Rusia Harus Buktikan Kemampuan Su-57 sebelum Diekspor

Jakartagreater.com – Su-57 diperkirakan tidak akan bisa mendapat pesanan ekspor yang besar sampai Rusia memasukkan pesawat tempur siluman itu ke Angkatan Udara Rusia (RuAF), kata Direktur Industri kompleks penerbangan Rostec Anatoly Serdyukov, lansir Defenseworld.

“Tidak mungkin akan ada permintaan yang signifikan sampai kami mengirimkan cukup pesawat di pasukan kami sendiri. Jadi, tujuan nomor satu kami adalah mengirimkan pesawat ke RuAF,” kata Serdyukov dalam komentar yang dikutip oleh TASS. Rostec adalah perusahaan induk Sukhoi yang memproduksi Su-57 dan jet lain dengan merek Sukhoi.

Namun demikian, kampanye pemasaran untuk menarik minat pelanggan asing terhadap Su-57 telah dimulai dengan peluncuran Su-57E, versi ekspor Su-57 yang ditampilkan pada acara Army 2020 yang baru saja selesai di Moskow. “Sedangkan pesawat ini kami tawarkan kepada pihak asing, kami melakukan kampanye iklan kami,” kata Serdyukov, tanpa menyebutkan negara mana sebenarnya yang berpotensi menjadi pembeli.

Selain itu, juru bicara Layanan Federal Rusia untuk Kerjasama Teknik Militer Maria Vorobyova mengungkapkan sebelumnya bahwa beberapa negara telah mengirim aplikasi mereka untuk membeli Su-57.

Pesanan RuAF untuk Su-57 bisa jadi akan segera dilakukan. Pada Mei 2019, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan dalam sebuah pertemuan bahwa 76 pesawat tempur Su-57 akan dibeli oleh Angkatan Bersenjata hingga 2028.

Setelah itu, Sukhoi Corp. mendirikan jalur produksi di Komsomolsk-on-Amur Aviation Plant (KnAAZ) dan baru-baru ini mulai mendirikan bengkel perakitan terakhir untuk mengintegrasikan jet tempur siluman Su-57.

“Pabrik perusahaan Sukhoi di Komsomolsk-on-Amur melakukan modernisasi dan peralatan ulang teknis produksi, yang memungkinkan kami untuk berhasil dan tepat waktu memenuhi pesanan Kementerian Pertahanan,” kata Direktur Jenderal PJSC Sukhoi Company Ilya Tarasenko seperti dikutip dalam pengumuman Kementerian Pertahanan.

“Sebagai bagian dari pesanan Kementerian Pertahanan, kami berencana untuk memasok dengan 76 pesawat tempur Su-57 pada tahun 2028. Beban kerja seperti itu memungkinkan kami untuk memastikan perkembangan dinamis perusahaan dan menjamin pekerjaan bagi karyawan kami,” tambahnya.

Mengenai ekspor, Turki dan India dapat menjadi pembeli potensial Su-57 mengingat rasio harga terhadap kinerja jauh lebih rendah daripada F-35 buatan AS. Namun, Su-57 saat ini tidak akan dapat memanfaatkan semua fitur yang diiklankan tanpa dilengkapi mesin “tahap kedua” yang saat ini sedang dikembangkan. Mesin baru ini diharapkan akan memberikan tenaga yang lebih besar serta kemampuan jelajah super dibandingkan mesin saat ini yang juga digunakan pada pesawat tempur Su-35.

Sharing

6 pemikiran pada “Rusia Harus Buktikan Kemampuan Su-57 sebelum Diekspor”

  1. kalau emang mau niat melawan caatsa langsung ambil su35 dan su57, jangan tanggung bila tetep disanksi caatsa’ ambil langsung su35 3 skuadron dan su57 2 skuadron, tohnya sama aja sanksinya ambil 11 unit dengan memborong,,,kebijakan2 sepihak us harus dilawan, kita juga punya kepentingan untuk dukungan alutsista sebagai jaminan keamanan nasional kita, kita bukan mau cari lawan beli alutsista tp untuk strategi bertahan saja dan tidak lebih, terserah mau mereka kasih caatsa entar mereka jg kesulitan karena sudah terlalu banyak negara yg mereka beri sanksi sehingga berpengaruh pada kekuatan eknomi mereka, liat dihantam corona ekonomi asu babak belur.

    • Setuju banget kalau begitu spt Mesir, kita sebaiknya pesan Su-35 sekalian 3 skwadron minta bonus kredit 7 korvet Gepard Class full armory spt Vietnam juga beli Su-57 langsung 2 skwadron biar ganep plus bonus kredit 48 Thor, 48 Tunguska, 36 baterai rudal Buk dan 72 baterai rudal Bastion, itu saja cukuplah dulu edisi prihatin gegara pandemi covid 19, sederhana saja lah kita….

Tinggalkan komentar