Nasib Kesepakan Nuklir Iran di Era Biden

JakartaGreater, Washington, Amerika Serikat belum memutuskan apakah akan bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir Iran yang ditinggalkan oleh Presiden AS Donald Trump, kata dua calon keamanan nasional utama Presiden Terpilih Joe Biden pada Selasa, 19/1/2021.

Biden, yang menjabat pada Rabu, 20/1/2021 mengatakan bahwa jika Teheran melanjutkan kepatuhan ketat dengan perjanjian 2015 – di mana Iran menahan program nuklirnya dengan imbalan keringanan sanksi ekonomi – Washington juga akan melakukannya.

“Kami masih jauh dari sana,” Antony Blinken, pilihan Biden untuk menteri luar negeri, mengatakan kepada Komite Hubungan Luar Negeri Senat, dikutip Reuters, dirilis Antara.

Ia mengatakan presiden terpilih dari Partai Demokrat perlu melihat apa yang sebenarnya dilakukan Iran untuk melanjutkan mematuhi pakta tersebut.

“Kami kemudian harus mengevaluasi apakah mereka benar-benar membuat kebaikan. Jika mereka kembali untuk mematuhi kewajiban mereka, kemudian kami akan kembali ke kesepakatan,” tambahnya,

Ia mengatakan tujuan akhir Biden adalah kesepakatan yang juga membatasi program rudal Iran dan dukungan untuk regional.

Trump meninggalkan kesepakatan nuklir pada 2018 dan Iran telah secara bertahap melanggar batas-batas utamanya, membangun cadangan uranium yang diperkaya rendah, memperkaya uranium ke tingkat kemurnian yang lebih tinggi dan memasang sentrifugal dengan cara yang dilarang oleh kesepakatan tersebut.

Akibatnya, Blinken mengatakan pelaporan publik mengindikasikan waktu yang dibutuhkan Iran untuk membuat atom atau elemen yang dapat menjalani fisi nuklir hanya tiga atau empat bulan.

Berdasarkan kesepakatan, setahun merupakan waktu yang diperlukan bagi Iran untuk membuat atom atau elemen yang dapat menjalani fisi nuklir.

Pilihan Biden untuk direktur intelijen nasional, Avril Haines, sebelumnya juga menyarankan keputusan untuk kembali ke pakta itu tidak dalam waktu dekat.

“(Biden) telah mengindikasikan bahwa jika Iran kembali ke kepatuhan, dia akan mengarahkan bahwa kami akan juga kembali ke kesepakatan nuklir itu. Dan saya pikir, terus terang, bahwa kami masih jauh dari itu,” katanya.