Nelayan-Aparat Bentrok di Perairan Tangerang

Nelayan menggunakan senjata tajam untuk mengusir petugas TNI AL ketika akan menertibkan bagan di pesisir pantai Kosambi, Dadap, Tangerang, Banten, 8 Desember 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat
Nelayan menggunakan senjata tajam untuk mengusir petugas TNI AL ketika akan menertibkan bagan di pesisir pantai Kosambi, Dadap, Tangerang, Banten, 8 Desember 2014. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

 

TEMPO.CO, Jakarta – Ratusan nelayan menolak normalisasi Pantai Dadap, Kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang. Mereka menolak karena pemerintah tidak memberikan dana kerahiman. “Nelayan minta dana kerahiman Rp 7 juta per orang, tapi sampai sekarang tidak dikasih. Makanya, mereka menolak,” kata Marifka Wahyu Hidayat, fotografer Tempo yang berada di lokasi kejadian, Senin, 8 Desember 2014.

Marifka Wahyu Hidayat bercerita, belasan Tentara Nasional Indonesia, polisi air, dan Satuan Polisi Pamong Praja berusaha menertibkan bangunan liar di bibir pantai. Mereka juga berniat membersihkan pantai dan laut yang dipenuhi peralatan melaut nelayan.

Namun petugas tak menyangka ratusan nelayan bersiap melawan. Jumlah petugas yang tak lebih dari 50 orang tersebut tak imbang dengan jumlah nelayan.

Seorang nalayan sempat melemparkan bom rakitan di sekitar bibir pantai. Karena itu, TNI mengejar pelaku peledakan bom rakitan itu. “Waktu TNI mau ngejar pelaku, ratusan nelayan menghadang dan berbalik mengejar petugas. Karena kewalahan, petugas mundur dan pasrah,” ujar pria 27 tahun itu.

Alhasil, perang laut terjadi sejak pagi hingga sore. Petugas tak dapat banyak bertindak karena nelayan membawa senjata seperti bom rakitan dan parang. Aksi tabrak-tabrakan kapal dan kejar-kejaran di tengah laut pun sempat terjadi. Puluhan perahu nelayan menabrak perahu dan kapal cepat petugas. “Tadinya mau ditembak sama TNI, tapi takut tersangkut pelanggaran HAM. Akhirnya, pasrah.”

Meski demikian, tak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Rencananya, petugas akan membawa personel lebih banyak lagi besok.

Sebelumnya, kawasan ini akan dibangun menjadi Kota Baru Pantura. Pemerintah Kabupaten Tangerang menggandeng Salim Group dan Agung Sedayu Group mengerjakan megaproyek ini. Dua pengembang raksasa itu akan membangun kawasan reklamasi seluas 9.000 hektare yang nantinya berbentuk pulau-pulau di sepanjang pesisir utara Tangerang dari Pantai Dadap, Kosambi, hingga Kronjo.

Kota baru akan berbentuk tujuh pulau yang terbagi dalam kawasan hunian, pusat bisnis dan jasa, kawasan industri berikut pergudangan, serta pelabuhan dan peti kemas. Luasnya beragam, mulai 2.000, 2.500, sampai 3.000 hektare. Adapun pelabuhan dibangun seluas 1.500 hektare. (TEMPO.CO)

Sharing

Tinggalkan komentar