Benarkah Su-35 Lebih Tepat Bagi Indonesia?

Jakartagreater.com – Bocornya surat dari Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto kepada Menteri Pertahanan Austria mendapat banyak tanggapan dari anggota Parleman Indonesia.

Beberapa anggota parlemen menuntut agar Menteri tetap melanjutkan akuisisi pesawat tempur Su-35 Rusia yang rangkaian pembeliannya sudah berjalan, lansir Defenseworld.

“Prabowo belum membicarakan pembelian dengan kami. Saya hanya mendengar dari laporan media,” kata Meutya Hafid, Ketua Komisi I Bidang Pertahanan, Urusan Luar Negeri dan Informasi, seperti dikutip oleh Kompas.com.

Menteri pertahanan Austria Klaudia Tanner dilaporkan menerima sepucuk surat tertanggal 10 Juli dari Menteri Pertahanan Indonesia untuk mendapatkan 15 Eurofighter Typhoon, yang mengejutkan semua orang.

“Untuk mencapai target saya memodernisasi Angkatan Udara Indonesia, oleh karena itu, saya ingin mengusulkan untuk mengadakan pertimbangan resmi dengan Anda, Yang Mulia, untuk membeli semua 15 Eurofighter dari Austria untuk Angkatan Udara Republik Indonesia,” kata Prabowo dalam surat dugaan yang beredar di media sosial.

“Komisi belum membahas pembelian pesawat tempur karena kita harus melihat efek COVID-19 pada anggaran 2021. Saya mendesak Prabowo untuk mempertimbangkan pembelian itu dengan hati-hati, bukannya buru-buru melakukannya, ”kata Meutya Hafid.

Dia menambahkan bahwa pemerintah harus memprioritaskan transfer teknologi dan membeli suku cadang, lagi pula, menurutnya,” kita memiliki pesawat tempur seperti Sukhoi dan F-16.”

Sementara itu, anggota Komisi DPR Willy Aditya mengatakan rencana pembelian pesawat tempur Eurofighter Typhoon bekas dari Austria harus dipikirkan kembali.

Alasannya, pesawat itu dinilai mirip dengan pesawat tempur Sukhoi-35 buatan Rusia, yang rencana pembeliannya telah disetujui oleh Parlemen sebelumnya, kata Aditya sambil menambahkan “Pak Prabowo juga harus mempertimbangkan hal ini, ” kata Willy seperti dikutip Kompas.

Dalam hal infrastruktur, pemeliharaan, suku cadang dan peralatan, Indonesia jauh lebih siap untuk membeli Sukhoi-35. Willy menambahkan bahwa pembelian pesawat tempur yang sama dari produsen yang berbeda dianggap tidak efisien dan berpotensi meningkatkan anggaran. “Jika Anda membeli yang berbeda, maka biaya lain untuk perbaikan, perawatan, suku cadang, dan lain-lain akan berbeda. Dampaknya juga akan terkait dengan anggaran negara nanti,” kata Willy.

Indonesia telah menandatangani perjanjian dengan Rusia pada tahun 2018 untuk pembelian jet Su-35, berdasarkan kesepakatan sebagian akan dibayar tunai, dan sebagian lainnya dengan barter. Namun laporan mengatakan perundingan telah dibekukan mengenai mekanisme pembayaran dan tekanan berikutnya dari AS untuk menjatuhkan sanksi jika Jakarta membeli peralatan dari Rusia.

Sharing

21 pemikiran pada “Benarkah Su-35 Lebih Tepat Bagi Indonesia?”

  1. Jika kebutuhan SU35 perbandinganya Typhoon trace 1 bukan hanya lebih tepat tapi lebih segala-gala-galanya.
    Permasalahan sebetulnya jika jadi beli Typhon bukan apakah SU35 dilanjutkan atau tidak. Keberadaan tetangga2 tengil pro barat kebutuhan pespur dari Russia tak bisa dihindarkan.
    Justru jika Typhoon jadi dibeli lantas apakah kebutuhan pespur standar NATO untuk mengantisipasi ancaman dari utara akan berhenti pada typhoon atau tidak?
    Hal ini mengingat di era pak Ryamizard kita pernah melirik Viper sementara pak Prabowo sempat mempartimbangkan Rafale.

  2. Nahhh !!!…tepat sekali.akhirnya suara ana ada yg mewakilkan di dewan.fungsi sama2 interseptor,apa nggak terlalu boros anggaran.brarti fix itu su-35.tinggal tunggu tanggal maennya saja.tinggal US saja,mau enggak meloloskan indonesia dari CAATSA dgn kompensasi viper dsb.US lampu ijo….kelar itu urusan.

  3. Masalah alotnya SU-35 ada kaitannya dng Viper yg ditawarkan AS.
    Saat itu AS tdk mempermasalahkan jika RI beli SU-35 krn mereka jg tau kita sdh pake sukhoi sebelumnya asal RI jg beli Viper dr AS dan tidak menggunakan mata uang Dolar utk transaksi dng Rusia.
    Berkembangnya waktu, RI tdk berminat lg dng Viper krn dianggap sdh mentok pengembangannya 10 tahun mendatang. Oleh krnnya RI mengajukan penawaran utk mengakuisisi siluman F-35 sebanyak 1 Skuadron. Krn dianggap mampu menghadapi pespur china yg sukhoi KW.
    Inilah yg menjadi alotnya negosiasi, krn mereka msh berkeras hanya menawarkan Viper saja.
    Berkembangnya waktu, jika negosiasi mentok, maka plan B dijalankan, yaitu mengambil pespur dr eropa. Itu sebabnya pak prabowo lawatan ke Perancis dlm rangka membuat gerakan agar AS berpikir ulang, jika tdk diberi F-35 maka Rafale dan Typhoon pilihan logis utk menghadapi China.
    Kalo IFX sdh produksi massal mungjin kegalauan ini gak akan ada. Krn RI butuh pespur mumpuni yg bisa tersedia dlm waktu cepat buat bemper Natuna

  4. Itulah ASU benar-benar ASU,,,,,, giliran kita mau beli F35,,,,,, ASU masih mikir ribuan kali,,,, karena Singaporno dan ASUtralia punya F35,,,,, jadi Indonesia ini,, tidak boleh setara dg dua negara tersebut,,,,, kita harus di bawah mereka terus,,,, supaya kita tetap bisa mereka dikte,,,,

    Ingat,,, Warga negara Indonesia ini ada lebih dari 160 juta jiwa,,,,, ini peluang besar dari mereka utk di jadikan pangsa pasar produk mereka,,, makanya kita ngga boleh maju, harus bodoh terus,, dgn memanfaatkan para anggota hewan yg dg mudah mereka sumpel dg lembaran fulus

    ASU di lawan

  5. Ya jelaslah dr segi apa pun su35 lebih tepat bagi indonesia, sepertinya prabowo terjebak ide2 pembisik’ hati2 pan menhan iblis itu wujudnya bisa menjelma menjadi orang2 yg dekat dengan anda, niat anda mungkin baik tp niat pembisik anda selalu mengutamakan fee sehingga memberi ide tanpa perduli detail perhitungan lainnya.

  6. Udah anbil aja su35 tp jangan tanggung, langsung 3 skuadron,,,kami rakyat indonesia siap menerima konsekwensinya, paranoid jangan dipelihara’ mereka yg kasih sanksi jg punya perhitungan untuk memberi sanksi apalagi ditengah kasus lcs ini, justru ini kesempatan untuk jd alasan mendatangkan su35 lebih banyak.

  7. Tapi menurutku prabowo pengen ambil Eurofighter Typhoon austria ini bukan niat mengganti su35 tp ingin menambah kwantitas unit pespur duble engine TNI AU, kalau pun 11 unit su35 jd datang ke indonesia apakah jumlah pespur duble engine kita kwantitasnya udah cukup, apakah us ijinkan indonesia boleh beli lebih banyak su35??????? Untuk menunggu tuntasnya pengembangan ifx kita butuh pespur duble engine paling sedikit 3 skuadron, kalau lah 11 unit su35 jd datang apa jumalah pespur duble engine kita ada 3 skuadron????? Proses 11 unit su35 ini aja rumit gimana mungkin bisa beli lebih banyak, untuk bisa meningkatkan kwantitas unit pespur duble engine kita untuk sementara waktu menunggu tuntasnya pengembangan ifx gk masalah kita ambil 15 unit Eurofighter Typhoon milik austria ini, dan ide ini bagus kok asal emang bukan niat mengganti su35 tp emang karena niat meningkatkan kwantitas jumlah unit pespur duble engine kita agar bisa mendekati jumlah unit 3 skuadron.

  8. Cepat mana sih beli rudal dan pesawat tempur misal duit sedia, menurut saya pesawat2 tempur cina bukan masalah besar fakta bicara Su-27 nya keok lawan Grippen Thailand, jadi F16 dan Sukoi yg kita punya dah mampu atasi asal jumlah dan kualitas senjata melimpah, justru kapal2 perang cina di laut cina selatan yg wajib ditakuti untuk diantisipasi, caranya ya beli rudal anti kapal permukaan, rudal pertahanan pantai dan anti serangan udara yang mumpuni dan cukup jumlahnya bukan ketengan, tak perlu repot terbangkan pespur mahal biaya dan beresiko pula, cukup duduk santai sambil minum kopi pahit awasi monitor radar OHT, ngeyel mau beli pesawat mahal dengan jumlah terbatas dan duit terbatas malah diketawain cina dan ndak ngaruh besok musim ikan tetap saja tu operasi perampokan ikan di laut Natuna Utara sesuai jadwal berjalan, ndak percaya lihat saja besok

  9. Bung Ruskey,
    Mengenai Viper, … mungkin… hmmm… sekali lagi mungkin loh..
    Kita khan sudah bisa upgrade sendiri F16 Blok AB dan hasil nya jaih di atas harapan heheheh…
    Apakah mungkin kita ga jadi Viper gegara konfiden dengan Berhasilnya Upgrade F16 AB ?
    tetapi apapun itu , gw KAGAK setuju ama Typhon Trace 1 … ibarat udah ada blackpink masih pengen spice girls …. hadehhhh

  10. Terlalu banyak yang diminati; sebenarnya kalau tidak masalah dalam anggaran sih ndak apa-apa … disamping skuadron2 tempur yang demploy di titik2 lanud strategis … maka kohanudnas I-III dilengkapi juga dengan skuadron2 pencegat yang sifatnya lebih “Mobile” termasuk untuk patroli kemaritiman … yang paling dikhawatirkan terlalu banyak perhatian yang terbagi … namun target yang diinginkan tidak satupun yang tercapai karena energi dan waktu (berikut anggaran) yang digunakan dalam memilih dan memilih alutsista yang diinginkan tidak optimal.

  11. Viper jadi kok.

    F35 dikit dulu yang penting punya, ambil aja dulu yang seharusnya untuk Turki yang sedang dirakit di line produksi.

    Rafale juga jadi 32 – 48 unit hanya jika rumor usd 47 billion benar.

    Andai kata yang usd 47 billion kata si aleman itu bener maka 48 rafale plus 32 viper plus 8 f35 bakal dapat. Nggak hanya itu bahkan Scorpene, Gowind dan SAMP/T pun bisa dapat kalo pinjaman luar negeri untuk pengadaan alutsista jadi usd 47 miliar. Dibayar cicil 10 tahun nggak apa deh kayak NASAMS juga dicicil 10 tahun.

    Lha kalo Su-35 ? Yang itu sih akan selamanya digantung di tiang jemuran.

  12. Calon musuh potensial itu RRC yang ngincer Natuna makanya kalo ambil Su-35 udah nggak relevan lagi lha Cina udah tahu kelemahannya.

    Kalo si red dot dan Aussy itu kita hanya perlu waspada saja tanpa kita ambil sikap memusuhi.

    Jadi selain ambil dari Amrik, kita juga ambil dari Prapatan Ciamis. Kalo ambil dari Rusi yang kecil2 aja kayak Buresvestnik 57 mm itu sebab ekspor kita ke Rusia nilainya kecil banget.

    • Masa urusan belanja alutsita cuma dikerdilkan soal cina dan natuna? Kalo alutsista bagus militer kuat. Kalo militer kuat negara lain segan. Kita toh ga akan perang sama negara manapun. Bahkan dgn cina, hubungan dagang kita fine2 aja.
      Alutsista mumpuni mengangkat pride kita di kancah international. Negara lain akan sangat memperhitungkan saat berhadapan dgn diplomat2 kita, ga sembarangan neken2 karena tau kl sampe baku hantam sama kita kalah menang pala mereka bakal bocor2.
      Dan diakui ato enggak soal neken2 ini ostrali ma s’pore bahkan lebih rese dari cina.
      Ada satu lagi, dalam diplomasi belanja alutsista itu sendiri adl jalan persahabatan antara pembeli dan produsen senjata.
      Ayolah, suka sama produk alutsista dari negara tertentu boleh. Tapi kepentingan nasional adalah segalanya.
      Kita butuh alutsita dari Rusia spt juga kita butuh itu dari barat.
      Kita jaga negara dari ancaman cina spt jg kita jaga ia dari ancaman kaki tangan amerika.
      Titik

  13. Hla sebenarnya sederhana kok, keinginan membeli Su-35 karena memang TNI AU sudah biasa mengoperasikan Su-27/30… jadinya kan nyambung…
    Kalau urusanya lawan China ya F-16 lah yang maju… hla F-16 lawan F-18 punya USA saja berani maju masak lawan China juga ga berani???
    Kan juga ada NASAMS yang bisa digunakan untuk menghadapi China… kalau beli S-400 nanti malah di sangsi meskipun itu sebenarnya yang lebih relevan, seperti yang dilakukan India… mereka memilih S-400 untuk mengimbangi China yang juga membeli S-400…

Tinggalkan komentar