Gaet Proton, Presiden Dinilai Matikan Mobil Lokal

Mobil Proton

Asosiasi Industri Automotif Nusantara (Asia Nusa) meminta Presiden Joko Widodo konsisten dalam program mobil nasional yang kembali dirintis pelaku usaha otomotif lokal sejak 2010 silam. Desakan ini menyusul adanya rencana kerjasama antara pabrikan mobil asal Malaysia, Proton Holdings Berhad dengan PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL), untuk program mobil nasional Indonesia yang disaksikan Presiden Jokowi, Jumat (6/2) di Malaysia.

“Harus diingat tidak ada satupun negara maju di dunia yang tidak memiliki produknya (mobil) sendiri. Kalau sampai akhirnya program mobnas bekerjasama dengan Malaysia, apa bisa Indonesia menjadi negara maju?” tegas Ibnu Susilo, Ketua Asosiasi Industri Automotif Nusantara (Asia Nusa) kepada CNN Indonesia, Sabtu (7/2).

Ibnu mengatakan, saat ini pihaknya tengah mengembangkan sedikitnya 3 produk mobil yang hampir 90 persen komponennya berasal dari dalam negeri (local content). Ketiga produk mobil tersebut meliputi Tawon, FIN Komodo dan GEA yang saat ini tengah dijajaki di pasar domestik. Selain itu, terdapat pula beberapa pengembangan produk mobil berbasiskan energi ramah lingkungan seperti mobil listrik ciptaan Dasep Ahmadi hingga mobil Wakaba, Borneo dan Kancil.

Mobil Nasional GEA dari Asia Nusa

Berangkat dari hal tersebut, ia pun mendesak Presiden Jokowi untuk lebih mengedepankan kepentingan industri dalam negeri untuk merealisasikan program mobil nasional. “Kalau pada akhirnya Presiden lebih memilih (produsen) Malaysia dalam mobnas, berarti beliau tidak percaya dan menghargai kemampuan anak bangsa. Kami itu sudah memiliki roadmap industri mobil nasional hingga 21 tahun mendatang sejak 2010, tinggal dievaluasi bersama saja kalau ada kekurangan,” cetusnya.

Proton Lekir

Dalam roadmap Asianusa, terang Ibnu, program mobil nasional yang ia rancang dibagi kedalam tiga tahap yakni Bayi, ABG (Anak Baru Gede), dan Remaja. Pada tahap pertama atau Bayi, program mobnas diawali dengan upaya riset serta penyempunaan pada produk yang dihasilkan. Sedangkan pada tahap kedua atau ABG, program mobnas akan memasuki tahap uji typing, riset pasar hingga menjalin kerjasama mengenai pembiayaan. Barulah pada tahap ketiga atau Remaja, tahapannya meliputi produksi masal hingga penawaran ke pasar dalam dan luar negeri.

Proton Lekir Malaysia

“Agak aneh juga, sewaktu di Solo dulu beliau sangat mendukung Mobil Asemka yang dibuat oleh teman-teman SMK. Tapi kenapa sekarang jadi tidak konsisten begini,” sesal Ibnu.

Pengamat kebijakan publik, Darmaningtyas menambahkan, dengan mendukung program mobnas yang dirintis pelaku industri otomotif domestik pemerintah akan memperoleh keuntungan lebih, diantarannya peningkatan angka local content. “Akan berbeda ketika perusahaan asing diundang kesini dan membuat pabrik mobilnya disini. Walau konsekuensinya program mobnas domestik akan lebih lama direalisasikan, tapi keuntungan dan kebanggaanya akan lebih besar,” tutur Darmaningtyas. (CNN Indonesia).