PBB Sambut Kesepakatan New START Rusia-AS

JakartaGreater  –  Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu, 3-2-2021 menyambut baik perpanjangan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New Strategic Arms Reduction Treaty/New START) antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia selama 5 tahun.

“Kami menyambut baik perpanjangan tersebut, perpanjangan 5 tahun dari New START sebagai sarana untuk menjaga batas yang dapat diverifikasi terkait persenjataan nuklir terbesar di dunia, dan saya pikir ini adalah langkah pertama untuk memperbarui sistem kontrol senjata nuklir itu,” kata Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dirilis Xinhua.

“Dari sudut pandang kami, kami mendorong baik Rusia maupun AS agar menggunakan 5 tahun ke depan ini untuk menegosiasikan pengurangan lebih lanjut dalam hal senjata nuklir mereka, serta perjanjian baru yang dapat mengatasi berbagai tantangan senjata nuklir yang muncul di zaman kita dan menjadikan dunia tempat yang lebih baik,” katanya dalam konferensi pers harian.

Dujarric berharap lebih banyak negara yang memiliki senjata nuklir akan bergabung dalam upaya pelucutan senjata nuklir. “Jelas bahwa jika semakin banyak negara yang memiliki senjata nuklir terlibat dalam pembicaraan soal pelucutan senjata dan bergerak menuju dunia tanpa senjata nuklir, situasi pun akan menjadi lebih baik bagi kita semua,” lanjutnya.

Ditandatangani pada April 2010 oleh AS dan Rusia, New START membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat diluncurkan menjadi 1.550 serta Rudal dan pengebom menjadi 700 untuk masing-masing negara. Perjanjian tersebut mulai berlaku pada 5 Februari 2011, dan seharusnya berakhir pada 5 Februari 2021 mendatang.

AS dan Rusia pada Rabu resmi mengumumkan perpanjangan perjanjian itu selama 5 tahun, periode maksimum yang diizinkan dalam pakta tersebut, 2 hari sebelum berakhirnya masa berlaku perjanjian.

Tahun lalu, pemerintah AS sebelumnya yang dipimpin oleh Donald Trump berupaya menetapkan masa perpanjangan yang lebih singkat untuk perjanjian tersebut setelah serangkaian negosiasi dengan Rusia.

Namun, ke-2 pihak gagal menghasilkan sebuah kesepakatan formal. Segera setelah mulai menjabat, Presiden AS Joe Biden mengusulkan perpanjangan 5 tahun penuh, sebuah langkah yang disambut baik oleh Kremlin.