Transfer Teknologi, Proses Tunjuk dan Ajar

transfer teknologi

Assalamualaikum, warohmatullahiwabarokatuhu
Patokan penilaian kita pada diskusi hari ini adalah belajar dari pengalaman

Pengalaman Pertama
Teman, ingatkah ketika kita duduk di sekolah dasar dahulu, kita diminta membawa potongan-potongan lidi (batang pada daun kelapa) guna membantu kita dalam pelajaran berhitung. Lama kelamaan, perlahan-lahan, guru-guru kita menanamkan kemampuan ‘mencongak’ pada kepala kita.

Berkat kegigihan dan kesabaran guru-guru kita, kita mahir menghitung cepat dan mempergunakan ilmu berhitung itu dalam kehidupan keseharian kita.

Di masa kecil kita, saat jajan di warung, kita bisa dengan tepat menghitung berapa uang yang akan dibayarkan kepada pemilik warung dan berapa ‘sosok’ (sosok = uang kembalian, jambi) yang kita terima dari pemilik warung.

Nah, proses pengajaran berhitung tersebut juga merupakan proses ‘transfer of technology, tot’.

Kemampuan kita mempergunakan ilmu itu pada berbagai aplikasi dalam kehidupan kita merupakan manfaat dari transfer teknologi itu

Pengalaman Kedua
Teman, masih ingatkah dahulu ketika mengerjakan prakarya tertentu, guru-guru kita mempertontonkan kepada sebentuk prakarya yang sudah jadi.

Guru-guru kita kemudian menjabarkan bahan-bahan apa saja yang diperlukan guna membentuk prakarya itu dan alat-alat apa saja yang akan dipergunakan.

Di hari yang ditentukan, kita kemudian mengamati secara beramai-ramai, guru kita mempraktekkan proses pengerjaan prakarya tadi, dan tidak berhenti sebatas itu, kita pun diminta membuat benda yang serupa, mengerjakan sendiri tugas kita dibawah pengawasan penuh beliau.

Pengalaman masa lalu kita merupakan bukti sederhana proses transfer teknologi dengan metode ‘learning by seeing’, belajar dengan mengamati diikuti dengan proses ‘learning by doing’, belajar dengan mempraktekkan

Pengalaman Ketiga
Guru keterampilan saya, dahulu pernah memperlihatkan sebentuk rumah adat minangkabau yang terbuat dari triplek. Rumah itu dapat dibongkar, karena tiap dinding melekat berkat celah yang terdapat pada pinggiran tiap sisi. Sisi depan dan belakang dari rumah triplek tersebut dapat menyatu sempurna dengan bagian sisi kanan dan kiri berkat celah yang ada.

Silahkan google dengan kata pandu – kerajinan dari tripleks
Bahan yang diperlukan adalah potongan-potongan triplek (diutamakan yang bekas atau sisa potongan), amplas kayu serta alat yang dipergunakan adalah gergaji triplek.

Masih melekat di ingatan saya, bahwa kemudian kami ditugaskan untuk membuat benda lain dengan mempergunakan metode konstruksi yang sama. Pilihannya bebas, terserah tiap siswa. Saya memutuskan membuat sebuah gerobak kayu yang ditarik oleh seekor sapi. Tidak sempurna, tapi untuk ukuran anak kelas 4 SD, cukupanlah. Hasil kerja saya ditampilkan pada pameran pembangunan propinsi… hehehe.
Teman, proses pembelajaran yang diterapkan pada saya adalah metode ‘reverseengineering’, metode rekayasa balik atau rekayasa mundur

Alhamdulilllah
Alhamdulillah, berkat guru saya, saya tidak perlu repot-repot membawa kalkulator setiap kali saya ingin berbelanja di warung atau membayar biaya parkir

Alhamdullah, berkat metode ‘learning by seeing’ saya bisa langsung menemukan solusi tiap kali saya menemukan masalah dalam pengerjaan tugas saya, karena guru saya selalu menemani saya dalam proses pengerjaan dari awal hingga tahap akhir.

Alhamdulillah, berkat metode ‘reverseengineering’ saya bisa mengembangkan imajinasi saya, menciptakan bentuk-bentuk bangunan lain melalui metode konstruksi yang sama bahkan dengan metode yang saya anggap lebih baik dan lebih tepat.

Semua berkat guru saya, semoga Allah memudahkan urusan mereka dimanapun mereka berada

Penutup
Teman, saya rasa tidaklah perlu saya jelaskan panjang lebar betapa pentingnya proses transfer teknologi bagi kita sebagai individu atau bahkan bagi negara dalam aspek pertahanan.

Saya yakin, guru-guru kita telah menanamkan dalam benak-benak kita, kearifan untuk memahami sesuatu yang tersirat dari yang tersurat, dalam bahasa minang istilahnya ‘to readbetween the lines’.

Atau apakah anda termasuk golongan orang-orang yang berpendapat bahwa transfer teknologi ilmu berhitung merupakan ilmu yang sudah kadaluwarsa dan tidak perlu dipelajari lagi… saya angkat tangan jika anda tetap pada pendirian anda… hidup anda, terserah anda teman.

* Salam hangat dari JKGR Biro Jambi. Afiq0110

Tinggalkan komentar