OPINI : REGU SENAPAN

tni

Pendahuluan

Sepertinya artikel blog selalu pespur saja, karena itu penulis mencoba melontarkan gagasan lain terkait dengan AD, yaitu peningkatan firepower regu senapan. Sebagai satuan terkecil infanteri, logis kalau kita mulai dengan regu senapan (rifleman squad).

Sedikit Tentang Konsep Raider

Sebelumnya baik kita melihat pendidikan & pelatihan raider AD yang sepertinya telah menjadi wajib dilaksanakan setiap tahun. Berapa lama dan besar biaya yg dibutuhkan untuk melatih kurang lebih 300.000 prajurit, kalau setiap pelatihan hanya dilatih 350 orang?

Sejak pemberontakan RMS sampai sekarang, dimana kita kagum terhadap kehebatan Baret Hijau ex KNIL, TNI terutama AD belum bisa lepas dari kultur pasukan khusus. Pada pemberontakan PRRI/ Permesta, Trikora dan Dwikora pasukan khusus menjadi alat yg menentukan untuk mendobrak/ mengobrak-abrik musuh sebelum pasukan reguler diturunkan. Sehingga makin tertanam di kultur AD pasukan khusus yg tidak lagi menjadi khusus tapi berubah menjadi reguler berbentuk Resimen seperti Cakrabirawa dan RPKAD/ Kopasus, dan akhirnya menjadi alat penguasa/ diktator dalam mempertahankan kekuasaannya. Sifat khususnya sudah hilang berbalik menyedot pembiayaan dan sumberdaya sehingga pasukan reguler terlupakan.

Pada masa pemberontakan DI/TII batalyon-batalyon Siliwangi yang ditugasi telah secara intuitif meresap konsep yg dikenal sebagai “adu bako” dan menggunakannya secara efektif untuk memberantas DI/TII. Dimanapun ditugaskan, contoh peristiwa Kahar Muzakar dan GAM, batalyon-batalyon Siliwangi selalu menggunakan konsep “adu bako” secara berhasil. Kemungkinan besar konsep “adu bako” ini adalah cikal bakal konsep “Sandhi Yudha” yang sekarang dikenal. Namun sepertinya AD lupa karena dalam penerapannya, seperti pada pendidikan Raider, terlalu menekankan “Yudha” dan mengabaikan “Sandi”.

Kembali kepada konsep raider ”meningkatkan profesionalisme prajurit Yonif menjadi prajurit yang memiliki kualifikasi Raider, yaitu prajurit yang memiliki kemampuan untuk bergerak di segala bentuk medan maupun cuaca dengan mengutamakan unsur pendadakan melalui operasi Raid. Adapun tiga kemampuan yang harus dikuasai oleh prajurit Raider meliputi kemampuan sebagai pasukan anti teror, kemampuan gerilya, dan kemampuan kontra gerilya untuk mengatasi pemberontakan atau gerakan separatis.” Tidak ada tertulis di situ kemampuan untuk menghadapi infanteri reguler lawan kalau ada perang terbuka. Zaman sekarang, anti teror sudah merupakan tugas utama Kepolisian RI; kemampuan gerilya, dan kontra gerilya adalah pikiran yang pesimis, kuno dan defeatisme. Justru kita harus berpikir bagaimana pelatihan infanteri reguler kita untuk melawan infanteri reguler musuh yg menginvasi kita. Kalau toh sampai pada tahap gerilya, kita sudah punya cukup pasukan khusus baik Kopasus maupun Kostrad sebagai inti plasma yang akan memimpin dan melatih perang gerilya. Pelatihan kualifikasi Raider untuk semua Yonif tidak tepat sasaran, makan waktu lama dan biaya besar menyedot sumberdaya dan anggaran kita yg terbatas.

Jangan salah, pasukan khusus tetap diperlukan, tetapi seperti namanya, bersifat khusus, bukan dalam formasi reguler.

Regu Senapan

Karena itu sebaiknya energi dan sumberdaya yang ada dikonsentrasikan untuk melatih dan melengkapi Yonif reguler yang mungkin bisa dimulai dari satuan terkecil yaitu regu senapan. Salah satu pertanyaan yang mungkin timbul, apakah regu senapan kita sudah efektif dalam fire power? Ingat bahwa Yonif kita mungkin akan sering beroperasi tanpa bantuan Armed, heli tempur, AU atau AL; atau bantuan fire power yang diharapkan tidak tersedia pada waktu yang diperlukan. Ada tren yang menarik yang perlu disimak : US Army dan British Army telah mengkombinasikan kaliber 7,62 mm NATO dan kaliber 5,56 mm dalam unit infanteri terkecilnya yaitu regu senapan sesuai pengalamannya di Afghanistan. Sedangkan Rusia baru-baru ini telah memilih senapan barunya dalam 2 kaliber, yaitu 5,45×40 mm dan 7,62×39 mm (kembali ke AK-47 dan RPD). Apakah artinya ini? Artinya bahwa dalam pengalaman operasi pertempuran kaliber kecil banyak kekurangannya, antara lain hanya mampu melukai/ menewaskan lawan dalam jarak terbatas maksimum 300 m. Pada medan terbuka, seperti gurun, laut, pantai, sawah, perkebunan, savana menjadi tidak efektif lagi.

Pada medan tertutup pun seperti hutan bambu atau hutan lebat, kaliber kecil akan lebih mudah terdefleksi oleh dedaunan daripada kaliber besar. Pada perang kota, dimana sebelumnya pada regu yang lama tidak ada, GPMG dan RPG akan menjadi base of fire dan sisa regu akan menjadi elemen manuver.

Gambar 1 Satu pantai bisa berkilometer jauhnya
Gambar 1 Satu pantai bisa berkilometer jauhnya
Gambar 2 Satu area sawah bisa berkilometer jauhnya
Gambar 2 Satu area sawah bisa berkilometer jauhnya
Gambar 3 Satu area kebun bisa berkilometer jauhnya
Gambar 3 Satu area kebun bisa berkilometer jauhnya

Oleh karena itu, disini ada usul untuk menambah fire power regu senapan tanpa menambah anggota regu namun dengan mengubah senjata untuk anggota regu tertentu, sebagai berikut :

DanRu SS-1/2 kal 5,56 mm
WaDanru SS-1/2 kal 5,56 mm

Penembak SMR GPMG SM-2 7.62mm
Pembantu SMR SS-1/2 kal 5,56 mm

Penembak RPG RPG-7 + 3 roket
Pembantu RPG SS-1/2 kal 5,56 mm + 3 roket
Pembantu RPG SS-1/2 kal 5,56 mm + 3 roket

Penembak senapan SS-1/2 kal 5,56 mm
Penembak senapan SS-1/2 kal 5,56 mm
Penembak senapan SS-1/2 kal 5,56 mm

Catatan : SS-1/2 dan GPMG SM-2  telah diproduksi Pindad. Untuk RPG-7, harganya murah dan konstruksinya sederhana, Pindad pasti tidak kesulitan untuk produksi termasuk roket granatnya. Setahu penulis, TNI AD telah membeli Carl Gustav M2/3 (dan juga Javelin?) anti tank tapi pasti lebih mahal dari RPG-7, karena itu jumlahnya sedikit dan hanya diberikan pada satuan tertentu.

Gambar 4 GPMG SM-2 Pindad
Gambar 4 GPMG SM-2 Pindad
Gambar 5 RPG-7V + PGO-7 telescope sight + granat PG-7VM
Gambar 5 RPG-7V + PGO-7 telescope sight + granat PG-7VM
Gambar 6 PG-7VL HEAT granat
Gambar 6 PG-7VL HEAT granat
Gambar 7 PG-7VR tandem (dual-warhead) HEAT granat
Gambar 7 PG-7VR tandem (dual-warhead) HEAT granat
Gambar 8 TBG-7V Thermobaric (FAE) granat
Gambar 8 TBG-7V Thermobaric (FAE) granat
Gambar 9 OG-7V fragmentation antipersonnel granat
Gambar 9 OG-7V fragmentation antipersonnel granat

Penutup

Dengan perubahan seperti diusulkan di atas, fire power regu senapan dan selanjutnya Yonif akan meningkat berlipat ganda, di medan terbuka atau tertutup, dan yang paling penting dengan biaya yang cost effective. Regu senapan yang baru akan memberikan peningkatan mampu bertempur dalam segala medan, dan dalam skala tertentu mampu menghancurkan kendaraan lapis baja musuh serta menggantikan peran senjata bantuan mortir dan Armed. Kerugiannya logistik bertambah, tapi toh amunisi GPMG juga diperlukan bagi Kompi Markas/ Bantuan.

(by Antonov).

Sharing

Tinggalkan komentar