Out of the box – the imitationgame

Mari mencoba sesuatu yang baru

Peringatan : Teman, karena keterbatasan saya, saya tidak bisa bercerita banyak tentang jalannya perang dunia kedua kepada anda. Anda terpaksa harus lebih aktif, bertanya pada mbah google jika ada bagian-bagian yang tidak anda pahami. Atau jika Bung Wehrmacht berkenan untuk bergabung bersama kita, kapasitas pemahaman beliau tentang perang dunia kedua akan amat membantu kita pada artikel ini

Sabtu, 31 Januari 2015, 02.03 WIB

Saya baru saja menyelesaikan tontonan saya, sebuah cerita tentang Christopher, mesin yang diciptakan ilmuwan Inggris guna melawan mesin Enigma buatan Jerman

Pertama-tama saya harus mengakui bahwa saya menonton film dengan judul The ImitationGame ini lewat DVD bajakan. Maaf, film resmi kelewat mahal, kantong saya nggak kuat buat belinya.

Film itu menceritakan tentang perjalanan hidup Alan Turing, seorang ahli matematika Inggris, terutama fragmen hidupnya di bangku pendidikan dasar (mungkin setara SMP) dan di masa perang dunia kedua.

Film itu terutama bercerita tentang proses penciptaan mesin tandingan untuk Enigma. Teman…, anda dapat menikmati langsung proses penciptaan mesin itu lewat film-nya, jauh lebih menyenangkan ketimbang saya ceritakan film itu secara detail. I will spoil the fun.

Ada bagian dari film itu yang menarik perhatian saya. Pertama, bahwa keberhasilan Inggris dalam memecahkan kode sandi yang dihasilkan Enigma tidaklah dipublikasikan, melainkan tetap dirahasiakan hingga akhir perang dunia kedua, bahkan bertahun-tahun sesudahnyaKedua, bahwa untuk mengelabui Jerman, Inggris dari waktu ke waktu mengorbankan armada laut mereka selama kerugian yang ditimbulkan terkalkulasi dan dapat memberikan keuntungan jangka panjang. Ketiga, kontra intelijen yang dilakukan MI6 terhadap divisi intelijen Sovyet.

Saya teringat riuh rendah diskusi kita ketika berita tentang kemungkinan intervensi asing dalam menyusun renstra tni

Mudah-mudahan kegusaran anda akan berita itu bisa sedikit terobati lewat penggambaran kegiatan intelijen yang disajikan pada film itu.

Point pertama dan ketiga sebenarnya memiliki benang merah-nya, yaitu perang MI 6 dalam memainkan kegiatan kontra intelijen.

Poin Pertama – keberhasilan Inggris dalam memecahkan kode sandi yang dihasilkan Enigma tidaklah dipublikasikan, melainkan tetap dirahasiakan hingga akhir perang dunia kedua.

Poin pertama, dibuktikan dengan penciptaan berita palsu yang paling masuk akal guna menutupi keberhasilan sekutu dalam menyelamatkan konvoi-konvoi mereka dari serigala-serigala laut Jerman, U Boats. Atau keberhasilan pasukan udara dan darat sekutu dalam beberapa teater pertempuran, yang pada real-nya sebenarnya dimungkinkan karena kode enigma berhasil dipecahkan, namun dalam pemberitaan, dinyatakan bahwa kemenangan-kemenangan itu semata-mata karena kepiawaian manuver para jenderal dan semangat juang para prajurit.

Operasi Market Garden dalam sorotan Media

Poin pertama, juga membuat saya berfikir, apakah operasi Market Garden memang gagal karena perencanaan yang kurang matang, ataukah sedari awal memang direncanakan untuk gagal. Apakah pengorbanan para prajurit sekutu pada Battle of the Bulge memang tidak dapat dihindari ataukah itu memang bagian dari sebuah rencana kontra intelijen yang serupa.

Poin Ketiga – kontra intelijen yang dilakukan MI6 terhadap divisi intelijen Sovyet.

Yang paling menarik perhatian saya. MI6, divisi intelijen Inggris, secara sadar membiarkan Uni Sovyet menyusupkan salah seorang mata-matanya dalam tim ahli yang dibentuk guna memecahkan kode-kode yang dihasilkan Enigma. Mereka membiarkan mata-mata Sovyet itu membocorkan aliran informasi palsu kepada Stalin. Mereka memanfaatkan Stalin bergerak berdasarkan aliran informasi palsu tadi dalam menghadapi Jerman. Kegiatan kontra intelijen ini mengingatkan saya pada buku SpyCatcher.

MI6 bergerak atas inisiatif sendiri menentukan jalannya peperangan bahkan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Winston Churchill.

Nah, di sini masalah nya mulai menarik perhatian saya. MI6 tak ubahnya BIN kita. Saya tidak bisa menilai apakah kualitas BIN sudah menyamai kinerja MI6, saya bukanlah anggota BIN, saya tidak memiliki kapabilitas untuk menilai itu. Tapi yang saya tahu, MI6 telah berdiri lebih lama ketimbang BIN kita, pengalaman dalam hal ini amatlah menentukan profesionalitas lembaga.

Jika MI6 pada saat itu bisa melakukan manuver di luar persetujuan Churchill, apakah BIN kita juga pernah melakukan hal yang serupa ? Jika BIN pernah melakukan hal yang serupa… apakah BIN sekarang masih memiliki kekuasaan dan kewenangan yang hampir tidak terbatas itu.

Jika anda mencoba berargumen dengan memakai landasan Undang Undang… yakinkah anda bahwa sistim kontrol sudah diciptakan dengan cara yang tepat untuk mengekang dan membatasi lembaga intelijen kita… yakinkah anda bahwa anggota BIN akan patuh pada Undang-undang itu…

Lembaga intelijen acap kali dipakai untuk tujuan yang bertentangan dengan kepentingan negara. Sejarah membuktikan setidaknya MI6 melakukan hal itu melalui film tadi.

Masih ingat skandal Watergate yang akhirnya menjatuhkan Nixon… jangan lupa googling ketika terbentur informasi.

Indonesia, negara kita memiliki pengalaman buruk terkait lembaga intelijen. Saya percaya, kerusuhan Priok merupakan skenario besar pemerintah dalam ketakutannya akan kekuatan Islam yang mereka anggap radikal.Hmmm… cicak vs buaya jilid 3 apakah juga dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari kerja intelijen Polri ?

Hehehe… membicarakan teori konspirasi memang menyenangkan dan bikin kita ketagihan… Bung STMJ, Bung Satrio, Pak Puh dan Papa Augusta paling jago dalam bahasan itu. Saya cuma penggembira… banyaklah bertanya pada mereka.

Kita kembali pada pertanyaan pokok… Yakinkah anda bahwa anggota BIN akan patuh pada Undang-undang itu ?

Saya mencoba menenangkan hati saya dengan pernyataan,… Keimanan mereka akan memandu para anggota BIN kita dalam melaksanakan tugas-tugas negara. Mudah-mudahan para anggota BIN secara sistematis diberikan pemahaman keagaamaan yang kuat… dan saya berdoa semoga Allah membantu mereka dalam memilih dan memilah antara kepentingan pribadi mereka, kepentingan pimpinan mereka dan kepentingan-kepentingan negara dan meletakkan kepentingan negara di atas sebagai prioritas utama

Kemudian timbul pertanyaan baru… Sudahkah negara secara sistematis menciptakan sistim yang berguna dalam menghasilkan individu-individu yang tidak hanya profesional tapi juga berakhlaq dan beriman ?

Hmmm… saya menyerah… mungkin anda bisa membantu saya lewat kelebihan informasi yang anda miliki.

Tidaklah adil jika kita hanya memandang sisi negatif dari besarnya kekuasaan makhluk intelijen tanpa mencoba memahami beratnya kehidupan mereka dan betapa sebenarnya mereka boleh jadi amat berjasa dalam kehidupan kita

Melalui film tadi, tergambar bahwa walaupun secara harfiah merekalah yang berhasil menuntun Inggris dan sekutu dalam memenangkan perang dunia kedua, namun para ilmuwan inggris dan personel MI6 tidak dapat memproklamirkan dirinya kehadapan masyarakatnya.

Alih-alih, mereka malah diperintahkan memusnahkan semua hal yang berkaitan dengan aktifitas mereka selama perang. Menjadi pahlawan tanpa tanda jasa… itulah sosok-sosok makhluk intelijen sebenarnya.

Ketika mereka salah, semua telunjuk mengarah ke hidung mereka… ketika mereka berjasa, kita bahkan tidak menyadarinya.

Salut saya untuk anda, wahai teman teman ku dari divisi intelijen… semoga Allah membimbing anda.

Maaf

Jika bahasan saya terkesan membosankan, saya minta maaf. Jika kemudian anda merasa saya terkesan menggurui, saya pun minta maaf. Kurangnya pengalaman dan sempitnya wawasan saya membuat saya acapkali tidak tepat dalam membahasakan pikiran-pikiran saya

Salam hangat dari JKGR Biro Jambi, Afiq0110

Leave a Comment