan Korea Selatan ke Teluk Persia hingga ke Alaska. Program F-22 menghadapi kritik yang terus meningkat di paruh kedua tahun 2000-an dan awal 2010-an, karena pesawat tempur Amerika yang paling canggih dan mahal ini tidak memberikan kontribusi pada perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Tengah, dan pilot tidak dapat memperoleh pengalaman di misi tempur.

Amerika Serikat justru mengandalkan pesawat tempur F-14 Tomcat Angkatan Laut untuk melakukan serangan presisi di Irak di mana rangkaian sensor kuat Tomcat memungkinkannya untuk memberikan tingkat kesadaran situasional, dimana pesawat tempur Amerika Serikat lain tidak bisa menandinginya saat itu.

Sensor Raptor sebenarnya memberikan kesadaran situasional yang sebanding dan dalam banyak kasus lebih unggul daripada pesawat peringatan dini udara khusus – memungkinkan F-22 untuk beroperasi mandiri dan mengumpulkan informasi penting tentang target darat dan udara. Raptor mulai dikerahkan untuk misi serangan pada tahun 2014, menyerang posisi kelompok ISIS di Irak dan Suriah. Operasi Amerika Serikat di wilayah udara Suriah dilakukan secara ilegal dan tanpa izin dari pemerintah Suriah atau Dewan Keamanan PBB, yang berarti pesawat menghadapi risiko diserang oleh pertahanan udara Suriah atau sistem pertahanan baterai rudal. Kehadiran F-22 dapat berfungsi sebagai pencegah utama bagi pasukan Suriah, memungkinkan pesawat tempur Amerika lain untuk terus beroperasi di wilayah udara Suriah.

Misi serangan udara dalam konflik intensitas rendah seperti Suriah, dan kemudian Afghanistan, telah memberi Angkatan Udara AS beberapa pengalaman mengoperasikan Raptor dalam lingkungan tempur, seperti halnya Rusia yang berusaha mendapatkan pengalaman dengan penyebaran pesawat tempur Su-57 ke Suriah. Misi semacam itu tidak mengharuskan Raptor untuk menguji batas kemampuannya atau melakukan manuver yang rumit, yang berarti tekanan pada badan pesawat jauh lebih sedikit.

Menurut Tom McIntyre, seorang analis program Air Combat Command, pernah mengatakan kepada House Armed Services Committee pada Juni 2017, “Kami datang untuk mengetahui bahwa kami belum menerbangkan Raptor hampir sekeras sesuai misi desain (pada 1980-an-1990-an) juga tidak seperti apa yang kami temukan selama pengujian struktural, jadi sebenarnya badan pesawat itu sendiri – tanpa program perpanjangan masa pakai – masih baik hingga sekitar tahun 2060. ”

Pada akhirnya pesawat tempur F-22 bukanlah pesawat serang yang optimal. Biaya operasionalnya sangat tinggi dan kantung senjatanya terlalu dangkal untuk mengakomodasi bom muatan berat yang dibutuhkan untuk menembus benteng musuh. Dengan kondisi armada Raptor yang semakin memburuk, dan pesawat tempur pengganti FX diperkirakan baru akan mulai beroperasi pada awal 2030-an, Selain akan dilucurkannya F-15X yang berdesain yang lebih modern dan canggih, F-22 mungkin dapat pensiun dini. Mungkin sekitar tahun 2040 jika tetap tidak terlibat pertempuran udara ke udara.

Kesulitan mempertahankan operasional dan meningkatkan pesawat, dan kemampuan yang tumbuh cepat dari pesawat tempur generasi berikutnya seperti J-20 China yang mengintegrasikan banyak teknologi superior, kemungkinan akan mempercepat proses pensiun F-22.

Namun F-22 tetap akan dikenang sebagai pesawat tempur siluman pertama di dunia yang dirancang untuk pertempuran udara ke udara, dan sistem detterent penting bagi musuh Amerika Serikat, meski mungkin tidak memiliki reputasi kemenangan pertempuran udara yang tinggi seperti pesawat tempur F-15 dan F-14.