Butuh Pengganti F-5 Secepatnya, Mungkinkah Typhoon Pilihan yang Logis?

Jakartagreater.com – Beberapa waktu sebelumnya, Menteri Pertahanan Indonesia dikabarkan berminat membeli 15 pesawat tempur Eurofighter Typhoon yang saat ini dioperasikan oleh Angkatan Udara Austria.

Setelah bertahun-tahun mencari pesawat tempur baru sebagai pengganti armada F-5E Tiger, maka secara teknis Indonesia mengalami kekosongan kekuatan udara buru sergap yang handal. Bisa dikatakan Indonesia sangat membutuhkan pesawat tempur berat untuk menjaga wilayah udaranya yang luas.

Menurut Anggota Komisi I DPR RI, Bobby Adityo Rizaldi Bobby, periode Kekuatan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) II yang ideal adalah pengadaan pesawat tempur Su-35 yang baru, namun sepertinya tertunda karena belum adanya kesepakatan terkait barter dan juga adanya tekanan dari Amerika Serikat melalui Undang-Undang Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA), lansir Akurat.

Dan terkait dengan adanya pro dan kontra di media sosial perihal kemungkinan pembelian pesawat tempur Eurofighter Typhoon bekas dari Austria, menurut Bobby, Kementerian Pertahanan (Kemhan) atau TNI diminta untuk tidak terprovokasi. Bobby menyatakan bahwa idealnya Indonesia memang membeli pesawat tempur baru, tetapi Kemhan atau TNI AU lebih memahami postur pertahanan udara yang dibutuhkan.

“Menurut saya Kemhan atau TNI AU lebih paham yang dibutuhkan saat ada kekosongan postur pertahanan udara saat ini,” ungkapnya di Jakarta, pada hari Selasa (28/7/2020).

“Soal Eurofighter belum pernah dibahas di Komisi I DPR RI. Lalu terkait polemik pesawat baru dan bekas, untuk membeli pesawat baru membutuhkan waktu sedangkan kita perlu pesawat tempur pengganti F-5E,” katanya.

Bobby menyarankan agar masyarakat menyerahkan sepenuhnya kepada Kemhan atau TNI untuk memutuskannya. Namun harus tetap dipastikan tahapan-tahapan pengadaannya melalui peran Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Jangan terprovokasi hal teknis dari sosial media atau internet, Kemhan atau TNI pasti punya perhitungan strategis selain soal baru atau bekas,” kata Politikus Partai Golkar itu.

Sharing

19 pemikiran pada “Butuh Pengganti F-5 Secepatnya, Mungkinkah Typhoon Pilihan yang Logis?”

  1. Belum ada tanggapan dari menhan austria, airbus, dan negara2 pemilik eurofighter. Tidak harus tergesa-gesa. Jika paling lama waiting list adalah Viper maka pada tahun dimana ia datang belum akan ada perang di kawasan.
    Sementara jika nego diintensifkan kita jg maka besar kemungkinan SU 35 datang sebelum Viper. Asumsi serupa jg berlaku utk Rafale jika Viper batal.
    Sementara pesawat belum datang manfaatkan waktu utk mengakuisisi lebih banyak payung langit. Tambah Nassams, tambah Astros, ambil radar termutakhir di SAAB, lanjutkan tot c802-807, dan yg terpenting SEMPURNAKAN R-Han

  2. Setuju bang @Blengur, moga segera dieksekusi itu yg terpenting, radar dan rudal anti pertahanan serangan udara bisa jadi payung udara yang sangat tangguh jika para hulubalang Nusantara punya banyak, walau jumlah pesawat tempur masih amat sangat sedikit dan terbatas kemampuannya

  3. “pengadaan pesawat tempur Su-35 yang baru, namun sepertinya tertunda karena belum adanya kesepakatan terkait barter dan juga adanya tekanan dari Amerika Serikat melalui Undang-Undang Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA)”

    Gak usah sebut tidak ada kesepakatan barter karena kita malu dengarnya alasannya sebab mau beli typhon juga gak adan perjanjian barter dan tot, langsung saja bilang takut karena ditekan undang-undang caatsa

  4. bila ngebet pengen beneran dengan uero fighter typhoon,,,engak bisa engak lagi…lebih masuk akal beli dari salah satu negara konsorsium nya seperti italy atau spanyol….jangan dengan jerman atau england karna engak masuk akal ke dua negara tersebut….!!!

  5. Kalau terkait kuantitas untuk melakukan patroli wilayah udara terdepan … kayaknya lebih logis karena ketersediaannya akan lebih cepat … disamping sebagai pesawat antara untuk naik ke level berikutnya selain flanker family …

  6. masuk akal kalou langsung terima tanpa embel embel upgrade dlln nya….memang cepat…tapi kwalitas ya jangan tanya….!!!
    tapi saya rasa engak terlalu besar efek nya bagi kita….karna lima sampai sepuluh tahun kedepan semestinya kita perlu 300-400 pespur sedang ni typhoon jelas harus pensiun karna usia dan tehnologinya…!!!

  7. Jika beli typhoon apa yg ada dihangar kita 10 tahun lagi? Typhoon tentu saja, F16 A/B block 15 yg siap pensiun, F16 C/D block 52ID yg sudah upgrade setara Viper, F16 70/72 Viper, SU 27/30, SU 35, KFX/IFX. Bayangkan berapa biaya yang harus ditanggung negara untuk perawatan pespur gado2 ini? Semuanya dari generasi 4+ kebawah sedang pada saat yg sama kebutuhan pespur gen.5 sudah tidak bisa ditawar!
    Disisi lain perawatan jg dibutuhkan untuk pesawat latih dan jenis yg lain. Tuka
    -tuku duite sopo?

    Jalan saja sesuai MEF III, Viper tinggal satu step menuju F35, pespur gen 5 yg sudah tersedia di pasaran dan bisa saja kita mulai nego pembelian saat Viper mulai datang.
    Seperti juga SU 35 yg tinggal satu langkah menuju SU 57, toh barangnya akan segera diproduksi dan ia diproduksi negara yg sama.
    Apa lanjutan typhoon? Tempest masih jauh panggang dari arang batok.
    Saat KFX/IFX datang pelan2 kita museumkan F16 block 15 , atau jual siaga tau timor leste minat sehingga beban negara tidak terakumulasi.

    Aku paham rencana pembelian typhoon jg dapat pertimbangan dari orang2 pinter, sama seperti saat MEF III disusun. Tapi kalo aku diposisi menentukan kebijakan typhoon bukanlah opsi yg kuambil. Gitu aja pak lek. Jempolku dah ngilu ini.

  8. Dibandingkan dng yg akan digantikan yaitu F-5 Tiger, jelas Typhoon jauh lebih garang walaupun hanya trench 1.
    Pengadaannyapun relatif cepat. Sementara utk proses upgrade bisa secara bertahap, hingga dlm 3 tahun semua Typhoon yg dibeli sdh bisa dilengkapi teknologi terkini dan serasa baru.
    Sementara kedatangan Viper masih 50 : 50 krn akibat tekanan CAATSA, bargaining RI sdh gak minat dng Viper tp levelnya sdh naik ke F-35. Bargainingnya RI akan ambil pespur AS tp dr generasi 5 yaitu F-35 bukan Viper dan SU-35 tetap diakuisisi. Kalo F-35 tidak diberi dan SU-35 tetap dihalangi maka opsinya Rafale.
    Sedangkan opsi Typhoon adalah opsi menunggu F-35 atau SU-35 atau Rafale datang yg membutuhkan waktu paling cepat 5 tahun.
    Lalu nasib Viper.? Msh mungkin

    • Typhoon itu sendiri tak berhenti pada udah beli ya udah pak lek, buntutnya 2 kemungkinan:
      1. Typhoon diugrade dan jumlahnya akan berhenti diangka 15 biji;
      2. Typhoon diupgrade lalu jumlahnya ditingkatkan dgn tyhoon baru varian mutakhir.

      Tiap langkah ada konsekuensinya.
      Pilihamj pertama akan berakibat jenis pesawat yg makin variatif, makin variatif duitnya jg makin gede.
      Kalo ambil pilihan kedua besar memungkinkan rencana pembelian pespur jenis lain dibatalkan. Kalo Viper yg batal kecil kemungkinan Amer mau ngasih F35 segera. Tetep Ngasih si, tapi 15 tahun lagi.
      Dan kl yg batal SU 35….. aku gak rela pak Lek… Gak relaaaaaa………..!!!

  9. Taruhan keluar dari Jakarta Greater kita ndak mampu mikir rumit begini, sampai 10 tahun ke depan ndak ada pesawat tempur yang akan kita beli, sebagai bangsa besar yang kelamaan dijajah sudah mengakar mendarah daging pasrah, dipaksa, dilemahkan, tidak berdaya, diatur, dibuat tidak punya pendirian dan wajib untuk dieksplotasi walau hidup di lumbung pangan

  10. Barter masalah kecil, yg rumit klo kena caatsa apalagi ada covid19, su 35 harus datang bukan buat nakutin china tapi yg lain..strategi tni sudah bagus tinggal action aja.. f35,viper,rafale,typhoon?Hmmm…viper aja sudah pengalaman

  11. Pilihan kedua kayaknya dampaknya sama dengan dampak pilihan pertama … variasi jenis pesawat tempur semakin banyak yang memiliki konsekuensi semakin banyak dukungan logistik termasuk pembangunan sapras, perawatan, pelatihan awak dan crew darat, dan pembelian persenjataan yang baru … dengan anggaran yang besar pula; mesti ada pilihan ke 3 sebagai alat tawar …

  12. Daripada beli typhon,rafael,viper selain mahal harganya juga ga ada efek deterjennya klo dipake melindungi wilayah udara NKRI dari black fight apalgi serbuan negara lain(australala,singampret bahkan ameriki cs) klo beli f35 untuk menghadapi chino pun dirasa ga mungkin, karena NKRI adalah negara “NONBLOK”.Bila membeli su35 sepertinya seperti mw beli f35(dirasa gamungkin).Karena faktanya sekarang NKRI bukanlah negara yang”berdaulat”hal ini dibuktikan sampai tulisan ini saya publis tidak ada berita kapan kedatangan su35 di tanah ibu pertiwi ini.Padahal kontrak telah ditandatangani sekitar tahun 2018 lalu mengenai pengadaan su35.Berita yang ada dan telah menjadi rahasia umum,alasan su35 sampai detik ini belum tiba di NKRI ialah karena adanya larangan bagi negara siapa saja untuk membeli peralatan tempur canggih yang mempunyai efek deterjen bagi ameriki cs(CATSA) dalam hal ini Indonesia yang hendak mengakuisisi su35.Kesimpulannya daripada pusing dan beli pespur mahal yang tidak ada efek deterjen dan pastinya buang2 duit, lebih baik perbanyak supertukino saja buat patroli,selain ga ada efek deterjennya bagi pespur musuh harganyapun terjangkau#intermezo

  13. efek deterrent itu pada semua lini yang punya keungulan…termasuk kemandirian…baik ekomomi maupun alutsista nya…!!!
    kalou lagi tergantung engak akan pernah mencapai kata detterent…contoh arab saudi….padahal angaran militernya luar biasa besar…selalu masuk sepuluh besar dunia terus…tapi apa punya pengaruh dikawasan…???

Tinggalkan komentar