Kapal Selam Rudal USS Georgia Memasuki Teluk Persia

JakartaGreater  – Hubungan antara Washington dan Teheran memburuk minggu ini setelah kapal selam AS memasuki Teluk Persia melalui Selat Hormuz pada hari Senin, 21-12-2020, dalam misi pencegahan terbaru AS terhadap Iran. Kapal selam itu didampingi oleh 2 kapal perang Amerika, ujar Angkatan Laut AS mengkonfirmasi.

“Kapal selam berpeluru kendali kelas Ohio USS Georgia (SSGN 729), bersama dengan kapal penjelajah berpeluru kendali USS Port Royal (CG 73) dan USS Philippine Sea (CG 58), transit di Selat Hormuz saat memasuki Teluk Arab”, “kata Angkatan Laut dalam sebuah pernyataan, dirilis Sputniknews, 21-12-2020.

Masuknya kapal selam AS ke Teluk Persia terjadi di tengah ketegangan yang meningkat dengan Iran, terutama setelah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyalahkan milisi yang didukung Iran atas serangan roket pada hari Minggu, 20-12-2020, di kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad.

Menurut NPR, yang mengutip sumber diplomatik AS, serangan itu menewaskan sedikitnya 1 orang warga sipil setempat. Namun, tidak ada personel kedutaan yang tewas atau terluka dalam serangan itu.

Dalam pernyataan baru-baru ini, Kedutaan Besar AS di Baghdad mengutuk serangan itu, menyebutnya sebagai “pelanggaran hukum internasional” dan merupakan serangan terhadap “kedaulatan pemerintah Irak,” lapor NPR.

“Kami menyerukan kepada semua pemimpin politik dan pemerintah Irak untuk mengambil langkah-langkah untuk mencegah serangan semacam itu dan meminta pertanggungjawaban pihak yang bertanggung jawab,” tambah pernyataan itu.

Dalam pernyataan hari Minggu, Pompeo juga mengecam serangan itu. “Amerika Serikat mengutuk keras serangan terbaru oleh milisi di Zona Internasional di Baghdad,” kata Pompeo. “Kami berharap yang terluka segera sembuh,” tambahnya.

Seorang pejabat Angkatan Laut mengonfirmasi kepada Fox News bahwa pergerakan kapal perang terbaru di Teluk Persia “telah direncanakan sejak lama” saat peringatan kematian Soleimani semakin dekat dan tidak dilakukan sebagai tanggapan atas serangan kedutaan.

Hubungan Iran dengan AS dan negara-negara lain sangat tegang setelah pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh bulan lalu, seorang ilmuwan senior Iran yang membantu memimpin program nuklir negara itu.

Ilmuwan nuklir top tewas oleh tembakan di Timur Teheran. Badan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan bahwa agen mata-mata Israel Mossad dan Organisasi Mujahidin Rakyat, sebuah kelompok militan politik Iran yang dilarang di negara itu, terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Sharing

Tinggalkan komentar