Empat Aksi TNI AL Tenggelamkan Kapal Ikan Ilegal

Tiga kapal perang baru milik TNI AL bermanuver saat latihan di perairan Laut Jawa, utara Semarang, Jawa Tengah, 28 September 2014.

TEMPO.CO, Jakarta – Kepala Dinas Penerangan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut Laksamana Pertama Manahan Simorangkir mengatakan TNI AL akan menenggelamkan tiga kapal nelayan asing ilegal di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Jumat pekan ini. Ketiga kapal tersebut akan ditenggelamkan setelah seluruh awaknya menjalani proses hukum di pengadilan.

“Ini adalah upaya kami menindak tegas kapal yang melanggar hukum,” kata Manahan dalam siaran pers, Kamis, 4 Desember 2014.

Menurut Manahan, upaya menenggelamkan kapal ilegal tersebut bukan pertama kalinya dilakukan TNI AL. Angkatan Laut sedikitnya pernah empat kali menenggelamkan kapal asing yang mencuri ikan di perairan Nusantara.  Berikut ini aksi TNI AL menenggelamkan kapal ikan ilegal:

Januari 2003
Kapal perang KRI Untung Suropati menembak hingga tenggelam empat kapal nelayan asing ilegal berbendera Filipina di perairan Sulawesi. Keempat kapal tersebut bernama F/BCA Samy, Sea Sam Pedro, F/BCA Aneka Dos, dan F/BCA Marife 02. Menurut Manahan, pemerintah Filipina sempat mengajukan protes. Namun TNI AL bergeming dengan alasan penembakan dan penenggelaman kapal sudah sesuai dengan prosedur yang benar. “Keempat kapal itu berusaha melarikan diri dan tak mengidahkan tembakan peringatan,” katanya.

April 2003
Kapal perang KRI Todak menjadi algojo bagi kapal ikan ilegal berbendera Thailand di perairan Kepulauan Anambas. Sebelum dikaramkan, awak kapal bernama KM Mina Bhakti itu sudah dievakuasi oleh KRI Todak.

Oktober 2003
Dua kapal perang TNI AL, yakni KRI Cut Nyak Dien dan KRI Anakonda, menjadi eksekutor penenggelaman dua kapal ikan ilegal berbendera Thailand. Kapal bernama KM Bumi Marina-006 dan KM Bumi Marina-027 itu tenggelam di perairan Selat Gelasa, Bangka Belitung.

November 2003
Giliran KRI Sura yang menghajar KM Karunia Laut I berbendera Thailand hingga amblas ditelan Laut Jawa. Atas peristiwa penenggelaman kapal tersebut, Perdana Menteri Thailand saat itu, Thaksin Shinawatra, menyebut aksi Indonesia terlalu berlebihan.

Sumber : TEMPO.CO

Leave a Comment