ELT Tak Terdeteksi Saat AirAsia QZ8501 Hilang Kontak

AirAsia PK-AXC
AirAsia PK-AXC

Jakarta – Peralatan bernama Emergency Locator Transmitter (ELT) kembali mencuat saat radar Basarnas tak mengetahui sinyal perangkat darurat di pesawat AirAsia QZ8501. ELT di pesawat Airbus A320 milik AirAsia itu diduga rusak sehingga tak memancarkan sinyal darurat. Sebenarnya seperti apa fungsi ELT?

Fungsi ELT yakni memancarkan sinyal radio agar lokasinya bisa diketahui sistem deteksi yang ada. Frekuensi yang dipilih untuk operasi ELT adalah 121,5 megahertz (MHz) untuk darurat penerbangan sipil dan 243 MHz untuk penerbangan militer.

Dalam operasinya, sistem penentu lokasi darurat tersebut didukung dua satelit. Yang pertama adalah satelit-satelit Geosar (Geostationary SAR) dan yang kedua adalah satelit-satelit Leosar (Low-Earth Orbit Search-and-Rescue).

Komponen Leosar saat ini didukung oleh enam satelit meteorologi , yang mengorbit pada ketinggian 850 kilometer. Setiap satelit dilengkapi dengan instrumentasi SAR, dan mengorbit Bumi dari kutub ke kutub satu kali setiap 100 menit. Setiap satelit melayang dengan kecepatan tujuh kilometer per detik, menyisir satu strip permukaan Bumi dengan lebar 4000 kilometer. Saat ini terdapat 6 (enam) satelite yang beroperasi, dinamai dengan penamaan S07, S08, S09,S10,S11,S12

Sistem Geosar didukung tiga satelit geostasioner (seperti halnya orbit Palapa, 35.000 kilometer), dua dari AS (GOES-Weast, GOES-East), 1 dari Eropa (MSG) dan satu dari India (INSAT-3D). Dengan adanya dua sistem di atas, sistem buminya pun dibuat untuk mendukung operasi Leosar dan Geosar.

ELT dapat dimanfaatkan untuk menetapkan lokasi jatuhnya pesawat di pegunungan, juga untuk memberikan pertolongan kepada kapal yang rusak di tengah laut. ELT juga bisa digunakan untuk mencari pendaki gunung yang hilang.

Namun ELT pada pesawat AirAsia yang hilang kontak di perairan antara Tanjung Pandan dengan Pontianak tidak memberikan sinyal ke markas Basarnas. Sejumlah dugaan pun mulai terlontar.

“Biasanya bunyi kalau ada benturan karena posisinya ada di dalam pesawat. Kalau terjadi benturan pada pesawat atau masuk dalam air pasti akan bunyi. Kecuali mendarat dengan halus, alat itu rusak, atau dikalibrasi ulang oleh pilet, ” kata Kepala Basarnas Jakarta, Sutrisno, di Kantor Otoritas Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta, Minggu (28/12/2014). (Detik.com).

Sharing

Tinggalkan komentar