Des 202018
 

Citra komputer jet tempur experimental generasi 4.5 KF-X/IF-X produksi Indonesia-Korea Selatan © Chosun

JakartaGreater.com – Bilamana proses pengembangan jet tempur multiperan buatan Korea Selatan dan Indonesia yakni KF-X/IF-X berjalan dengan lancar maka kelompok pertama jet tempur generasi 4.5 ini akan memasuki masa dinas aktifnya untuk Angkatan Udara Korea Selatan (RoKAF) pada tahun 2026. Menyusul kemudian TNI AU akan mendapatkan IF-X, seperti dilansir dari laman Angkasa Review pada hari Senin, 10/12/2018.

Saat melaksanakan jumpa pers mengenai sosialisasi hasil PDR (Preliminary Design Review) program jet tempur multiperan KF-X/IF-X yang diadakan PT Dirgantara Indonesia di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta hari Kamis lalu, sempat ditanyakan jumlah yang akan dibeli oleh TNI AU kepada Heri Yansyah, Program Manager KF-X/IF-X PTDI.

“Berdasar MoU – nota kesepahaman – TNI AU akan mendapatkan sebanyak tiga skadron tempur. Seluruh pesawat IF-X nantinya akan di produksi oleh PTDI”, kata Heri Yansyah.

Disebutkan bahwa dalam satu skadron jet tempur IF-X akan berisi 16 pesawat, berarti total untuk tiga skuadron tempur adalah sebanyak 48 unit pesawat IF-X akan memperkuat sayap TNI Angkatan Udara.

Desain jet tempur multiperan masa depan hasil kerjasama Korea Selatan dengan Indonesia, KF-X/IF-X. © Aviation

Berdasar informasi yang beredar, pabrikan Korea Aerospace Industries akan membangun sebanyak 120 unit jet tempur multiperan KF-X untuk RoKAF atau berkurang dari rencana sebelumnya yakni 130 unit. Jet tempur KF-X didapuk sebagai pengganti jet tempur usang milik RoKAF yakni armada jet tempur F-5E/F Tiger II dan F-4 Phantom II.

Lalu bagaimana dengan TNI AU sendiri?

Seperti dikutip dari lama resmi TNI Angkatan Udara (tni-au.mil.id), disana disebut bahwa dalam Program Pembangunan Kekuatan (Probangkuat), TNI AU berencana menambah 3 skuadron tempur baru termasuk penambahan 2 skadron pesawat angkut, satu skuadron helikopter, serta 2 skuadron pesawat terbang tanpa awak (PTTA).

Selain adanya kebutuhan untuk mengisi 3 skuadron pesawat tempur baru tersebut, sekarang ini, TNI AU juga tengah mempertimbangkan untuk mencari pengganti armada jet tempur ringan multiperan keluarga Hawk 100/200 buatan BAE Systems, Inggris.

Armada jet tempur BAE Hawk TNI Angkatan Udara © TNI AU via Wikimedia Commons

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa armada jet tempur ringan Hawk 100/200 hingga saat ini masih menjadi andalan bagi Skadron Udara 1 di Pontianak dan Skadron Udara 12 di Pekanbaru.

Pada tahun 2026 nanti, seluruh armada jet tempur Hawk 100/200 ini akan memasuki masa dinas selama tiga dasawarsa. Tersiar kabar bahwa calon penerus yang kini ditimang-timang sebagai pengganti diantaranya adalah Saab Gripen buatan Swedia, F-16 Viper buatan AS dan FA-50 buatan Korea Selatan.

Beberapa sumber lainnya juga menyebutkan bahwa selain jet-jet tempur diatas, termasuk pula LCA Tejas buatan India, JF-17 Thunder buatan Pakistan serta Kowsar buatan Iran kini masuk dalam bursa pengganti armada Hawk 100/200. Dan tentunya peluang juga terbuka lebar untuk jet tempur multiperan IF-X bila pesawat tempur generasi 4.5 ini tersedia tepat pada waktunya.

jakartagreater.com

  25 Responses to “3 Skadron Tempur IF-X Ditargetkan Perkuat TNI AU”

  1.  

    Semoga anggaran TNI mulai ditingkatkan hingga 2% dari PDB sehingga 2022 sudah bisa memesan F-35 sebagai tandem IFX. Amiin.

  2.  

    Untuk pengganti Hawk lebih baik IFX saja.
    Kan bisa diproduksi didalam negeri,kalau nanti sudah bisa diproduksi massal.

  3.  

    katanya putin tahun ini datang ke indonesia kok di tunda lg tahun dpan setelah pilpres

  4.  

    Ingat…..3 skuadron pesawat tempur baru akan diisi oleh IFX bukan Viper spt yg dikibulkan org yg biasa ngitung dimari, yg skrng sdh lengser ke tetangga cari mangsa baru yg gampang dikibulin….xicixicixi

    Viper pengganti Hawk 100/200, kalo gak disalip F-50 golden Eagel….xicixicixi

  5.  

    bilamana…..

    •  

      justru setelah melihat progress Su-57 yg signifikan, mau ga mau ya indonesia juga harus mengikuti trend yg berlangsung, yaitu memiliki pespur gen 5……..
      sukro dan F-16 itu masih masuk gen 4, 4++ juga masuk gen 4……..
      maka untuk mengejar ketertinggalan, ya ilmu praktek nya juga dikembangkan, yaitu dengan joinan dengan KFX,,,,,,,,

      yg jadi perbandingan itu Su-57 bukan F-16 atau F-35……..

  6.  

    justru setelah melihat progress F-35 yg signifikan, mau ga mau ya indonesia juga harus mengikuti trend yg berlangsung, yaitu memiliki pespur gen 5……..
    sukro dan F-16 itu masih masuk gen 4, 4++ juga masuk gen 4……..
    maka untuk mengejar ketertinggalan, ya ilmu praktek nya juga dikembangkan, yaitu dengan joinan dengan KFX,,,,,,,,

    yg jadi perbandingan itu F-35 bukan sukro atau su-57………..

  7.  

    Akankah kedepan ifx di PT.DI bs ditingkatkan menjadi blok II dan III agar bs jd gen5++?

  8.  

    Kalaupun jadi beli pesawat te Iran…kowsar….siap2 jadi bulan2an lawan….pesawat ceketer kok di beli

  9.  

    Tidak ada perbedaan Kowsar dengan burung besi lainnya. Sama2 besi yang terbang. Yang membedakan hanya disisi Avionik, radar, mesin dan rudal yang di usungnya. Jangan dikira bentuk Kowsar sangat jadul mirip F5, tapi bila pesawat jadul di upgrade avionik, radar, mesin & rudalnya dengan teknologi yang melampau masanya maka kelas nya sudah sejajar dengan F16 atau SU 35 atau malah lebih. Apalagi kabarnya Kowsar dilengkapi radar yang hanya di miliki dengan teknologi Iran dan rudal Fakour (BVRAAM/beyond visual range air-to-air missile) ) yang merupakan upgrade rekayasa Engineering terbalik dari rudal AIM-54 Phoenix yang khusus di ciptakan untuk F-14 Tomcat.