KRI REM-331 Operasi Perbatasan RI-Malaysia

Jakartagreater – KRI Raden Eddy Martadinata-331 dengan Komandan Kolonel Laut (P) Lukman Kharish dari jajaran Satkor Koarmada II, Sandar di Dermaga TNI AL Mamburungan, Lantamal XIII Tarakan, Kalimantan Utara, pada Sabtu, 8-8-2020.

Kedatangan KRI REM-331 yang sedang melaksanakan Operasi Perisai Sakti 2020 di bawah kendali Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada II di Tarakan disambut Komandan beserta jajaran pejabat utama Lantamal XIII.

KRI REM-331 Operasi Perbatasan RI-Malaysia

KRI REM-331 singgah di Tarakan untuk bekal ulang serta koordinasi dengan Pangkalan, dalam rangka mendukung tugas Operasi di daerah perbatasan.

Onboard di KRI REM-331 yang menjadi kapal Markas diantaranya Danguspurla Koarmada ll Laksamana Pertama TNI Rahmat Eko Raharjo, Asisten Operasi (Asops) Danguspurla Koarmada ll, Kolonel Laut (P) Hendry Ballo dan Asisten Logistik (Aslog) Danguspurla Koarmada ll Kolonel Laut (T) Sulastono, S.E.

KRI REM-331 Operasi Perbatasan RI-Malaysia

Danguspurla menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat dari Komandan Lantamal XIII Laksma TNI Haris Bima Bayuseto beserta jajaran.

“Kehadiran KRI REM-331 di Tarakan selain untuk bekal ulang juga dimanfaatkan menjalin sinergitas dan berkordinasi dengan Satuan di wilayah dalam rangka mendukung jalannya operasi”, ujar Danguspurla, dirilis Penerangan Koarmada II.

Sharing

8 pemikiran pada “KRI REM-331 Operasi Perbatasan RI-Malaysia”

  1. Sayangnya oerlikon ndak cukup diletakkan dibelakang bang @Tempakul sedari awal korvet class atau light fregat ini memang desain persenjataannya minimalis, alias secukupnya saja, makanya jangan sekali-kali dihadapkan dengan Jiankai class nya cina di laut cina selatan meriamnya saja 130 mm, bandingkan dengan korvet Gepard Class punya Vietnam Navy walau lebih kecil sedikit dari REM tapi persenjataannya gahar berani buat hadapi Jiankai Class.
    Tapi tak apalah kita kan negara cinta damai tak perlu senjata yg menakutkan, rakyat kita banyak kalau tentara kalah rakyat suruh maju seperti mobilisasi jaman trikora dulu mungkin….

  2. Sepertinya ndak ada yg minat bang, banyak yg belum yakin kegunaannya CIWS masih lebih percaya dengan senapan mesin single barrel dan manual pula, mungkin buat jaga2 kalau pasokan listriknya ndak stabil alias byar pet takut CIWS mejen. Sejak 75 tahun merdeka belum satupun institusi yg ngeh dgn CIWS. Bisa jadi masih yakin jika perang rudal musuh datang satu persatu per hari ataupun serangan udara musuh satu dua pesawat perhari, salvo rudal kan adanya cuma di film. Kalaupun minat baikan beli saja, kalau memang mahal ya ndak usah beli …lha mahal, barang mahal ndak mesti bagus, dan ndak mesti berguna dan penting. Kalaupun kalah perang kan lama2 musuh pergi sendiri juga, kita kan bangsa yg tahan menderita dan biasa prihatin.

  3. Yaaa ntah blum kepikiran, blum ada dananya ato ga minat ngembangin ciws utk kaprang. Padahal vital utk dipasang di kapran. Klo oerlikon kemahalan bali aja ak630, ato kopiannya versi cina bikinan norinco.

    Klo ditanya mampu apa, ilmuan2 kita pasti mampu, tinggal dukungan dari pemerintah nya aja. Kemarenan kan litbang TNI udh bisa bikin gatling walopun msh nyontek2. Tinggal kembangin lagi bisa kebikin itu ciws.

Tinggalkan komentar