Modernisasi TNI AL Terus Berlanjut

Kapal Selam Changbogo Korea Selatan (Photo: MC2 Benjamin Stevens/United States Navy)

Program modernisasi alutsista TNI AL terus berlanjut guna mendukung agenda pemerintahan Jokowi-JK menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Kasal Laksamana Ade Supandi mengatakannya dalam acara ramah-tamah dengan Jurnalis di Mabes TNI AL Jakarta, Jumat (27/2). Ade mengatakan, dia terus melanjutkan beragam program yang dirintis Laksamana (Purn) Marsetio.

“Kapal selam sudah bisa bersandar di pangkalan kapal selam di Teluk Palu, Sulawesi Tengah. Perlengkapan pendukung berteknologi tinggi sedang diselesaikan. Pengadaan kapal-kapal baru terus dilanjutkan, seperti kapal hidro oseanografi hingga kapal latih pengganti KRI Dewaruci,” kata Laksamana Ade.

Kapal hidro oseanografi terbaru TNI AL (photo : Cabaude)

Ade menjelaskan kapal hidro oseanografi buatan Perancis akan berlayar ke Indonesia pada April 2015. Kapal itu dijadwalkan tiba di Tanah Air sekitar Juni 2015.

TNI AL juga membangun kembali kapal latih pengganti KRI Dewaruci dengan model yang sama. Kapal bertiang layar tinggi sepanjang 78 meter tipe Brigantine, lebih panjang 20 meter dari Dewaruci, dibangun di galangan kapal di Spanyol dan diperkirakan selesai pada 2017.

Design kapal layar pengganti KRI Dewaruci (image : OliverDesign)

Sementara KRI Dewaruci akan menjadi museum terapung sebagai penghormatan atas tradisi maritim Indonesia. Kapal-kapal perang lain turut dibangun, seperti KRI Teluk Bintuni untuk mengangkut MBT Leopard di galangan kapal dalam negeri.

Kapal LST KRI Teluk Bintuni (photo : Saibumi)

Ade meminta jajaran TNI AL tetap terbuka kepada media masa dan terus membangun kepercayaan publik terhadap profesionalitas mereka. TNI AL siap menegakkan kedaulatan Indonesia di Lautan, termasuk penanganan pencurian ikan oleh kapal asing.

Ekspansi Pindad

BUMN produsen kendaraan tempur, persenjataan, dan amunisi yang berbasis di Bandung Jawa Barat, PT Pindad, fokus mengembangkan amunisi kaliber besar. Program ini bertujuan mengurangi ketergantungan kepada luar negeri dalam teknologi Industri pertahanan hingga menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat.

“Amunisi kaliber besar seperti 20 milimeter, 40 milimeter, 76 milimeter, 90 milimeter, dan 105 milimeter dibuat di Turen, Malang Jawa Timur. Sejauh ini amunisi berukuran 105 milimeter sudah disertifikasi Kementerian Pertahanan dan TNI AD,” kata Dirut PT Pindad Silmy Karim saat menerima Menteri Perindustrian Saleh Husein dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago di Kota Bandung.

Selain melihat beragam amunisi kaliber besar, Silmy juga mengajak Saleh dan Andrinof meninjau produksi kendaraan tempur Badak dan Anoa.

Pindad mendapat suntikan modal Rp 700 miliar dari APBN-P 2015, Saleh Husein mengatakan semangat Pindad harus mendapat dukungan semua pihak. Ia mengimbau semua instansi pemerintah memprioritaskan produksi dalam negeri. (Kompas)