TNI AD Ajukan Pembelian Osprey dan Blackhawk

JakartaGreater – Kepala Staf TNI AD, Jenderal TNI Andika Perkasa, telah mengusulkan pengadaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) baru yang dibutuhkan, termasuk helikopter serbu dan helikopter angkut.

“Bukan hanya Osprey saja. Dalam (daftar Alutsista) yang kami sempat usulkan ada helikopter AW juga dan Black Hawk juga,” ujar Jenderal TNI Andika Perkasa, usai meninjau latihan tempur pada Kamis 26-11-2020 di Pusat Latihan Tempur Kodiklat TNI AD, Baturaja, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan, dirilis Antara.

Alutsista ini diyakini bisa menambah kekuatan TNI AD. Kendati demikian, TNI AD tidak memaksakan untuk pembelian Alutsista tersebut mengingat saat ini sedang pandemi Covid-19.

“Tapi, sekali lagi kami siap menerima keputusan apapun karena memang kita sedang berhadapan dengan Pandemi,” kata Jenderal TNI Andika Perkasa. Melihat karakteristik wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan, kata KSAD, dibutuhkan lebih banyak helikopter.

“Helikopter angkut tadi, seharusnya kami punya yang lebih besar. Helikopter serang misalnya Apache, kami seharusnya punya lebih banyak, tidak hanya 8 saja,” ujar mantan komandan Pasukan Pengamanan Presiden ini.

Saat ini helikopter angkut yang dimiliki oleh TNI AD adalah Mil Mi-17. Meski kapasitas angkutnya sudah cukup besar, Jenderal TNI Andika Perkasa menilai perlu ada helikopter angkut yang kapasitasnya lebih besar.

Helikopter UH-60 Blackhawk – (@ Airwolfhound from Hertfordshire, UK – Commons.wikimedia)

“Ada yang lebih besar lagi yang kami perlukan,” ujar Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa.

Tetapi, TNI AD menyerahkan keputusan kepada pemerintah dan akan menggunakan Alutsista dengan sebaik mungkin. “Dengan yang kami punya. Kami sudah berusaha memaksimalkan dengan menggunakan teknologi terbaru,” ucap Jenderal TNI Andika Perkasa .

Pesawat MV-22 Osprey menggabungkan keunggulan sebuah helikopter bersayap putar (rotary wing) dengan pesawat terbang bersayap tetap (fixed wing) walau biaya operasional dan perawatan-pemeliharaannya lebih tinggi ketimbang helikopter konvensional.

Desain seperti ini dianggap sesuai dengan karakteristik geografis di Indonesia, khususnya di wilayah pedalaman, yang tidak memiliki landas pacu memadai untuk mendaratkan pesawat angkut.

9 pemikiran pada “TNI AD Ajukan Pembelian Osprey dan Blackhawk”

  1. Keinget dulu waktu magang di skadron 21-sena Penerbad pondok cabe pegang perawatan bell-402, Bell-412 gyro horizon aja cuma dipasang sebelah kiri posisi capt.pilot krna kena embargo..mayoritas indikator sebelah kanan dipreteli buat spare part kanibalan..ya maklum tahun 2002 an sih waktu itu..

  2. CH-47F/53D kok kagak disinggung sama sekali jend. padahal utk urusan angkut personel jauh lebih mumpuni dibandingkan MV-22 dan UH-60.
    yg paling terpenting dipersiapkan terlebih dahulu skill crew darat dan operator secara paripurna

    • Mereka lebih butuh jual daripada kita pengen beli osprey, tapi karena di kit jg ada urgensinya ya akhirnya ambil aja. Tentu ada “kompensasinya”.
      Misal : ” ya udah aim 120 d nya kasih banyakan buat nassams”…
      Dagang vs dagang :D

      • kalo dirunut dari awal bell boeing caper trus gayung bersambut dgn adanya minat dari kasad.tapi keputusan akhir berada sepenuhnya di kemhan.
        sedangkan utk AIM-120 sendiri pertimbangannya beli partai besar cost per unit nya jauh lebih murah + tot nya.selain itu bisa juga dioperasikan pada nassams dan F-16.

  3. Dulu beli Sukhoi katanya biaya operasionalnya mahal banget, menghabiskan anggaran negara, maintenencenya mahal, padahal sdh jelas permasalahannya kita beli Sukhoi krn mendapat embargo dr AS dan sekutunya.
    Eeee….ini malah mau beli Osprey yg jelas2 biaya operasional dan maintenancenya lebih mahal dr Sukhoi. Dan barangnyapun langka, hanya segelintir yg menggunakan. Dan yg pasti akan membebani anggaran TNI/APBN.
    Mungkin ada warjag yg akan komen, demi pertahanan negara walau biaya operasional mahal. Namun bukannya msh terbuka pilihan lainnya yaitu Chinook yg lebih handal dan banyak operatornya.

Tinggalkan komentar